Angin dingin dari utara bertiup pelan, mbawa aroma bunga liar yang tak seharusnya tumbuh di padang reruntuhan. Kaelion berdiri di ujung bukit, natap lembah di bawah yang kini diterangi kilau putih perak dari nara Cahaya Baru.
Di belakangnya, Serina mandangi punggung yang dulu ia kenali sebagai milik Kaelen. Kini, punggung itu terasa asing—tegak, tenang, dan terlalu sunyi.
“Kaelen,” ia manggil pelan, ngabaikan nama baru itu.
Kaelion tak njawab. Ia hanya nunduk, mbiarkan rambut hitamnya tertiup angin.
Serina langkah ndekat, suaranya makin tegas. “Aku tak peduli berapa banyak ingatan yang kembali. Atau berapa nama yang pernah kau pakai. Tapi jika kau masih miliki sepotong saja dari yang dulu—teman kami, yang rela bertarung demi yang tak berdaya—maka dengarkan kami.”
Kaelion noleh perlahan, tatapannya datar. Tapi ada kilatan di matanya. Bukan cahaya, bukan bayangan. Keraguan.
Malam itu, Kaelion duduk sendiri. Ia jamkan mata. Dan dunia runtuh di sekeliling pikirannya.
Ia lihat Lyra. Bukan Lyra yang penuh cahaya. Tapi Lyra yang berdarah. Terbaring di pelukannya. Air mata ngalir dari mata Kaelen—bukan Kaelion.
Tapi saat ia ncoba nyentuh wajahnya, semuanya hancur. Digantikan oleh suara Lucien.
“Kau hanya ngingat bagian yang reka izinkan. Bukan kebenaran penuh. Aku bisa mbantumu lihat semuanya.”
Kaelion ndadak mbuka mata. Keringat dingin netes di pelipis.
Saat fajar datang, Kaelion nyusun peta kasar. reka harus nyusup ke nara sebelum malam ini. Tapi saat ia mberi perintah, Serina langkah maju.
“Aku tidak bisa ngikuti rencana ini jika kau terus nyembunyikan sesuatu dari kami,” katanya tegas.
Alden ikut maju. “Kau sudah berubah. Dan kami tidak tahu apakah perubahan itu akan nyelamatkan dunia... atau nghancurkannya.”
Kaelion natap reka. “Aku tidak minta kalian percaya pada aku yang sekarang. Tapi jika kita tidak bergerak, Lucien akan mbuka Relik sendiri. Dan itu... akan nghapus semua yang pernah ada.”
Serina natapnya tajam. “Lalu biarkan kami tahu: jika kau berdiri di depan Relik itu, dengan seluruh kekuatanmu kembali, apa yang akan kau lakukan? Akankah kau tetap milih manusia... atau kekuatanmu?”
Kaelion terdiam lama.
“Aku tidak tahu,” jawabnya akhirnya, jujur—dan itu lebih ngerikan dari kebohongan apa pun.
Sentara itu, di dalam nara, Lucien berdiri di ruang bawah tanah. Di hadapannya, tiga bayangan nyatu dengan dinding.
Salah satu dari reka—berwujud perempuan tua dengan suara dua lapis—berkata, “Kau terlalu cepat ngungkapkan diri pada saudaramu.”
Lucien tersenyum miring. “Tapi ia sudah mulai goyah. Sedikit lagi, dan ia akan datang dengan kehendaknya sendiri.”
Bayangan kedua berkata pelan, “Jangan lupa, Kaelion adalah bagian dari kunci. Tapi hanya satu di antara kalian yang bisa bertahan.”
Lucien nunduk dengan hormat. “Dan itulah yang sedang aku siapkan.”
Malam itu, sebelum nyerbu nara, Serina ndekati Kaelion. Ia mbawa sesuatu—sebuah liontin kecil, terbakar sebagian, tapi masih nyimpan ukiran di dalamnya: Lyra.
“Ini milikmu. Dulu,” katanya.
Kaelion ngambil liontin itu perlahan. Jari-jarinya getar saat nyentuh permukaannya.
Tiba-tiba, gambaran muncul: Lyra di padang rumput, wajahnya tertawa, lalu berubah njadi panik saat Kaelen terluka. Suara-suara: tangis, janji, dan... cinta.
Kaelion nahan napas. Air mata ngalir, satu tetes.
“Aku... ingat,” bisiknya.
Serina tersenyum. “Maka itu cukup.”
Saat malam jatuh, reka berdiri di depan pintu nara. Kaelion, Serina, dan Alden. Tiga bayangan di antara dunia Cahaya dan Kegelapan.
Kaelion narik napas panjang. Kali ini, ia berbicara dengan suara yang lebih manusia.
“Namaku Kaelen Draven. Dan malam ini, aku milih untuk ngingat.”
Dengan itu, ia langkah maju—mbawa masa lalu dan masa depannya bersamaan.
Reviews
All reviews (0)