Font Size
15px

Darah Serina mbasahi tanah berbatu di bawahnya, warnanya ncolok di tengah cahaya obor yang bergoyang tertiup angin malam.

Kaelen berlutut di sampingnya, nahan tubuh sahabatnya yang mulai lemah.

"Tetap bersamaku," bisiknya, nada suaranya pecah.

Serina maksakan senyuman—senyuman tipis, getir, tapi penuh tekad.

"Aku tidak... akan... mati... sebelum kau... nyelesaikannya."

Napasnya berat, terputus-putus. Tangannya nggenggam busur erat, seolah enggan lepaskan satu-satunya bagian dari dirinya yang masih berperang.

Eryon berdiri hanya beberapa langkah jauhnya.

Topengnya telah terlepas, mperlihatkan wajahnya—lelah, penuh amarah, dan rasa bersalah yang saling bertabrakan.

"Aku tidak ingin ini terjadi," katanya, suaranya serak. "Kaelen... kau harus ngerti. Ini satu-satunya jalan."

Kaelen ndongak perlahan, sorot matanya berubah njadi tajam seperti pisau.

"Kau nikam sahabatku, Eryon," katanya pelan, setiap kata lebih berat dari palu perang. "Apa yang harus kupahami dari itu?"

Eryon negakkan tubuhnya, ski luka dan debu nodai jubahnya.

"Aku berjuang untuk dunia yang lebih baik!" teriaknya. "Untuk dunia di mana tidak ada lagi pertempuran, tidak ada lagi kegelapan!"

Lyra berdiri di samping Kaelen, wajahnya tegang.

"Dengan mbunuh orang-orang yang mpercayaimu?" katanya tajam. "Itu bukan dunia baru, Eryon. Itu dunia yang sama dengan yang ingin kita hancurkan."

Kerumunan mulai rapat. Sebagian besar bingung, ragu siapa yang harus reka percayai. Beberapa mulai berteriak nama Kaelen, mohon kejelasan.

Alden, yang berdiri di belakang, berteriak.

"Kaelen! Kita tak punya banyak waktu!"

Kaelen bangkit perlahan, tubuhnya getar—bukan karena takut, lainkan karena amarah dan kehilangan yang bergulat di dalam dadanya.

Ia ngangkat pedangnya, ngarahkannya ke Eryon.

"Pilihanmu," katanya dingin. "nyerah... atau berjuang."

Eryon tertawa getir.

"Aku tidak bisa nyerah. Kau tahu itu."

"Aku tahu," balas Kaelen. "Tapi aku tetap mberimu kesempatan."

Mata Eryon berkaca-kaca—sejenak, Kaelen lihat sekilas sahabat lamanya yang dulu ia kenal, sebelum dunia renggut reka berdua.

Tapi mon itu berlalu.

Dengan teriakan penuh putus asa, Eryon nerjang.

Pedang reka bertemu dengan dentang keras, percikan api mancar ke udara malam.

Kaelen nghindari tebasan liar Eryon, mbalas dengan serangan cepat yang hampir ngenai lengan Eryon.

reka bertarung bukan hanya dengan pedang—tapi dengan seluruh rasa sakit, pengkhianatan, dan cinta yang pernah reka miliki untuk satu sama lain.

"Kau selalu berpikir kau lebih baik dariku!" teriak Eryon, nebas ke arah Kaelen.

"Aku tidak pernah ingin lebih baik," Kaelen mbalas, nahan serangan itu. "Aku hanya ingin kita sama-sama bebas."

Serina, dari tanah, berusaha ngangkat busurnya ski tangannya getar.

Lyra berlutut di sampingnya, berusaha nghentikan pendarahan.

"Bertahan, Serina," bisik Lyra. "Kami butuh kau."

Kaelen akhirnya nemukan celah.

Satu gerakan cepat—pedangnya nebas pedang Eryon, njatuhkannya ke tanah.

Eryon jatuh berlutut, napasnya tersengal.

Kaelen ngangkat pedangnya, siap ngakhiri pertarungan.

Tapi tangan Eryon terangkat.

Bukan untuk nyerang.

Untuk nyerah.

"Lakukan," katanya pelan. "Aku pantas ndapatkannya."

Kerumunan nahan napas.

Serina berbisik dari tanah.

"Kaelen... jangan jadi monster... seperti reka..."

Kaelen jamkan mata.

Seluruh tubuhnya bergetar.

Amarah. Duka. Kehilangan.

Semuanya berbaur jadi satu.

Dengan satu gerakan tegas, Kaelen nurunkan pedangnya.

Bukan untuk mbunuh.

Untuk nancapkannya ke tanah.

"Aku tidak akan mbunuhmu, Eryon," katanya, suaranya parau. "Aku tidak mbunuh masa laluku."

Kerumunan ledak dalam sorakan—bukan karena kenangan, tapi karena harapan.

Lyra nangis dalam diam.

Alden nepuk bahu Kaelen dengan bangga.

Eryon terjatuh sepenuhnya, nangis dalam keheningan, kehilangan segalanya kecuali hidupnya sendiri.

Kaelen berlutut di samping Serina, nggenggam tangannya.

"Aku janji," bisiknya. "Aku akan nepati apa yang kita mulai. Aku tidak akan biarkan semua ini sia-sia."

Serina tersenyum samar.

"Kalau kau berani bohong... aku akan datang nghantui."

Kaelen tertawa pendek, matanya basah.

Di atas reka, bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu di langit malam.

reka bertarung.

reka berdarah.

reka kehilangan.

Tapi untuk pertama kalinya, reka benar-benar milih jalan reka sendiri.

Dan itu baru permulaan.

You are reading The Shattered Light Chapter 131: – Darah dan Janji on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Slime True Immortal cover
Similar genre

Slime True Immortal

肚子有点胀 ·Fantasy

Spring—aseasonofrenewalandrebirth.Intheswampforest,magicalbeastswerebeginningtostir.Onthereed-linedriverbanks,beastkinsharpenedsticksandsettraps,ly...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.