Keheningan nelan ruangan itu setelah wanita berjubah hitam ngungkapkan kebenaran.
Kaelen berdiri mbeku. Serina negang, masih mbidik Elvior dengan busurnya. Alden nggenggam gagang pedangnya erat-erat, otot-ototnya bergetar karena amarah yang tertahan.
Dan Lyra...
Lyra natap ayahnya—atau makhluk yang pernah njadi ayahnya—dengan ekspresi patah hati yang terlalu dalam untuk diungkapkan dengan kata-kata.
"Permainan," ulang Lyra, suaranya nyaris bisikan. "Seluruh hidup kita... hanya pion di papan catur para Tetua?"
Wanita berjubah itu, yang kini berdiri kokoh di tengah ruangan, ngangguk perlahan.
"Tidak semua permainan harus diakhiri dengan kehancuran. Tapi jika kalian ingin mbebaskan dunia ini... kalian harus nghancurkan papan itu. Hancurkan aturan yang reka buat."
Serina nyipitkan mata, tak nurunkan busurnya sedikit pun.
"Dan kenapa kami harus percaya pada kata-katamu?"
Wanita itu tersenyum tipis.
"Karena aku dulu juga bidak. Sama seperti kalian."
Kaelen langkah maju, ngunci mata dengan wanita itu.
"Kalau kami nghancurkan ’papan’ itu... apa akibatnya?"
Wanita itu natapnya lama sebelum njawab.
"Kekacauan. Anarki. Dunia akan kehilangan arahnya. Tapi... untuk pertama kalinya, pilihan akan sungguh-sungguh njadi milik kalian."
Alden nggeram, suaranya penuh emosi.
"Atau dunia akan terbakar dan semua yang tersisa hanya abu."
"Mungkin," jawab wanita itu dingin. "Mungkin itu harga kebebasan sejati."
Lyra natap liontin di dadanya, yang kini bergetar pelan seolah rasakan keputusan yang akan diambil.
"Kita bisa terus hidup dalam kebohongan," katanya perlahan, "atau kita bisa ncoba sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya."
Serina nurunkan busurnya setengah.
"Dan kalau kita gagal?"
Kaelen njawab, suaranya tenang tapi tegas.
"Kalau kita gagal... setidaknya itu kegagalan kita sendiri. Bukan kegagalan yang dipilihkan untuk kita."
Elvior, yang selama ini diam, kini berbicara, suaranya lemah tapi penuh ancaman.
"Kalian pikir dunia ini bisa berjalan tanpa kekuatan yang ngendalikannya? Tanpa peta, semua akan tersesat. Kalian akan terseret dalam kegelapan yang jauh lebih buruk dari yang pernah kalian kenal."
Kaelen noleh padanya, sorot matanya keras.
"Mungkin mang begitu. Tapi lebih baik berjalan tersesat dengan kaki sendiri... daripada dituntun ke jurang sambil bermimpi kita berjalan di taman."
Lyra nahan air mata. Ia tahu: apapun yang reka pilih, reka tidak akan pernah kembali njadi diri reka yang dulu.
Wanita berjubah hitam nunjuk ke altar batu di tengah ruangan.
Di atasnya, sebuah benda berkilauan: Pedang Perjanjian—senjata kuno yang katanya bisa mutus ikatan dunia dengan para Tetua.
"Ambillah," kata wanita itu. "Gunakan untuk nghancurkan fondasi dunia lama."
Kaelen lirik ketiga temannya.
Alden ngangguk. "Apa pun yang terjadi, kita selesaikan ini bersama."
Serina ngencangkan genggaman busurnya. "Kalau kita mbakar dunia, setidaknya kita lakukannya karena kita milih, bukan karena dipaksa."
Lyra natap Kaelen, matanya penuh keyakinan.
"Aku bersamamu. Sampai akhir."
Kaelen nghela napas panjang. Lalu, dengan langkah mantap, ia berjalan ke altar dan raih Pedang Perjanjian.
Saat jemarinya nyentuh gagangnya, ledakan cahaya nuhi ruangan, mbuat semua nutup mata.
Tapi saat cahaya itu mudar, reka lihat sesuatu yang ngejutkan.
Di belakang altar, sebuah portal perlahan terbuka—bukan portal ke dunia Tetua, lainkan ke masa lalu.
Potongan-potongan sejarah dunia reka—kebenaran tentang Ordo Cahaya, tentang Kegelapan, tentang pengkhianatan pertama—semua berputar dalam pusaran.
Wanita berjubah hitam tersenyum tipis.
"Jika kalian ingin benar-benar bebas... kalian harus nghadapi masa lalu kalian terlebih dahulu."
Kaelen mandang portal itu, rahangnya ngeras.
"Tak ada jalan pintas, ya?"
Wanita itu nggeleng. "Tidak untuk hal-hal yang berarti."
Alden ngangkat pedangnya ke bahu.
"Baiklah. Siapa takut pada sedikit perjalanan waktu?"
Serina tersenyum miring, setengah pahit.
"Kalau sedikit, aku masih mau. Tapi aku rasa ini bakal jadi perjalanan yang panjang."
Kaelen ngangguk, lalu noleh ke Lyra.
"Kau yakin?"
Lyra ngangguk tanpa ragu.
"Aku kehilangan cukup banyak tanpa tahu alasannya. Kali ini... aku ingin tahu."
Kaelen nggenggam tangannya erat-erat.
Lalu, tanpa kata lain, reka langkah ke dalam portal bersama-sama.
ninggalkan dunia yang reka kenal.
ninggalkan segalanya yang nyaman.
nuju masa lalu—untuk nghadapi kebenaran yang telah lama dikubur.
Di belakang reka, reruntuhan itu bergetar. Dunia lama bergemuruh, seolah sadar bahwa fondasinya sebentar lagi akan runtuh.
Dan di depan reka, hanya ada ketidakpastian.
Tapi reka berjalan.
Karena untuk pertama kalinya, pilihan ada di tangan reka sendiri.
Reviews
All reviews (0)