Raksasa itu bergerak.
Setiap langkahnya mbuat tanah berguncang, batuan runtuh, dan udara bergetar dengan tekanan yang terasa sampai ke tulang. Dari kejauhan, ia tampak seperti kabut tebal yang mbentuk tubuh—tangan-tangan panjang keluar dari dadanya, masing-masing nggapai-gapai kosong, seperti ncari sesuatu yang sudah lama hilang.
Di depan monster itu, Kaelen berdiri tegak. Pedangnya terhunus. Cahaya gelap berkumpul di sekitarnya, mbentuk aura tipis yang berkedip-kedip.
Di sebelahnya, Lyra berdiri dengan liontin bersinar di dada, tangannya sedikit getar, tapi matanya penuh tekad.
Alden dan Serina nyusun posisi, mbentuk setengah lingkaran ngelilingi Kaelen dan Lyra, siap nyerang dari berbagai arah.
"Kita tidak bisa ngalahkan itu dengan kekuatan biasa," gumam Serina, matanya sempit, mperhitungkan setiap gerakan raksasa.
Kaelen ngangguk. "Aku tahu."
Alden nggeram. "Jadi apa rencananya? Kita bernyanyi dan berharap dia lenyap?"
Kaelen natap monster itu, lalu natap Lyra. Sebuah ide berkilat di benaknya—gila, berisiko, tapi mungkin satu-satunya harapan reka.
"Bukan bernyanyi," katanya. "nghadapkan dia pada apa yang dia cari: kenangan."
Serina letakkan satu tangan di pinggul, skeptis.
"Kenangan? Kita bahkan hampir kehabisan kenangan kita sendiri, Kaelen."
Kaelen berjalan ke arah Lyra.
"Batu Ingatan... liontinmu. Ia masih nyimpan pecahan morimu, Lyra. Kalau kau bisa nggunakannya... mungkin kita bisa ’nyajikan’ sesuatu pada monster itu."
Lyra ngerutkan kening, bingung dan takut.
"Tapi... aku bahkan belum tahu caranya."
"Kau tidak harus tahu," Kaelen njawab, suaranya lembut. "Kau hanya harus ngingat. Apa pun. Siapa pun."
"Aku takut," bisik Lyra.
Kaelen nyentuh pundaknya, tatapan reka terkunci.
"Semua orang takut saat harus ngingat hal-hal yang nyakitkan. Tapi itu yang mbuat kita hidup."
Raksasa itu ngaum, suara retakannya seperti dunia yang patah.
Tangan-tangannya lesat ke depan. Salah satu nghantam tanah tepat di dekat reka, lemparkan batu-batu besar ke udara.
Alden nggeram dan lemparkan tombaknya. Tombak itu nembus lengan monster, tapi segera tertelan bayangan dan jatuh ke tanah.
Serina nembakkan anak panah berkilau—ngenai kepala monster, mbuatnya terhuyung sejenak.
"Itu hanya mperlambatnya!" teriak Serina.
"Lyra, sekarang!" seru Kaelen.
Dengan tangan getar, Lyra gang liontin di dadanya dan jamkan mata.
Aku harus ingat...
Gambar-gambar mulai berkedip di pikirannya—tawa Kaelen, pelukan pertama reka, malam berbintang di atas padang rumput. Tapi juga rasa sakit: kehilangan orang tuanya, ditinggalkan, dikhianati.
Air mata ngalir di wajahnya.
Batu liontin mulai bersinar lebih terang, mbentuk spiral cahaya di udara.
Raksasa itu berhenti.
Tangan-tangannya yang liar lambat, seolah tersentak oleh sesuatu yang tak kasat mata.
Kaelen berteriak, nahan serangan dari satu tangan monster yang berusaha ncapainya.
"Kau lakukannya, Lyra! Teruskan!"
Lyra mbuka mata. Kini ia sepenuhnya dalam kendali. Cahaya dari liontin itu mbentuk wajah—wajah seorang anak kecil tersenyum, wajah seorang ibu, seorang ayah, seorang sahabat.
Bayangan raksasa itu bergidik. Tangan-tangan yang tadinya ronta kini mulai nyentuh gambar-gambar itu dengan lembut, hampir seperti... rindu.
Alden ndekat ke Kaelen. "Apa yang terjadi?"
Kaelen natap raksasa itu, matanya lembut.
"Dia... dia hanya ingin diingat."
Serina nurunkan busurnya perlahan, ekspresinya berubah dari ketegangan njadi keharuan.
"Semua monster," katanya pelan, "terkadang hanya butuh diakui keberadaannya."
Saat monster itu hampir sepenuhnya tenang, sebuah kenangan gelap nyembur dari Lyra—tanpa sengaja.
Wajah Elvior.
Kata-kata pengkhianatan.
Darah.
Seketika, raksasa itu ngaum lebih keras dari sebelumnya, tubuhnya bergetar hebat, dan bayangannya nghitam.
Serina berteriak, "LYRA! HENTIKAN!"
Lyra berusaha mutus aliran kenangan, tapi sudah terlambat. Monster itu sekarang bukan hanya rindu. Ia berubah njadi amarah.
Kaelen ngangkat pedangnya, nahan serangan dari tentakel bayangan yang nyerangnya.
"Alden! Serina! Fokus ke pergelangan kakinya! Lumpuhkan dia!"
reka nyerang serempak.
Kaelen berlari nuju Lyra yang mulai lemas.
"Kau harus ngingat sesuatu yang lebih kuat dari kebencian!" serunya.
"Aku... aku tak tahu harus apa!" isak Lyra.
Kaelen nggenggam wajah Lyra dengan kedua tangannya.
"Ingat aku."
Mata Lyra berkaca-kaca. Ia nutup mata, nggali ke dalam dirinya.
Di antara semua rasa takut, ada satu kenangan sederhana: tangan hangat yang nggenggamnya di malam badai. Suara yang berbisik: "Aku di sini. Aku selalu di sini."
Cahaya liontin ledak dalam gelombang kehangatan.
Monster itu njerit sekali lagi—tapi kali ini bukan jeritan marah, lainkan jeritan... lega. Tubuhnya perlahan-lahan nghilang njadi bintang-bintang kecil yang beterbangan di langit ndung.
Kaelen luk Lyra erat-erat.
Alden dan Serina terengah-engah, bersandar di reruntuhan.
"Kita berhasil," gumam Alden, setengah tidak percaya.
"Untuk saat ini," jawab Serina, suaranya berat.
Saat reka beristirahat di bawah langit yang mulai gelap, Lyra bersandar pada Kaelen, matanya berat.
"Aku takut kalau kenangan itu akan hilang lagi," katanya pelan.
Kaelen ncium keningnya.
"Kalau begitu, kita akan mbuat kenangan baru. Sebanyak yang kau mau."
Dan di bawah langit yang dipenuhi bintang-bintang kecil yang dulunya monster, reka berjanji dalam diam—bahwa ski dunia terus patah, reka akan terus mperbaikinya.
Satu kenangan, satu cinta, satu keberanian... sekali waktu.
Reviews
All reviews (0)