Langit nggantung berat di atas reka, awan abu-abu berputar pelan seperti raksasa yang tertidur. Di bawahnya, Kaelen, Lyra, Serina, dan Alden berjalan nembus jalanan berbatu nuju sebuah reruntuhan kuno yang nyaris terlupakan oleh waktu.
Benteng Elloren, demikian tempat itu disebut dalam kisah lama. Konon, di kedalaman reruntuhan itu tersembunyi Batu Ingatan—artefak kuno yang mampu ngunci atau mbangkitkan kenangan yang hilang.
Kaelen berjalan di depan, matanya tak lepas dari jalanan licin di bawah kakinya. Setiap langkah terasa berat, seolah dunia nuntut harga untuk setiap harapan kecil yang masih reka genggam.
Di belakangnya, Lyra berjalan dengan langkah ringan tapi ragu. Ia mandangi sekeliling dengan tatapan kosong, seperti anak kecil yang baru belajar dunia.
Serina ndekat ke Kaelen, suaranya serendah bisikan.
"Kau yakin ini akan berhasil?"
Kaelen ngangguk, ski keraguan nggerogoti hatinya.
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Tapi ini satu-satunya pilihan kita."
Sambil berjalan, Lyra bertanya pelan, suaranya hampir seperti doa yang hilang.
"Kenapa aku rasa... kosong?"
Kaelen noleh, natapnya lama sebelum njawab.
"Karena sebagian dirimu sedang bertarung untuk tetap bertahan."
Lyra nggenggam liontin di lehernya erat-erat. "Apa aku pernah... bahagia?"
Kaelen nahan napas. Ada seribu jawaban yang ingin ia berikan. Tapi akhirnya, ia hanya berkata:
"Pernah. Sangat."
reka tiba di depan gerbang batu setengah runtuh. Dinding-dinding hitam njulang, dipenuhi lumut dan celah-celah seperti luka lama.
Alden maju duluan, narik belati dari ikat pinggangnya.
"Kalau ada sesuatu yang nunggu di dalam, aku lebih suka kita yang nemukan reka duluan."
Serina ngangguk. "Biar aku jaga belakang."
Kaelen raih tangan Lyra, sejenak ragu. Tapi Lyra tak nolak. Ia mbiarkan dirinya dipandu, ski wajahnya nunjukkan kebingungan yang perih.
Benteng itu gelap. Suara langkah kaki reka nggema di sepanjang lorong batu yang dingin.
Di dinding, ukiran kuno bercerita tentang pertempuran lama: manusia lawan bayangan, cahaya lawan kehampaan.
"Tempat ini... terasa aneh," gumam Lyra.
"Ini tempat di mana banyak kenangan dimakamkan," jawab Kaelen pelan.
Serina nunjuk ke satu lorong sempit di sisi kanan.
"Sumber energinya dari sana."
reka ngikuti lorong itu hingga tiba di sebuah ruangan bundar. Di tengahnya, berdiri sebuah altar batu. Di atas altar itu, ngambang sebuah batu kristal biru pucat, berdetak perlahan seolah miliki denyut jantung sendiri.
Batu Ingatan.
Saat Kaelen langkah ndekat, ruangan bergetar.
Bayangan mbentuk sosok-sosok kabur di dinding: figuran masa lalu—wajah Varrok, senyuman Serina, kemarahan Eryon, tangisan Lyra.
Suara berat nggema di ruangan:
"Setiap kenangan yang kau ingin pulihkan... harus dibayar dengan kenangan lain."
Kaelen berhenti.
"Apa maksudnya?"
"Tak ada yang kembali tanpa kehilangan," gema suara itu lagi. "Kau bisa kembalikan ingatan Lyra. Tapi kau akan kehilangan sebagian dirimu sendiri."
Lyra natapnya, matanya bingung dan takut.
"Aku tidak mau kau ngorbankan lebih banyak," bisiknya.
"Aku sudah kehilangan lebih banyak dari yang kau tahu," jawab Kaelen pelan.
Serina langkah maju.
"Kau tidak harus lakukannya, Kaelen. Biarkan dia mbangun dirinya lagi. Dari awal. Tanpa semua luka itu."
Alden nimpali, suaranya berat.
"Tapi kalau kita biarkan dia tanpa masa lalu... dia bukan Lyra yang kita kenal."
Kaelen nunduk, kedua tinjunya ngepal.
Bagaimana jika Lyra kembali... tapi mbencinya?
Bagaimana jika yang ia bawa kembali bukan kebahagiaan, lainkan luka?
Kaelen berjalan ke altar.
Tangannya getar saat nyentuh Batu Ingatan. Batu itu dingin, nusuk, seperti nyentuh musim dingin itu sendiri.
Ia nutup mata, mbiarkan pikirannya terhubung.
Dalam sekejap, ia lihat ribuan kenangan ngalir di sekelilingnya—seperti sungai yang nggila. Ia lihat dirinya sendiri: kecil, penuh harapan, penuh cinta, penuh luka.
Suara dari dalam Batu berbisik:
"Pilih."
Kaelen nahan air matanya.
Lalu, dengan suara nyaris berbisik, ia berkata:
"Ambil kenangan tentang hari aku bertemu ayah dan ibuku."
Kenangan itu—tentang wajah ibu yang ngelus rambutnya, tentang suara ayah yang tertawa keras—nghilang perlahan dari dirinya, nguap seperti kabut pagi.
Tapi di tempatnya, kenangan Lyra ngalir masuk ke dalam dirinya... dan ke dalam Lyra.
Lyra terhuyung.
Kaelen nangkapnya sebelum ia jatuh.
Mata Lyra terbuka lebar. Ia mandang Kaelen... dan untuk pertama kalinya dalam apa yang terasa seperti seabad, ia tersenyum kecil.
"Kaelen," bisiknya.
Kaelen ngangguk, matanya berair.
"Aku di sini," jawabnya, suaranya serak.
Serina nundukkan kepala, nahan tangisnya sendiri.
Alden ngalihkan pandangannya ke dinding, mberikan reka ruang.
Tapi saat Kaelen ncoba ngingat wajah ibu dan ayahnya... hanya kekosongan yang njawab.
Ia ngorbankan akar dirinya sendiri... untuk mbawa Lyra kembali.
Dan ski hatinya penuh, ia tahu ada sesuatu di dalam dirinya yang kini... hilang untuk selamanya.
Reviews
All reviews (0)