Font Size
15px

Tidak ada cahaya.

Tidak ada gelap.

Tidak ada atas, bawah, atau pijakan.

Namun Kaelen berdiri—atau lebih tepatnya, rasakan keberadaannya di ruang yang tak punya nama. Di tempat ini, waktu tak berjalan, dan logika adalah kebohongan.

“Ini bukan dunia. Ini cermin tanpa permukaan.”

Kabut tak berwarna mulai terbelah. Siluet muncul—bentuk tubuh yang sama dengannya. Tapi dengan sorot mata berbeda: tajam, keemasan, penuh kepastian.

Kaelen negang. Sosok itu angkat bicara dengan suara yang familiar dan asing sekaligus.

“Aku adalah kau, yang tak pernah milih balas dendam. Aku yang tetap bersama Ordo, nyelamatkan Lyra, njaga dunia tetap utuh.”

Kaelen ngernyit. “Berarti kau penipu.”

Sosok itu tersenyum. “Atau aku bukti bahwa jalan yang kau pilih—penuh luka dan kehilangan—adalah kesalahan.”

reka bertarung. Cepat, sunyi, brutal. Tapi kali ini, Kaelen tidak makai kekuatan Bayangan. Ia lawan dengan tekad dan tubuhnya sendiri—dan nang.

“Cahaya tanpa luka tak tahu arah,” bisiknya saat sosok itu mudar njadi debu.

Kabut kembali bergetar. Sosok baru muncul. Bentuknya lebih gelap dari kegelapan, tubuhnya retak, dan matanya kosong. Dari tubuhnya ngalir darah dan bisikan.

“Aku adalah kau yang berhenti nyesal. Aku yang mbiarkan Eryon mati. Aku yang tak pernah ncintai lagi, karena itu lemahkan.”

Kaelen hanya natap.

Monster itu duduk.

Dan nangis.

“Kau akan njadi aku,” katanya. “Jika Serina mati. Jika Alden ngkhianatimu. Jika dunia kembali ninggalkanmu sendirian.”

Kaelen terdorong ke belakang. Luka lama terbuka. Tapi ia duduk di depannya.

“Aku tidak lebih baik darimu,” katanya akhirnya. “Tapi aku akan sadar setiap hari untuk tidak jadi dirimu.”

Monster itu pecah... dan lenyap.

Lalu... udara jadi hangat.

Aroma bunga lembut nuhi kehampaan.

Siluet Lyra muncul. Sempurna. Wajahnya tersenyum seperti dulu. Gaunnya berkibar seolah ada angin. Suaranya lembut.

“Kaelen,” katanya. “Tinggal bersamaku. Tak akan ada luka. Tak akan ada perpisahan. Tak akan ada kematian.”

Kaelen mbeku. Liontin tua yang tergantung di lehernya bergetar.

“Kita bisa hidup selamanya di sini. Dunia itu... tidak pantas ndapatkanmu.”

Ia nggenggam liontin itu.

“Jika kau benar-benar Lyra,” katanya dengan suara getar, “kau akan tahu kita tidak bisa hidup di tempat tanpa masa depan.”

Siluet itu tersenyum—lalu hancur perlahan, berubah njadi debu yang luk udara. Dan dari dalam, Kaelen rasa... utuh.

Suara manggil dari kejauhan.

“Kaelen!”“Kaelen, jawab kami!”

Serina. Alden.

Dari arah lain, suara lembut dan nakutkan manggil:

“Kaelion... kau bisa diam di sini. Tak akan ada rasa. Tak akan ada luka. Hanya kedamaian.”

Ia berdiri di tengah dua suara. Dan untuk pertama kalinya... ia tahu siapa dirinya.

Ia nutup mata dan lihat semua: Varrok, Eryon, Lyra, Serina, Alden. Semua luka. Semua cinta.

Ia milih.

Dunia retak di sekelilingnya.

Suaranya sendiri bergema:

“Aku tak ingin tenang. Aku ingin hidup. Dengan semua risikonya.”

Ia langkah.

Dan saat ia keluar dari celah itu, Serina langsung rangkulnya. Alden terbelalak.

“Kau berhasil,” gumam Serina, air mata netes.

Kaelen nggenggam tangan reka berdua.

“Bukan karena aku lebih kuat. Tapi karena aku ingat siapa aku.”

Tapi... tak seorang pun lihat bayangan kecil tak berbentuk, nggeliat keluar dari celah dan nyelinap ke dalam tanah.

Tanpa suara.

Tanpa bentuk.

Tanpa nama.

You are reading The Shattered Light Chapter 119: – Di Dalam Yang Tak Bernama on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.