Font Size
15px

Langit runtuh perlahan.

Kabut hitam yang sebelumnya nyelimuti lembah kini lenyap, nyisakan langit kelabu pucat yang nggantung di atas tanah retak. Namun di tengah semua kehancuran itu, gerbang kehampaan masih berdiri. Diam. nganga.

Kaelen berdiri nghadapnya. Napasnya masih berat, tapi langkahnya stabil. Serina di sisinya, masih berjaga. Alden, skipun kelelahan, sudah kembali siaga dengan belatinya.

Lalu... Lucien muncul.

Langkahnya goyah, pakaian compang-camping, tapi matanya tetap tajam. Ia berjalan lewati puing-puing tanpa suara. Tatapannya tertuju pada Kaelen.

“Kau kembali,” katanya.

“Aku tak pernah pergi,” jawab Kaelen.

Lucien tertawa kecil, pahit. “Kau selalu bisa berkata seperti itu. Kau yang pergi, tapi kau juga yang disebut kembali.”

Kaelen nahan kata-kata. Ia tahu ini bukan saatnya untuk debat. Dunia reka berada di ambang penghapusan total, dan hanya satu pilihan yang tersisa.

Lucien ndekat ke bibir celah. Ia lihat ke dalam. Tak ada suara, tak ada pantulan. Hanya kehampaan yang seolah bernafas.

“Tempat ini...” bisiknya. “Satu-satunya ruang yang tidak nghakimi.”

Alden nahan diri untuk tidak nyela. Tapi Serina langkah maju.

“Bukan karena tempat ini tidak nghakimi, Lucien,” katanya. “Tapi karena tempat ini tidak peduli.”

Lucien mutar kepalanya, natapnya seperti lihat seseorang untuk pertama kalinya.

“Peduli?” katanya lirih. “Kepedulian mbuat kita mbunuh. mbuat kita mbakar. mbuat Kaelen lupakan Lyra. mbuatku... milih jalan ini.”

Kaelen akhirnya berbicara. Suaranya pelan tapi tajam.

“Peduli mbuat kita terluka. Tapi itu juga satu-satunya alasan kita masih di sini.”

Gerbang mulai berdenyut.

Suara bergema—bukan dari luar, tapi dari dalam dada reka.

“Hanya satu yang bisa nutupku. Tapi penutupan nuntut tempat yang setara. Satu jiwa untuk nyeimbangkan kekosongan.”

Semua diam.

Lucien natap Kaelen.

“Jadi... siapa yang akan masuk kali ini?”

Serina ngangkat dagu. “Aku—”

“Tidak,” Kaelen langsung motong. “Aku yang mbuka celah. Aku yang harus nutupnya.”

“Kau baru saja kembali, Kaelen,” protes Alden. “Kau baru saja—”

“Aku tahu,” katanya. “Tapi ini satu-satunya jalan.”

Lucien natapnya, dan dalam sorot matanya muncul sesuatu yang rapuh—kenangan masa kecil, di bawah pohon, dua anak yang belum tahu apa itu kehilangan.

“Aku yang harusnya pergi,” kata Lucien tiba-tiba.

Semua noleh padanya.

“Aku yang ngizinkan kehampaan masuk. Aku yang percaya bahwa dunia tak pantas diselamatkan.”

Kaelen diam. Serina natap Lucien, mbaca ketulusannya.

“Kalau aku masuk,” Lucien lanjutkan, “maka semua luka ini akan punya makna.”

Kaelen natap adiknya. Perlahan, ia ngulurkan tangan.

“Kau yakin?”

Lucien nggenggamnya. “Untuk pertama kalinya.”

Tanpa berkata lagi, ia langkah ke tepi celah. Sebelum masuk, ia berhenti dan noleh.

“Kalau aku bertemu Lyra di sana... katakan padanya... aku ngingat segalanya.”

Dan ia lompat.

Ledakan cahaya ngalir dari celah yang kini nyempit. Seperti luka yang dijahit dari dalam.

Celah itu nutup perlahan, lalu nghilang, nyisakan hanya tanah kosong... dan keheningan.

Angin berembus kembali.

Langit yang tadi kelabu berubah sedikit lebih terang. Awan terurai. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang tidak bisa reka hitung—matahari muncul.

Kaelen berdiri lama di tempat Lucien terakhir nginjakkan kaki. Tak ada yang perlu dikatakan. Air matanya berbicara lebih dari cukup.

Serina berjalan ndekat, lalu tanpa kata, nggenggam tangannya.

Alden bersandar pada batu, natap langit dengan mata rah.

Namun saat malam turun, Kaelen terbangun dari tidurnya oleh suara yang ia pikir takkan pernah ia dengar lagi.

Bukan dari luar.

Tapi dari dalam.

“Kaelion...”

Ia natap langit.

Dan jauh di sana, di tempat tak terlihat oleh siapa pun, bayangan kecil yang nyelinap keluar saat ia langkah kembali... tumbuh.

Pelan-pelan.

nunggu.

You are reading The Shattered Light Chapter 120: – Penutup yang Terbuka on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.