Cahaya fajar rayap perlahan di atas punggung-punggung bukit, mbasuh reruntuhan Nareth dengan warna oranye kusam. Udara pagi mbawa aroma tanah basah dan keheningan berat yang tak diusik burung, tak dipecah angin.
Di tengah reruntuhan itu, Lyra duduk bersandar di dinding batu setengah runtuh, wajahnya pucat tapi tenang. Kaelen berdiri beberapa langkah darinya, tangan terkepal di sisi tubuhnya, seolah nahan sesuatu yang lebih berat dari dunia.
"Kau... siapa?" tanya Lyra, suara seraknya nyaris tertelan oleh hembusan angin.
Kaelen mbuka mulutnya—lalu nutupnya lagi. Tidak ada jawaban yang cukup.
Serina berdiri tak jauh di belakangnya, lengan terlipat, wajah keras nyembunyikan luka yang tak bisa ia perbaiki. Alden berjongkok di samping api kecil, luk lututnya, matanya kosong.
"Aku... seorang teman," akhirnya Kaelen berkata, suara itu nyaris tak terdengar.
Lyra ngangguk perlahan. Tidak percaya. Tidak nolak. Hanya... nerima, seperti orang nerima kenyataan bahwa hujan akan turun.
Serina ndekat, berlutut di depan Lyra. "Kau ingat apa pun?"
Lyra ngernyit. "Ada... potongan. Cahaya. Sebuah liontin. Sebuah nama... Kaelen. Tapi aku tidak tahu apa artinya."
Kaelen nahan napas sejenak.
Liontin.
Itu satu-satunya yang tersisa dari reka.
Ia rogoh saku dalam jubahnya dan ngeluarkan liontin tua—liontin kecil dengan simbol tiga bintang berkelok. Ia berjalan pelan, setiap langkah seperti langkah ke dan berduri.
Saat ia ngulurkan liontin itu ke Lyra, jari-jarinya getar.
"Ini milikmu," katanya pelan.
Lyra ngambilnya. gangnya seperti sesuatu yang berharga tapi asing. Ia mandangi ukirannya lama, ngernyit, lalu berkata, "Kenapa... rasanya kosong?"
Kaelen berjongkok di depannya. Jarak reka hanya sejengkal, tapi terasa seperti dunia.
"Karena kenanganmu masih tertutup," katanya. "Dan mungkin... beberapa bagian tidak akan pernah kembali."
"Apakah itu buruk?" bisik Lyra.
Kaelen ingin berteriak YA. Ingin mberitahunya tentang tawa reka di padang rumput, tentang janjinya di malam hujan, tentang ciuman pertama yang kikuk di bawah bintang yang jatuh.
Tapi ia hanya tersenyum kecil.
"Itu... bagian dari njadi hidup."
Serina berdiri dan berjalan njauh, nendang kerikil dengan frustrasi. Ia nggigit bibir bawahnya keras sampai nyaris berdarah.
"Ini tidak adil," katanya keras, akhirnya. "Kau ngorbankan segalanya, Kaelen. Dan dia bahkan tidak tahu."
Alden, dari dekat api, berkata tanpa noleh, "Kadang... nyelamatkan seseorang berarti mbiarkan reka tak tahu apa yang kita lakukan."
Serina noleh tajam.
"Itu bukan nyelamatkan. Itu nghukum."
Kaelen hanya duduk diam di tanah, mbiarkan debu nempel di jubahnya. Ia rasa kosong, tapi untuk pertama kalinya, ia tidak lawan kekosongan itu. Ia mbiarkannya ada.
Lyra natap liontin di tangannya, lalu bertanya perlahan:
"Apakah aku... pernah ncintai seseorang?"
Hening.
Angin niupkan daun-daun kering lewati kaki reka.
Kaelen nelan ludah.
"Ya," katanya. "Kau pernah."
"Dan... apakah aku bahagia?"
Suara Kaelen pecah, nyaris tak bisa dikendalikan.
"Kau... mbuat dunia ini terasa bisa ditanggung."
Tiba-tiba, dari liontin yang Lyra genggam, cahaya samar rembes keluar. Seperti benih, kecil dan rapuh. Itu bukan ledakan kekuatan. Itu sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam.
Lyra tertegun. Kaelen mundur setengah langkah.
"Apa ini?" bisik Lyra, ketakutan.
Elvior—yang sejak tadi diam seperti patung—akhirnya berbicara dari balik reruntuhan.
"Itu... adalah Cahaya Tertanam."
"Apa maksudmu?" Kaelen ndekat, matanya nyipit.
"Itu ingatan. Bukan miliknya lagi. Tapi sekarang, benih itu bisa tumbuh... atau mati. Bergantung pada apa yang dipilih hatinya."
Kaelen rasakan darahnya mbeku.
Artinya: jika Lyra mbuka dirinya untuk ncintai lagi, ingatan itu bisa kembali. Tapi jika ia nutup dirinya... semuanya akan benar-benar hilang.
Lyra gang liontin itu erat, air mata nggenang di matanya tanpa ia sadari.
"Aku... takut," bisiknya.
Kaelen ngulurkan tangan. Tidak nyentuhnya. Hanya mbiarkan tangannya nggantung di antara reka.
"Aku juga."
Untuk sesaat, dunia hanya ada reka berdua, duduk di reruntuhan masa lalu yang patah.
Dan dalam hening itu, Lyra jamkan mata.
Tak ada janji akan bahagia.
Tak ada jaminan akan berhasil.
Hanya... pilihan.
Reviews
All reviews (0)