Angin malam niup debu dan serpihan batuan kecil di antara reruntuhan kota tua itu, nciptakan suara bisikan samar yang mbuat bulu kuduk berdiri.
Kaelen, Lyra, Serina, dan Alden langkah perlahan lewati gapura runtuh yang dulu, mungkin, pernah njadi pintu gerbang gah nuju peradaban yang hilang.
reka semua diam.
Heningnya bukan karena takut — tapi karena masing-masing tahu: apa pun yang reka temukan di sini akan ngubah segalanya.
Dan mungkin, tidak ada jalan kembali.
"Tempat ini... terasa seperti kuburan," gumam Alden, nendang potongan patung yang separuh terkubur di tanah.
Serina berjalan di depan reka, matanya tajam riksa sekeliling.
"Lebih buruk," katanya tanpa noleh. "Ini adalah tempat di mana sejarah dikuburkan hidup-hidup."
Kaelen diam-diam nahan napas. Matanya terpaku pada simbol-simbol kuno di dinding—simbol Cahaya dan Kegelapan, berbaur, berputar, seolah saling mburu dalam tarian abadi.
Lyra berjalan di sampingnya, tangannya masih nggenggam liontin yang sekarang hanya berdenyut lemah.
"Aku kenal tempat ini," katanya tiba-tiba.
Semua berhenti.
Kaelen natapnya. "Apa yang kau ingat?"
Lyra jamkan mata.
"Aku pernah ke sini. Bersama... ayahku."
Elvior.
Nama itu layang di udara di antara reka, tak terucapkan tapi begitu berat sampai terasa.
reka nemukan sebuah pintu besar di ujung lorong utama — terbuat dari logam yang nyaris tak berkarat ski waktu telah nggerogoti segalanya.
Di tengah pintu, sebuah ukiran:
"Dalam Cahaya, kita bersembunyi. Dalam Kegelapan, kita terbuka."
Kaelen mbaca perlahan.
"Ini... bukan sekadar kuil Cahaya," gumamnya. "Ini... tempat perjanjian."
Serina ngernyit. "Perjanjian apa?"
Alden ndekat, ngetuk pintu dengan punggung belatinya. Bunyi hampa.
"Mungkin kita harus bertanya pada reka yang masih hidup," katanya setengah bercanda.
"Atau pada reka yang seharusnya sudah mati," balas Serina dingin.
Kaelen ndorong pintu itu perlahan, dan pintu berderit mbuka... mperlihatkan ruang bawah tanah luas, diterangi oleh cahaya biru samar dari kristal-kristal yang nempel di dinding.
Di tengah ruangan itu—tergeletak sebuah singgasana batu. Dan di atasnya, duduk sosok yang mbuat darah Kaelen mbeku.
Elvior.
Atau setidaknya, sesuatu yang nyerupai Elvior—kurus, pucat, matanya kosong natap langit-langit, seolah tubuhnya dikeringkan waktu.
Namun saat pintu berderit terbuka, kepala itu perlahan noleh ke arah reka.
"Akhirnya," suara itu serak, retak seperti kaca yang hampir pecah. "Pewaris darahku datang."
Lyra tertegun.
"Ayah...?"
Elvior—atau apa pun itu—tersenyum miring, wajahnya seperti topeng yang hampir jatuh.
"Aku sudah nunggumu, Lyra. nunggu saat kau cukup kuat untuk ngerti... ngapa dunia ini harus dihancurkan untuk diselamatkan."
Kaelen langkah maju, nghunus pedangnya.
"Kau nghancurkan segalanya—keluarga, desa, sahabat kami."
"Untuk mbangun sesuatu yang lebih baik," Elvior mbalas. "Cahaya itu... bohong. Kegelapan itu... dibuang. Tapi hanya dengan nggabungkan keduanya, dunia baru bisa lahir."
Lyra nggeleng, air mata nggenang di matanya.
"Kau mbunuh reka... ibuku... sahabatku... semua demi ide gilamu!"
Elvior tertawa—suara tawa yang kosong, hampa.
"Pengorbanan, anakku. Segala perubahan butuh pengorbanan."
Serina narik busurnya, natap Kaelen untuk instruksi.
Alden bergumam, "Satu kata darimu, dan aku ngakhiri ini."
Kaelen natap Elvior.
Tapi Lyra langkah maju, nghalangi reka.
"Tunggu."
Semua mbeku.
Lyra berjalan pelan ke arah Elvior. Cahaya liontin di lehernya berdenyut lebih terang.
"Kalau benar kau mau mbangun dunia baru," katanya pelan, "kenapa kau hancurkan yang lama tanpa pernah mberi kami pilihan?"
Elvior miringkan kepalanya, seolah baru ndengar pertanyaan itu untuk pertama kali.
"Pilihan?" gumamnya. "Pilihan itu ilusi. Kau pikir kebebasan itu nyata?"
Kaelen bergerak pelan ke samping, ndekati pilar batu di dekat singgasana. Ia tahu: saat Lyra bicara, itulah satu-satunya saat reka punya celah.
Tiba-tiba, dari balik bayangan, muncul sosok lain—seorang wanita tua berjubah hitam, matanya bersinar biru pucat.
"Cukup," katanya keras. "reka berhak tahu kebenaran."
Elvior noleh, ketakutan jelas di wajahnya.
Wanita itu berjalan ke tengah ruangan, suaranya berat.
"Elvior bukan satu-satunya. Ordo Cahaya... Kegelapan... semua ini permainan para Tetua. Permainan yang mbentuk kita njadi bidak catur."
Semua terpaku.
Lyra nggenggam liontinnya erat-erat.
"Jadi," katanya, suaranya bergetar, "kita ini... pion?"
Wanita itu ngangguk pelan.
"Dan saat pion-pion itu mulai bertanya... permainan berakhir."
Kaelen nurunkan pedangnya perlahan.
Dunianya—semua yang ia perjuangkan, semua yang ia benci, semua yang ia cintai—ternyata hanya bagian dari permainan orang lain.
Dan kini, reka punya pilihan:
neruskan permainan... atau nghancurkannya.
Reviews
All reviews (0)