Font Size
15px

Ledakan itu seharusnya mbunuh reka semua.

Tapi saat Kaelen mbuka matanya, ia masih hidup. Tubuhnya terbaring di atas tanah putih yang seperti tak punya batas. Langit di atasnya kosong, seperti kanvas tanpa warna. Dunia ini... tidak nyata.

Langkah kaki ndekat. Bukan Lucien. Bukan Serina. Bukan Alden.

Sosok berjubah hitam itu berdiri di hadapannya. Tidak punya wajah. Tidak punya suara.

Namun Kaelen bisa rasakan kehadirannya—seperti seseorang yang pernah ia kenal dalam mimpi buruk yang terlupakan.

“Siapa kau?” Kaelen bangkit, darah masih netes dari sudut bibir.

Sosok itu tidak njawab secara lisan. Tapi suaranya muncul... langsung di dalam pikirannya.

“Aku bukan Cahaya. Aku bukan Bayangan. Aku adalah apa yang tertinggal... saat keduanya hancur.”

Kaelen mundur setapak. “Kau... bagian dari Relik?”

“Aku adalah alasan Relik ada. Aku bukan kekuatan. Aku... kehampaan. Dan kalian telah mbangunkanku.”

Dari balik kabut putih, muncul Serina dan Alden—tubuh reka tertarik ke dunia ini, tapi reka tampak beku. Tidak bergerak.

Lucien muncul paling akhir. Berlutut, luka terbuka di sisi tubuhnya. Tapi matanya terbuka lebar. “Aku... pernah mbaca tentang ini,” bisiknya. “Dalam naskah terlarang Ordo lama. Kekuatan sebelum dualitas diciptakan...”

Kaelen noleh ke sosok itu. “Apa yang kau inginkan?”

“Aku ingin akhir. Akhir dari Cahaya yang maksa. Akhir dari Bayangan yang makan. Aku ingin keheningan kembali.”

Sosok itu ndekat, satu tangan terangkat. Tidak ngancam. Tapi ngundang.

“Tinggalkan reka. Bersama kekosongan, kau takkan lagi terluka. Tak akan ada lagi nama yang hilang. Tak ada cinta yang hancur. Tak ada ingatan yang kau sesali.”

Kaelen natap tangannya sendiri—retak oleh energi Bayangan, masih berdenyut dengan cahaya yang ia tolak.

Lalu matanya beralih pada Serina, yang masih beku, tetapi air matanya mbeku di pipi. Pada Alden, yang bahkan dalam ketidaksadarannya masih nggenggam belatinya.

Dan pada Lucien—yang kali ini, untuk pertama kalinya, tampak takut.

Kaelen nggertakkan gigi.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena rasa sakit adalah bukti bahwa kita pernah ncintai. Kehilangan adalah tanda kita pernah miliki.”

Ia mundur satu langkah. “Kau adalah kehampaan. Tapi aku... adalah segalanya yang pernah kuperjuangkan untuk tidak hilang.”

Seketika, dunia itu mulai retak.

Sosok itu tidak marah—hanya... nyusut.

“Kau akan nyesalinya. Dunia kalian tak bisa diselamatkan oleh Cahaya atau Bayangan. Kalian mbangun masa depan... di atas pasir bergerak.”

Lalu ia nghilang. Dan dunia runtuh.

Kaelen terbangun dengan jeritan. Di sampingnya, Serina gangi lengan yang berdarah. Alden terbatuk, ngangkat wajah berdebu.

Lucien... tidak ada.

Kaelen bangkit, nggigil.

“Relik...?” tanya Serina.

Kaelen nunjuk ke tengah ruangan yang kini hanya nyisakan lantai retak.

“Tidak ada lagi Relik. Yang tersisa hanya... celah.”

reka berdiri di tepi lubang hitam kecil yang perlahan nyerap cahaya dan suara. Dunia tidak runtuh, tapi seolah... nunggu. Sunyi.

Alden berkata pelan, “Kalau bukan Cahaya. Bukan Bayangan. Maka apa?”

Kaelen natap celah itu.

“Sesuatu yang lebih tua. Lebih lapar. Dan lebih... manusia.”

Serina nggenggam tangannya.

“Apa yang akan kita lakukan?”

Kaelen narik napas dalam-dalam.

“Kita temukan Lucien. Kita cari sisa Relik yang lain. Tapi yang paling penting...”

Ia natap reka satu per satu. “...kita tetap jadi manusia. Apa pun yang akan datang, kita hadapi dengan pilihan, bukan ketakutan.”

Di suatu tempat jauh, dalam ruangan yang tak dikenali oleh peta mana pun, Lucien terbangun.

Di hadapannya, sosok berjubah itu berdiri lagi.

“Saudaramu milih manusia. Kau... akan milih apa, Lucien?”

Lucien natap tangannya sendiri, yang kini bergetar.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu jawabannya.

You are reading The Shattered Light Chapter 117: – Yang Tersembunyi Dalam Celah on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Slime True Immortal cover
Similar genre

Slime True Immortal

肚子有点胀 ·Fantasy

Spring—aseasonofrenewalandrebirth.Intheswampforest,magicalbeastswerebeginningtostir.Onthereed-linedriverbanks,beastkinsharpenedsticksandsettraps,ly...

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.