Fajar datang seperti luka yang tak mau sembuh—rah, suram, dan sunyi. Tak ada nyanyian burung. Tak ada angin. Bahkan pepohonan mati di sepanjang jalan nuju celah terakhir dunia.
“Gerbang itu bukan hanya fisik,” kata Sister Evara, berdiri di pintu Biara, jubahnya berkibar ditiup angin yang entah dari mana datangnya. “Ia akan nggoda kalian dengan apa pun yang paling kalian inginkan. Dan jika kalian nyerah... kalian takkan pernah keluar.”
Kaelen natap lembah di bawah sana—tempat tanah runtuh mbentuk pusaran kelam yang nghisap cahaya. Seolah dunia sedang narik napas untuk ngembuskan akhir.
Serina berdiri di sisinya, masang anak panah terakhir ke punggungnya.
Alden, tenang, tapi tatapannya terpaku pada simbol yang nggeliat samar di permukaan celah: tiga garis yang mbentuk lingkaran tidak sempurna.
“Kenapa kita bertiga?” gumamnya.
Kaelen njawab tanpa noleh. “Karena tak ada orang lain yang tersisa.”
Langkah-langkah reka berat nuruni lembah. Tanah retak. Udara mulai nipis. Bahkan jam terasa tak berfungsi—kadang reka rasa hanya berjalan beberapa nit, kadang seperti berjam-jam.
“Ini tempat yang tidak ingin ditemukan,” kata Serina pelan, napasnya mulai berat.
“Tempat yang bahkan kenangan tak berani tinggali,” sahut Alden.
Kaelen hanya diam.
Di kejauhan, bentuk gerbang mulai terlihat: bukan gerbang sebenarnya, tapi sebuah lingkaran raksasa ngambang di atas pusaran tanah. Di tengahnya, kegelapan murni. Bukan warna, tapi kekosongan.
Dan berdiri di depan gerbang itu... Lucien.
Lucien tampak berbeda. Matanya bukan lagi abu-abu, lainkan seperti kaca retak. Cahaya dan bayangan bergumul di dalamnya, tapi tidak nyatu. Tubuhnya berdiri, tapi sesuatu dari caranya diam mbuat darah Kaelen mbeku.
“Aku sudah nunggu,” kata Lucien, suaranya bukan hanya suaranya sendiri. Ada gema—seolah ia berbicara bersama sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
Serina ngangkat busur.
“Berhenti,” kata Kaelen cepat.
Lucien tersenyum miris. “Akhirnya kau percaya. Bahwa dunia ini tidak butuh kita. Tidak butuh siapa pun. Hanya keheningan. Kesetaraan sejati.”
“Kau bicara tentang penghapusan,” jawab Kaelen. “Bukan perdamaian.”
“Tidak ada rasa sakit di kehampaan,” bisik Lucien. “Tidak ada kesalahan. Tidak ada penyesalan. Dan kau tahu itu.”
Lucien mbuka tangan. Gerbang berdenyut. Angin mutar di sekelilingnya seperti pusaran air tak terlihat.
“Kita bisa masuk bersama. Kita bisa nutup siklus. Hapus Cahaya. Hapus Bayangan. Hapus ingatan, dendam, cinta, kehancuran.”
Kaelen langkah maju.
“Dan apa yang tersisa?”
Lucien natapnya, tatapan adik kecil yang dulu bermain di bawah pohon.
“Damai.”
Kaelen narik napas.
“Damai... tanpa makna... bukan damai. Itu mati dalam bentuk yang lebih lambat.”
Lucien negang. “Kau nolakku... lagi?”
Kaelen tak njawab. Tapi Serina berdiri di sisinya. Alden pun maju.
“Lalu aku akan masuk sendiri,” gumam Lucien.
Tapi saat ia langkah...
Gerbang nolak Lucien. Cahaya di sekitarnya berkedip liar. Tubuh Lucien terlempar, keras, seperti ditolak oleh sesuatu yang lebih besar dari kehendaknya.
Kaelen langkah cepat dan nangkapnya sebelum tubuhnya jatuh ke pusaran. Lucien terengah, matanya rah.
“Kenapa? Aku... penjaga... aku darahnya...”
Suara gerbang nggema di kepala semua orang.
“Hanya yang mbawa bayangan dan cahaya tanpa keinginan untuk nghapus salah satunya... yang boleh masuk.”
Lucien terisak.
“Aku tak bisa...”
Kaelen nggenggam tangannya.
“Maka aku yang akan masuk. Dan kau... akan hidup.”
Kaelen berdiri di depan gerbang. Serina ncoba langkah maju, tapi Kaelen nggeleng.
“Aku tidak pergi untuk nghilang. Aku pergi untuk nyelamatkan apa yang belum hilang.”
Alden nunduk, nggigit bibirnya.
Serina nahan air mata. “Kalau kau tak kembali?”
Kaelen tersenyum samar.
“Setidaknya, kali ini... aku pergi dengan semua yang aku ingat.”
Dan ia langkah ke dalam gerbang.
Tanpa suara.
Tanpa cahaya.
Tanpa janji untuk kembali.
Reviews
All reviews (0)