ƒreewebηoveℓ
Malam telah turun di atas kota kuno itu, nyelimuti bangunan-bangunan batu dengan kegelapan pekat.
Kaelen, Lyra, Serina, dan Alden bersembunyi di balik reruntuhan sebuah nara kecil yang nghadap ke alun-alun utama. Dari tempat persembunyian reka, reka bisa lihat kerumunan yang mulai berkumpul—dipimpin oleh para prajurit Cahaya dan Kegelapan yang berpura-pura bermusuhan, sesuai rencana Elvior dan para Tetua.
"Besok reka akan lakukan ’serangan’ palsu," kata Kaelen pelan, suaranya nahan amarah. "Dan itu akan micu perang selama berabad-abad."
Serina ngencangkan tali busurnya. "Kita harus nghentikannya. Di sini. Sekarang."
Alden ngangguk, natap kerumunan dengan mata yang mbara. "Akhirnya sesuatu yang bisa kupukul."
Lyra, bagaimanapun, tetap diam. Ia natap liontin di dadanya, seolah ncari kekuatan di dalam dirinya sendiri.
"Bagaimana?" tanyanya akhirnya. "Bagaimana kita nghentikan ini tanpa nghancurkan segalanya?"
Kaelen natap ke kejauhan, ke arah bayangan Elvior yang tengah berpidato penuh semangat.
"Dengan nunjukkan pada reka kebenaran. Di depan semua orang."
Serina ndecak.
"nunjukkan kebenaran? Di tengah kerumunan yang sudah dicuci otaknya?"
Kaelen ngangguk, tekad mbakar suaranya.
"Kalau kita bisa mbongkar kebohongan itu di depan umum, nunjukkan bahwa para pemimpin reka bersekongkol... mungkin, hanya mungkin, kita bisa ncegah perang ini sebelum dimulai."
Alden tertawa sinis.
"Dan kalau tidak? Kita dibakar hidup-hidup sebagai pengkhianat."
"Pilihan yang lebih baik daripada tinggal diam," kata Kaelen, suaranya keras.
Semua hening sejenak.
Akhirnya, Serina tersenyum tipis.
"Kau tahu aku tidak bisa nolak rencana bunuh diri yang brilian."
Alden nepuk pundak Kaelen.
"Kalau kita mati, pastikan kita mati keren."
Lyra natap reka satu per satu, lalu nghela napas.
"Baik. Kita lakukan ini."
reka bergerak cepat.
Lyra dan Alden nyusup ke balik panggung, ncari jalan ke ruang kontrol suara tempat reka bisa ngganggu pidato Elvior.
Sentara itu, Kaelen dan Serina nyelinap ke antara kerumunan, ncari saksi-saksi kunci—para pengikut setia Cahaya dan Kegelapan yang sebenarnya ngetahui konspirasi ini.
Kaelen ndekati seorang lelaki tua berjubah abu-abu, yang ia kenali dari pembicaraan sebelumnya—salah satu perancang ’serangan’ palsu.
"Kau tahu apa yang akan terjadi, bukan?" bisik Kaelen di telinga pria itu.
Pria itu terkejut, noleh dengan ketakutan.
"Diam!" desisnya. "Kalau kau tahu yang terbaik, pergi dari sini."
Kaelen natap lurus ke matanya.
"Aku di sini untuk nghentikan ini. Dan kalau kau tidak mau, maka kau akan ikut tenggelam bersama kebohongan reka."
Wajah pria itu berubah pucat.
Serina ndekat, anak panah sudah siap di busurnya.
"Pilih: kebenaran, atau darah."
Di balik panggung, Lyra berhasil mbobol alat komunikasi yang digunakan Elvior. Tangannya getar, tapi ia berhasil nyambungkan suara reka ke pengeras suara utama.
"Kaelen," suaranya terdengar lewat alat komunikasi kecil, "aku siap."
Kaelen berdiri di atas kotak kayu, narik napas dalam-dalam.
Lalu dia berbicara.
"Rakyat Solace!" serunya, suaranya nggelegar nuhi alun-alun. "Dengarkan aku!"
Kerumunan berbalik natapnya. Mata-mata curiga, marah, bingung.
Elvior noleh tajam dari atas panggung.
"Siapa kau?" raung Elvior, ncoba nutupi pengeras suara.
Kaelen ngangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Aku seseorang yang tahu kebenaran! Dan kalian semua layak ngetahuinya juga!"
Lyra, dari balik panggung, mutar rekaman pembicaraan rahasia yang reka curi tadi—suara Elvior dan Grandmaster Kegelapan, mbicarakan tentang ’serangan’ palsu.
Suara itu nggema di seluruh alun-alun.
Semua mbeku.
Teriakan pecah di antara kerumunan. Beberapa orang berteriak marah, yang lain berlari ketakutan. Prajurit-prajurit mulai panik, saling tuduh.
Elvior ncoba ngendalikan situasi, berteriak:
"Itu bohong! Fitnah! reka adalah agen Kegelapan!"
Tapi terlalu terlambat.
Benih keraguan telah ditanam.
Alden, yang kini berdiri di samping Kaelen, ngangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"Tidak ada lagi Cahaya palsu! Tidak ada lagi Kegelapan palsu! Hanya kebebasan yang nyata!"
Kaelen natap kerumunan yang kacau—wajah-wajah yang ketakutan, marah, bingung.
"Kalian punya pilihan!" serunya. "Terus hidup dalam kebohongan! Atau ambil hidup kalian kembali!"
Saat situasi tampak mbaik, dari sisi panggung, seorang pria bertopeng nyerang—lemparkan tombak langsung ke arah Kaelen.
Serina bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Ia ndorong Kaelen ke samping.
Tombak itu nembus bahu Serina.
Dia jatuh berlutut, darah ngalir deras.
"SERINA!" teriak Kaelen, nangkapnya sebelum tubuhnya nyentuh tanah.
Serina tersenyum lemah.
"Jangan... berhenti... sekarang..."
Kaelen nahan emosi yang nggelegak. Ia bangkit, mandang pria bertopeng itu—mata reka bertemu.
Dan di balik topeng itu...
Eryon.
Kaelen nggenggam pedangnya lebih erat.
Di satu sisi, masa lalu nghantuinya.
Di sisi lain, masa depan masih belum pasti.
Tapi satu hal jelas: tak ada jalan kembali.
Dengan teriakan perang, Kaelen mimpin reka ke dalam kerumunan—bukan untuk mbalas dendam, tapi untuk rebut masa depan yang seharusnya milik reka sendiri.
Api pemberontakan telah nyala.
Dan dunia tidak akan pernah sama lagi.
Reviews
All reviews (0)