Font Size
15px

Matahari sudah tinggi ketika reka ninggalkan Benteng Elloren.

Langkah reka berat, seolah tiap batu dan rerumputan tahu bahwa ada sesuatu yang hilang di dalam diri reka. Dan tak hanya dari satu orang. Dunia reka, perlahan, mulai retak.

Di tengah barisan, Kaelen berjalan diam. Ia masih gang tangan Lyra, seolah takut jika lepaskannya, gadis itu akan kembali hilang ke dalam kabut kenangan yang lain.

Namun di dalam dadanya, kekosongan itu nyata.

Ia ncoba ngingat suara ayahnya, tawa ibunya—dan hanya nemukan kehampaan.

Seperti buku yang sobek dari halaman pertamanya.

Lyra ncuri pandang ke Kaelen. Ada kegelisahan di matanya.

"Kau... berubah," katanya pelan.

Kaelen ngalihkan pandangan ke langit, pura-pura sibuk ngamati burung yang lintas.

"Mungkin," jawabnya.

"Dulu," Lyra lanjutkan, suaranya ragu, "saat aku masih ingat sedikit tentangmu... ada kehangatan. Sekarang... ada dinding."

Kaelen nelan ludah. Ia tidak bisa nyangkalnya. Ia juga rasakannya. Dinding itu dibangun dari kenangan yang ia korbankan—dan kini berdiri di antara reka.

"Mungkin," katanya lagi, "karena sebagian diriku... hilang saat berusaha nyelamatkanmu."

Lyra berhenti berjalan. Ia narik napas panjang.

"Aku minta maaf."

"Jangan," potong Kaelen cepat. "Ini pilihanku."

reka bertatapan. Tak ada marah. Tak ada tuduhan. Hanya kesedihan—dalam bentuk yang paling telanjang.

Saat reka lanjutkan perjalanan, Alden yang mimpin, ndadak berhenti.

Serina, yang selalu siaga, langsung ngangkat busurnya.

"Apa itu?" bisik Alden.

Di kejauhan, di antara kabut tipis, terlihat bayangan bangunan. Tapi bangunan itu aneh—seperti mbusuk, sebagian runtuh, seolah dimakan dari dalam.

Lebih buruk lagi: bayangan manusia bergerak di sekitar reruntuhan itu, tapi tubuh reka berpendar aneh—seperti ilusi yang gagal.

"reka... bukan manusia biasa," gumam Serina.

Kaelen ngerutkan kening.

"Kenangan patah," katanya tanpa sadar.

Lyra noleh. "Apa maksudmu?"

Kaelen nunjuk ke depan.

"reka... pecahan dari ingatan dunia. Seperti bayangan dari masa lalu yang seharusnya sudah mati."

reka ndekat perlahan.

Salah satu bayangan bergerak cepat ke arah reka. Saat semakin dekat, Kaelen terperanjat.

Itu... Varrok.

Atau sesuatu yang nyerupai Varrok—mantan ntornya, yang sudah lama mati di tangan Ordo Cahaya.

Namun wajah Varrok ini pecah-pecah seperti kaca retak. Suaranya lengking saat berbicara:

"Kaelen... kenapa kau ninggalkanku...?"

Kaelen mundur setengah langkah, terhuyung.

Serina segera narik busurnya, mbidik.

"Itu bukan dia!" teriaknya. "Itu hanya bayangan!"

Kaelen nahan busur Serina.

"Jangan."

"Apa kau gila?!"

"Kalau kita hancurkan reka... kita nghancurkan bagian dari dunia ini."

Lyra ndekat, suaranya bergetar.

"Tapi kalau kita biarkan, dunia ini akan runtuh oleh bayangan kenangan itu sendiri."

Kaelen mandang pecahan-Varrok itu, yang kini berdiri pasrah di hadapannya.

"Aku minta maaf," bisik Kaelen.

Bayangan itu tersenyum tipis—retakan-retakan di wajahnya mbentuk ekspresi damai—sebelum perlahan-lahan nghilang njadi butiran cahaya kecil.

Serina nurunkan busurnya perlahan.

"reka hanya... ingin diingat," katanya lirih.

Alden, yang sejak tadi diam, bergumam:

"Kalau dunia ini kehilangan ingatannya... siapa yang akan ngingat kita?"

Tiba-tiba tanah bergetar.

Dari reruntuhan yang lebih jauh, sosok raksasa perlahan muncul. Bukan manusia. Bukan makhluk biasa.

Itu adalah gabungan dari ribuan kenangan patah, mbentuk monster raksasa tanpa wajah—dengan tangan-tangan yang ronta-ronta dari tubuhnya, berusaha raih apa pun yang hidup.

Serina berbisik:

"Kita punya masalah lebih besar."

Kaelen raih gagang pedangnya.

"Kita tidak bisa bertarung lawan masa lalu. Tapi mungkin... kita bisa nghadapinya."

Lyra berdiri di sampingnya, cahaya lembut mulai ngalir dari kulitnya.

"Aku bersamamu," katanya.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Kaelen tersenyum—bukan karena ia berharap nang, tapi karena ia tahu: ia tidak lagi sendirian.

reka bersiap nghadapi monster itu—bukan sebagai penyelamat dunia sempurna, tapi sebagai manusia yang patah, berusaha mperbaiki apa yang masih bisa diselamatkan.

Dan jauh di dalam hatinya, Kaelen berbisik pada dirinya sendiri:

"Aku mungkin telah lupakan awal perjalananku. Tapi aku tahu... untuk siapa aku terus berjalan."

You are reading The Shattered Light Chapter 125: – Kenangan yang Patah on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.