Font Size
15px

Cahaya dari portal itu nyelimuti reka, bukan seperti cahaya biasa, lainkan seperti kabut cair yang dingin dan berat. Sensasinya aneh — seolah tubuh reka tidak berjalan, lainkan layang di antara serpihan waktu yang berguguran.

Kaelen nggenggam erat tangan Lyra, mastikan ia tidak terlepas.

Serina di sisi lain, wajahnya tegang, tangannya tetap dekat pada busurnya. Alden, ski ncoba bersikap santai, matanya terus bergerak, ncari ancaman yang mungkin tersembunyi di balik kilatan-kilatan mori.

"Aku benci tempat-tempat seperti ini," gumam Alden, suaranya ngambang di udara yang tidak nyata. "Tidak ada yang bisa dipukul."

Serina ndengus kecil. "Tenang saja. Begitu keluar, aku yakin akan ada cukup banyak yang bisa kau pukul."

Lyra noleh pada Kaelen, suaranya rendah.

"Kau yakin ini jalan yang benar?"

Kaelen ngangguk, ski hatinya diliputi keraguan.

"Aku tidak tahu apa yang akan kita temukan, Lyra. Tapi kita harus tahu."

Perasaan layang itu tiba-tiba berhenti.

reka terjatuh ke tanah keras, ngguncang tubuh reka.

Saat Kaelen mbuka matanya, ia ndapati dirinya berdiri di tengah alun-alun kota yang ramai.

Tapi ini bukan kota yang ia kenal.

Orang-orang berpakaian berbeda — jubah panjang, lambang Cahaya dan Kegelapan berdampingan di dada reka. Tak ada tembok pemisah. Tak ada penjaga bersenjata berpatroli.

Hanya kehidupan... normal.

Seolah dunia ini belum tercemar oleh kebencian.

Serina nyipitkan mata, ncoba mahami.

"Ini... sebelum perang besar," katanya.

Alden berjongkok, riksa batu jalanan.

"Lihat ini. Tidak ada retakan. Tidak ada tanda-tanda pertempuran."

Lyra berjalan perlahan, matanya mbesar saat ngenali sebuah nara tinggi di ujung alun-alun.

"Itu... itu nara Solace," bisiknya. "Tapi... di zaman kita, nara itu hancur."

Kaelen ngangguk perlahan.

"Kita benar-benar di masa lalu."

reka bergerak nyusuri jalanan, berusaha berbaur.

Tapi ada sesuatu yang salah.

Mata-mata orang-orang. Cara reka berbicara berbisik. Cara reka cepat-cepat nghindari pandangan satu sama lain.

"Tempat ini kelihatan damai di luar," gumam Alden, "tapi sesuatu bersembunyi di bawah permukaan."

reka tiba di pusat alun-alun, di mana sebuah pengumuman akan segera dibacakan.

Orang-orang berkumpul, dan di tengah panggung berdirilah seorang pria berwibawa dengan jubah putih-emas—seorang yang ngenakan lambang Ordo Cahaya di dadanya.

Kaelen nahan napas saat ngenali sosok itu.

"Itu... Grandmaster Elvior," katanya, suara bergetar.

Tapi bukan Elvior tua yang reka kenal. Ini Elvior muda — gagah, penuh karisma, dengan sorot mata mbakar penuh keyakinan.

"Ini sebelum dia... sebelum dia njadi monster," gumam Lyra, matanya basah.

Elvior ngangkat tangan.

"Rakyat sekalian!" serunya, suaranya nggema. "Kita berdiri di ambang era baru! Era di mana Cahaya dan Kegelapan tak lagi berperang, lainkan berpadu!"

Kerumunan bertepuk tangan.

"Tapi ada reka," lanjut Elvior, nadanya berubah gelap, "yang ingin mpertahankan kekacauan! Yang takut akan perdamaian! reka bersembunyi di bayangan... nghasut... nghancurkan kepercayaan kita!"

Sorakan berubah njadi teriakan kemarahan.

Kaelen bertukar pandang dengan Lyra.

"Dia... manipulasi reka," bisik Kaelen. "nanamkan rasa takut."

Serina nggeram rendah. "Biasa. Ciptakan musuh imajiner. Pimpin lewat ketakutan."

Saat reka berbalik untuk pergi, Kaelen bertabrakan dengan seorang wanita berambut cokelat muda yang sedang terburu-buru.

Mata reka bertemu.

Dan dunia Kaelen mbeku.

"Ibu..." bisik Kaelen, terengah.

Wanita itu — Elara Draven — masih muda, wajahnya berseri-seri dengan harapan. Tak ada tanda kelelahan atau ketakutan yang Kaelen ingat dari masa kecilnya.

"Maafkan saya," katanya sopan sebelum berlari pergi.

Kaelen berdiri terpaku, napasnya pendek.

Lyra nyentuh lengannya lembut.

"Kaelen... kita tidak bisa ngubah masa lalu."

Kaelen nutup matanya, berusaha nahan gelombang emosi yang ngancam nguasainya.

"Aku tahu," bisiknya. "Tapi lihatnya... begitu hidup... rasanya seperti mimpi yang hampir bisa kupegang."

reka terus berjalan, sampai nemukan lorong gelap di belakang nara Solace.

Di sana, dalam bayang-bayang, reka ndengar percakapan yang mbuat darah reka mbeku.

"Kita harus mpercepat rencana," kata suara pria, berat dan dingin.

"Tapi rakyat belum siap," suara lain mbalas, terdengar gugup.

"Kalau reka tidak siap, kita buat reka siap. Satu ’serangan’ kecil di pasar besok, dan reka akan nyerahkan kebebasan reka dengan tangan terbuka."

Kaelen ngenali suara pertama.

Itu Elvior.

Dan saat ia ngintip ke balik dinding, ia lihat Elvior berbicara dengan... Grandmaster Kegelapan.

Kaelen mundur, hatinya berdegup keras.

"reka... bersekongkol," katanya, hampir tak percaya. "Cahaya dan Kegelapan. reka berdua manipulasi dunia."

Serina mukul dinding dengan tinjunya.

"Semua darah yang ditumpahkan... semua pengorbanan... sia-sia."

Alden nghela napas berat.

"Kita bertarung, kita mbenci, kita mbunuh... dan semua itu hanya permainan reka."

Lyra natap Kaelen, suaranya bergetar.

"Kalau semuanya kebohongan... apa yang tersisa untuk kita perjuangkan?"

Kaelen ngepalkan tangan.

"Kebenaran," katanya tegas. "Dan dunia yang benar-benar bebas dari bayangan reka."

reka saling bertatapan—dunia di sekeliling reka mungkin telah dibangun di atas dusta, tapi tekad reka nyata.

Dan untuk pertama kalinya, Kaelen rasa... reka akhirnya tahu apa yang harus dilakukan.

You are reading The Shattered Light Chapter 129: – Gerbang Waktu Terkunci on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.