Angin malam berdesir lembut, namun tanah di sekitar reruntuhan Benteng Nareth terasa mati.
Lyra terbaring di tengah lingkaran cahaya yang nyala samar, tubuhnya tampak tenang, tapi di balik kelopak matanya yang tertutup, otaknya seperti terbakar. Setiap urat di tubuhnya bersinar keperakan. Setiap napas tampak seperti perjuangan antara hidup dan... sesuatu yang lebih besar.
Kaelen duduk di sampingnya, telapak tangannya nggenggam tangan Lyra yang dingin. Ia telah ncoba segalanya—air, mantra, bahkan manggil penyembuh dari lembah selatan. Tapi tak satu pun bisa nyentuh tubuh Lyra tanpa terbakar.
“Dia nolak dunia ini,” kata Elvior dengan suara seperti batu yang aus. “Cahaya dalam dirinya bukanlah anugerah. Itu panggilan. Dan dia mulai njawabnya.”
Kaelen noleh tajam. “Kau berbicara seolah dia tak lagi manusia.”
“Karena dia mang tak sepenuhnya lagi,” jawab Elvior. “Dia adalah sisa dari Cahaya Pertama. Apa yang kau lihat sebagai sakit... adalah transformasi.”
Serina berjalan pelan, ekspresinya waspada. “Transformasi njadi apa?”
“njadi asalnya,” jawab Elvior. “Cahaya murni... tak butuh tubuh. Tak butuh rasa.”
Lyra nggeliat.
Kaelen segera nunduk. “Lyra? Aku di sini.”
Kelopak matanya terbuka perlahan. Iris matanya tak lagi perak—sekarang seperti retakan kristal, berkilau tapi rapuh.
“Kaelen...?” suaranya lemah.
“Ya. Aku di sini.” Ia ncoba tersenyum, tapi air matanya mulai tergenang.
“Aku... aku bermimpi,” gumamnya. “Aku kembali ke masa kecilku... tapi aku tak tahu siapa yang bersamaku. Wajah reka... kosong.”
Kaelen negang. “Kau masih ingat aku?”
Lyra mandangnya lama... lalu nggeleng, sangat pelan.
“Maaf... aku tahu suara ini. Tapi aku tak tahu siapa kau.”
Kaelen berdiri, berbalik nahan emosi. Serina nggenggam gagang busurnya, nahan amarah.
“Kita bisa hentikan ini,” katanya. “Kita bisa mbawa dia jauh dari Elvior. Jauh dari Cahaya.”
Elvior tertawa pelan. “Apa kau ingin nyelamatkannya... atau nyelamatkan ingatanmu tentangnya?”
Kaelen berbalik, suara penuh amarah: “Aku ingin dia hidup sebagai dirinya, bukan jadi simbolmu.”
“Maka kau harus mbiarkannya lupakan segalanya,” sahut Elvior tajam. “Karena satu-satunya jalan agar Cahaya tak ngoyaknya adalah dengan nghapus dirinya yang dulu.”
Tiba-tiba, Lyra gang kepalanya. Cahaya nyembur dari punggung tangannya, mbentuk simbol aneh di udara—tiga garis vertikal, lingkar.
“Aku... aku lihat sesuatu. Sebuah tempat. Gerbang. Tapi bukan seperti milik Kaelen. Ini lebih... terang. Dan kosong.”
Kaelen ndekat. “Apa maksudmu?”
“Aku lihatmu. Tapi kau bukan kau. Kau... gelap. Tapi aku tidak takut. Aku ingin ngikutimu. Tapi seseorang narikku kembali...”
Ia mulai nangis. Air matanya bersinar.
“Aku tak tahu... siapa aku...”
Serina ncengkeram bahunya. “Kita harus bertindak. Jika tidak—dia akan hancur dari dalam.”
Alden, yang sejak tadi diam, berkata pelan: “Atau dia akan njadi sesuatu yang tidak bisa kita hentikan.”
Kaelen natap langit yang mulai diliputi awan.
“Kalau aku nggunakan kekuatanku untuk nyelamatkannya...” gumamnya. “Aku akan kehilangan ingatanku tentang dia. Mungkin sepenuhnya.”
Semua terdiam.
“Tapi kalau aku tidak...” lanjutnya, “aku akan kehilangan dia sepenuhnya juga.”
Kaelen berlutut di samping Lyra.
“Aku akan nyelamatkanmu,” bisiknya. “skipun aku akan kehilangan ingatan tentang dirimu.”
Tangannya perlahan nghitam. Bayangan rayap naik, nyelimuti lengannya. Serina mundur, mata lebar.
“Kaelen, kau yakin—”
“Tidak,” jawabnya. “Tapi ini bukan soal yakin. Ini soal berani kehilangan demi nyelamatkan.”
Bayangan dan Cahaya bertabrakan di udara.
Dan untuk pertama kalinya... Kaelen nyerahkan sebagian terakhir dari kenangannya—tentang ciuman pertama di musim gugur, tentang pelukan di malam hujan, tentang Lyra yang tertawa sambil berlari di antara bunga liar.
Semuanya... lenyap.
Tapi Lyra, untuk pertama kalinya dalam hari-hari terakhirnya, bernapas tanpa kesakitan.
Reviews
All reviews (0)