Font Size
15px

Langkah-langkah reka senyap saat lintasi bayangan malam yang nyelimuti dataran perak nara Cahaya Baru. Tak ada alarm. Tak ada penjaga yang nghalangi. Hanya sunyi—terlalu sunyi.

Kaelen mimpin, ngenakan kembali jubah gelapnya. Tapi kali ini, dia tidak bersembunyi. Wajahnya tegak. Tatapannya tajam.

Serina berjalan tepat di belakangnya, anak panah sudah terjepit di busurnya. Alden di sisi kanan, tangannya nggenggam belati yang dibalut api biru lembut.

“nara ini terasa...” Alden berbisik, “... seperti sedang nunggu kita.”

Kaelen tidak njawab. Tapi dalam dadanya, ada getaran. Sesuatu... yang ngenal dirinya. Bukan sebagai musuh, bukan sebagai tamu. Tapi sebagai bagian dari dirinya sendiri.

Begitu reka langkah lewati koridor kristal pertama, dindingnya nyala dengan ukiran—bukan simbol Cahaya Baru seperti yang terlihat di luar—tapi bayangan siluet masa lalu: dua anak kecil, duduk di bawah pohon terang. Salah satu gang buku. Satunya pedang kayu.

Kaelen berhenti.

Serina natapnya. “Kau kenal tempat ini?”

Ia ngangguk. “Ini bukan nara Cahaya Baru. Ini... dulu rumah kami.”

Alden ngernyit. “Rumah siapa?”

Kaelen natap salah satu ukiran. Sosok anak kecil itu tersenyum kepadanya.

“Lucien dan aku.”

Tiba-tiba, lorong bergetar. Cahaya mucat. Dunia di sekeliling reka larut dalam kabut tipis.

Kaelen noleh, tapi Serina dan Alden tidak lagi terlihat.

Ia berdiri di kamar kecil. Jendela terbuka, angin bertiup lembut. Di luar, padang hijau dan langit biru—pemandangan masa kecil yang telah hilang.

Seseorang duduk di lantai. Seorang anak lelaki. Rambutnya putih keperakan. Mata kelabu terang. Lucien.

“Kaelen!” anak itu berseru riang. “Lihat, aku bisa buat cahaya dari tanganku!”

Kaelen mundur selangkah.

“Ini bukan nyata. Ini jebakan.”

Tapi sesuatu dalam dirinya tak bisa berhenti natap anak itu. Kebahagiaan dalam matanya—bukan manipulasi, bukan ambisi. Hanya... saudara kecil yang bangga nunjukkan keajaiban kecilnya.

“Kenapa kau tinggalkan aku, Kaelen?” suara Lucien kecil berubah lirih. “Kenapa kau pilih reka, bukan aku?”

Kaelen nutup mata.

“Aku tidak ingat,” jawabnya. “Dan mungkin itu yang paling nyakitkan.”

Ketika ia mbuka mata, ilusi mudar—dan digantikan oleh kenyataan brutal. Ia terlempar ke dalam aula pusat nara, dan Lucien dewasa berdiri di ujungnya, tubuhnya dibungkus cahaya yang mancar dari Relik terakhir yang ngambang di tengah ruangan.

“Selamat datang kembali, saudaraku,” ucap Lucien.

Serina dan Alden muncul dari sisi kanan dan kiri, terjatuh dari celah ilusi. Luka di tangan reka nunjukkan bahwa reka juga dipaksa nghadapi masa lalu masing-masing.

“Relik itu...” Serina nyipitkan mata. “...ngikat ingatan kita?”

Lucien tersenyum. “Ia manggil siapa pun yang berdarah penjaga. Tapi hanya satu yang akan diterima.”

Kaelen langkah maju.

“Aku tidak datang untuk nguasainya,” katanya. “Aku datang untuk nghentikanmu.”

Lucien ngangkat tangan. Cahaya nyelimuti tubuhnya seperti pelindung. “Lalu kita buktikan siapa yang lebih layak.”

Pertarungan pecah dengan kecepatan nakutkan. Kaelen ngayunkan pedangnya, gelombang bayangan ledak ke depan. Lucien nangkisnya dengan sinar murni, lalu nyerang balik dengan peluru cahaya yang ledak di tanah seperti bintang jatuh.

Serina nembakkan panah ke sisi Lucien, tapi cahayanya nekuk arah anak panah. Alden ncoba ndekat dari belakang, namun terpental oleh dan tak kasatmata.

“Ini bukan tentang siapa yang kuat,” kata Lucien, suaranya bergema. “Ini tentang siapa yang diizinkan oleh Relik.”

Kaelen nggertakkan gigi. Tubuhnya mulai retak oleh energi gelap yang ngalir terlalu deras. Tapi ia tetap langkah. Langkah demi langkah, nembus dan cahaya.

Lucien lepaskan ledakan terakhir—dan Kaelen nerimanya langsung.

Tubuhnya terhantam mundur, tergeletak. Tapi saat ia mbuka mata, ia lihat sesuatu...

Relik itu... bersinar dengan dua warna.

Hitam dan putih.

Kaelen bangkit. Perlahan. Luka mbakar tubuhnya, tapi ia berdiri.

“Relik ini tidak milikmu,” katanya. “Dan juga bukan milikku.”

Lucien negang.

“Relik ini adalah kenangan. Luka. Harapan. Dan hanya reka yang mampu nanggung semuanya... yang bisa njaganya.”

Relik nyala terang—dan sebuah bentuk baru muncul di udara. Bukan pedang. Bukan tongkat.

Tapi cermin.

Lucien natap pantulannya sendiri—dan ia lihat wajah kecilnya, sendirian.

Kaelen nunduk, air mata ngalir.

“Aku nyesal. Bukan karena ninggalkanmu. Tapi karena aku tak cukup kuat untuk ngingat.”

Tiba-tiba, suara lain nggema dari dinding.

“Sayangnya, kalian berdua terlalu lambat.”

Bayangan ketiga muncul. Sosok berjubah, wajahnya tersembunyi. Dari balik jubahnya, tangan hitam luncur dan nembus tubuh Relik.

Cahaya dan bayangan ledak bersamaan.

Dan dunia kembali berubah.

You are reading The Shattered Light Chapter 115: – Pintu yang Tak Pernah Tertutup on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Slime True Immortal cover
Similar genre

Slime True Immortal

肚子有点胀 ·Fantasy

Spring—aseasonofrenewalandrebirth.Intheswampforest,magicalbeastswerebeginningtostir.Onthereed-linedriverbanks,beastkinsharpenedsticksandsettraps,ly...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.