Font Size
15px

Tiga hari telah berlalu sejak ledakan Relik dan pertemuan dengan sosok tanpa nama itu. Tapi dunia di sekitar reka tak lagi sama. Angin tak berembus seperti dulu. Langit senantiasa kelabu. Dan waktu... terasa ngalir dengan cara yang salah.

Kaelen, Serina, dan Alden ndirikan kemah di bawah reruntuhan hutan perak yang hangus. Tidak ada hewan. Tidak ada nyanyian. Bahkan cahaya tampak letih.

Di depan reka, terbentang jalan nuju dataran tinggi Aer’dhal—tempat legenda nyebut berdirinya Biara Terselubung, sebuah perpustakaan yang dikabarkan nyimpan “naskah-naskah sebelum Cahaya”. Naskah yang bahkan Ordo pun enggan nyentuh.

“Tempat ini bukan hanya tempat informasi,” kata Serina, lirik ke arah jalan yang mulai dipenuhi kabut. “Dulu, Master Varrok nyebutnya penjara.”

“Untuk apa?” tanya Alden, tangannya di gagang belatinya seperti biasa.

“Untuk pengetahuan yang tidak ingin diingat siapa pun,” jawab Kaelen. “Tapi sekarang kita tak punya pilihan.”

Bangunan itu njulang seperti gigi patah dari tanah mati. Dindingnya dari batu hitam, dan tidak ada jendela. Pintu utamanya setengah terbuka, seolah nanti.

reka masuk.

Di dalam, debu nggantung di udara. Rak-rak tinggi njulang hingga langit-langit, berisi buku-buku tanpa judul. Lilin-lilin nyala... tapi tidak ada yang nyalakannya.

Langkah Kaelen terhenti di depan ukiran dinding besar: dua sosok bersilang—satu bercahaya, satu gelap, dan di antara reka... bayangan kosong tanpa wajah.

“Tiga poros,” bisik Kaelen. “Ini sudah ada sejak dulu.”

reka dikejutkan oleh suara batuk tua dari balik rak.

Seorang perempuan tua berdiri di sana. Kulitnya keriput seperti naskah kuno, matanya putih susu, tapi langkahnya pasti.

“Kaelion,” katanya, tanpa keraguan.

Kaelen negang.

“Namaku Kaelen,” jawabnya.

Perempuan itu ngangguk samar. “Yang kau pilih tidak ngubah asalmu.”

reka duduk di tengah ruang api, dikelilingi lingkaran lilin dan manuskrip bersinar. Perempuan itu nyebut dirinya sebagai Sister Evara, penjaga Biara sejak sebelum Ordo berdiri.

“Bayangan pertama bukanlah kejahatan. Dan Cahaya pertama bukanlah keselamatan,” katanya. “Keduanya muncul dari Kehampaan—entitas yang hanya nginginkan diam, karena diam adalah bentuk abadi dari kendali.”

Alden nelan ludah. “Kau bicara tentang sosok yang nembus Relik.”

Evara natap Kaelen. “Dia bukan dewa. Dia bukan iblis. Dia... adalah cermin yang nolak pantulan. Dan ia akan makan dunia bukan dengan perang, tapi dengan lupakan.”

Kaelen ngatup rahang. “Dia nawarkan ketenangan. Tanpa rasa. Tanpa luka.”

“Tanpa makna,” Serina lanjutkan. “Tanpa pilihan.”

Evara mberikan sebuah gulungan kecil yang dikunci dengan terai darah.

“Lucien datang ke sini bertahun lalu,” katanya. “Dia ncari jalan untuk mbebaskan dunia dari Bayangan—tapi bukan untuk nyelamatkan. Untuk ngulang sejarah.”

Kaelen mbuka gulungan itu. Isinya: sketsa simbol yang sama dari Relik terakhir. Di bawahnya, tertulis:

“Jika satu saudara milih mori, dan satu milih kekuasaan, maka pintu ketiga akan terbuka.”

“Pintu ketiga?” tanya Alden.

Evara nunduk. “Gerbang nuju kehampaan. Ia sedang terbuka sekarang. Dan hanya satu di antara kalian yang bisa nutupnya.”

Saat malam turun, Kaelen berdiri di balkon batu. Ia mandangi langit yang tak lagi punya bintang. Dalam dirinya, suara lama kembali muncul—Lyra, Serina, Eryon, Varrok... semuanya berbaur. Tapi kini, ada sesuatu yang baru: suara Lucien. Dan sesuatu yang lebih tua dari reka semua.

Kaelen berbicara sendiri, pelan:

“Jika aku harus milih untuk ngingat... maka aku juga harus siap untuk kehilangan lagi.”

Serina ndekat, diam-diam, dan naruh tangannya di bahunya.

“Kau tidak sendiri.”

Kaelen natap cakrawala.

“Tapi untuk nutup gerbang itu... seseorang harus masuk lebih dulu.”

You are reading The Shattered Light Chapter 116: – Jejak yang Terhapus on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.