Langit sudah cerah. Tapi dalam hati Kaelen, bayangan masih netap.
Tiga hari sejak celah ditutup, sejak Lucien nghilang ke dalam kehampaan. Dunia tampak normal, bahkan damai. Tapi semua yang tahu... tahu itu hanya sentara.
Di sebuah lembah kecil dekat Sungai Rithen, Kaelen, Serina, dan Alden mbangun kembali pos kecil bersama para penyintas. Beberapa prajurit Kegelapan, mantan pemberontak Cahaya, dan reka yang tidak milih sisi mana pun.
Kaelen duduk di atas batu besar, mandangi sungai.
Ia tak sadar Serina berdiri di belakangnya.
“Kau belum tidur lagi,” katanya pelan.
“Kalau aku tidur... aku ndengar suara Lucien.”
Serina duduk di sebelahnya, diam sebentar sebelum bicara lagi.
“Kau yakin itu suara dia, bukan ingatanmu sendiri?”
“Aku tahu bedanya.”
Tiba-tiba langkah cepat terdengar dari hutan.
Seorang utusan muncul, napasnya terputus-putus.
“Kaelen... kami nemukan dia. Lyra.”
Kaelen langsung berdiri. “Di mana?”
“Benteng tua di Nareth. Tapi dia tidak sendirian. Kami lihat simbol Ordo Lama. Dan... satu dari reka mbawa tanda Grandmaster Elvior.”
Serina natap Kaelen. Wajahnya ngeras.
“Dia tidak tahu?”
“Belum.”
Nareth bukan tempat ramah. Dulu markas kecil Ordo, kini reruntuhan tak terurus yang diselimuti tumbuhan liar. Tapi malam ini, api unggun nyala di antara reruntuhan itu.
Kaelen ndekat dengan hati-hati.
Di tengahnya, berdiri Lyra.
Lebih kurus dari terakhir kali ia lihat, tapi mata peraknya tetap sama. Di sampingnya—seorang pria tua berpakaian putih, berjubah dengan simbol mata tertutup di dada. Elvior.
“Kaelen...” suara Lyra goyah.
Kaelen tak njawab.
Elvior langkah maju. “Kau telah jauh. Tapi kau tetap datang. Seperti yang kuduga dari darahnya.”
Kaelen noleh ke Lyra.
“Apa maksudnya?”
Lyra nggigit bibirnya.
“Dia... ayahku.”
Keheningan.
Bahkan angin pun seperti berhenti ndengar.
Serina negang. Alden langsung nggenggam gagang pisau.
Kaelen natap Lyra. “Kau tahu selama ini?”
“Tidak. Aku tumbuh tanpa tahu siapa ayahku. Tapi saat aku pergi dari Ordo... aku ndengar bisikan. Dokun tersembunyi. Dan akhirnya... aku nemukan dia.”
Elvior berbicara dengan suara yang dalam.
“Lyra adalah darahku. Dan darah itu... mbuka sesuatu dalam dirinya. Kunci dari Cahaya pertama. Yang bahkan aku tak bisa akses.”
Kaelen ndekat.
“Kau ingin nggunakannya.”
“Aku ingin nyelamatkan dunia,” jawab Elvior tenang. “Dunia yang kau biarkan ternoda oleh Bayangan. Aku bisa nutup semuanya—dengan Cahaya murni.”
“Dengan ngorbankan Lyra?”
Lyra berbisik, “Dia bilang aku takkan mati. Hanya berubah.”
“Itu yang Lucien katakan tentang kehampaan,” potong Kaelen.
Kaelen nggenggam tangan Lyra.
“Kau punya pilihan. Aku tahu berat, tapi kau bukan alat. Kau bukan kunci. Kau... adalah orang yang aku cintai.”
Mata Lyra berkaca-kaca.
Elvior nyela.
“Dan cinta itu mbuatnya lemah. Jika ia benar-benar ingin nolong dunia, ia harus lepaskan segalanya.”
Lyra mundur. Wajahnya bingung.
Serina langkah ke depan, natap Elvior.
“Jika kau paksa dia... aku akan bunuhmu, bahkan jika kau Grandmaster.”
“Kau pikir aku tak siap mati?” Elvior tersenyum lelah. “Aku sudah tua. Tapi Cahaya dalam darah Lyra... akan terus hidup.”
Tiba-tiba tubuh Lyra nggigil hebat. Cahaya nyembur dari pori-porinya, mbentuk pola di udara.
Matanya terbuka lebar.
“Kaelen... aku tak bisa ngendalikannya...”
Kaelen ncoba ndekat, tapi diserang ledakan energi.
Elvior ngangkat kedua tangan.
“Darahnya telah terbangun! Cahaya yang lebih tua dari kita semua. Sekarang... dia akan njadi Cahaya itu sendiri.”
Kaelen jatuh ke tanah. Dalam kepalanya, suara lain mulai muncul—lembut, njerat.
“Tinggalkan dia, Kaelen. Cahaya akan nyelamatkan. Tanpa luka. Tanpa kehilangan.”
Kaelen nggenggam dadanya. Rasa itu seperti kehampaan, tapi dibalut terang.
“Tidak... Lyra... bertahanlah...”
Cahaya di tubuh Lyra perlahan berubah. Dari putih murni... njadi keperakan gelap.
Elvior terdiam.
“Ini... bukan seperti yang kuperkirakan...”
Kaelen berdiri.
“Karena dia bukan hanya darahmu. Dia juga milikku. Dan cinta tidak bisa dibentuk dari doktrin.”
Lyra jatuh ke tanah, pingsan.
Tapi cahaya di tubuhnya tetap nyala... liar. Tak stabil.
Dan Kaelen tahu: ini bukan akhir. Ini awal dari kehancuran yang baru.
Reviews
All reviews (0)