Font Size
15px

Langit barat nyala dalam warna emas yang bukan milik ntari. Cahaya itu bukan hangat—tetapi mbakar. Seolah langit itu sendiri nolak kehadirannya.

Kaelen berdiri diam di tepi reruntuhan Arkivet, bahunya terbuka nghadapi angin keras yang mbawa aroma besi dan arang. Serina dan Alden berdiri beberapa langkah di belakangnya, tak tahu harus manggilnya dengan nama yang mana.

“Kaelion...?” Serina akhirnya berkata. Namanya terasa asing di lidahnya, seperti manggil roh kuno, bukan lelaki yang dulu ia kenal.

Kaelion noleh. Mata Kaelen masih di sana, tapi ekspresinya seperti milik orang lain—tenang, terlalu tenang. “Itu bukan cahaya matahari,” katanya. “Itu panggilan dari Relik terakhir.”

Alden nghela napas tajam. “Dan nurutmu kita seharusnya... ngejarnya?”

Kaelion natap reka. “Kalau kalian tak ikut, aku tak nyalahkan.”

“Tapi kami akan ikut,” potong Serina cepat. “Kaelen—Kaelion, siapa pun kau... kami tak akan ninggalkanmu sekarang.”

Perjalanan reka nyusuri lembah ke barat lebih sunyi dari biasanya. Tak ada percakapan ringan, tak ada ejekan dari Alden seperti biasa. Hanya suara langkah dan deru angin yang nyelinap di antara bebatuan.

Di malam ketiga, reka mbuat perkemahan kecil. Api unggun redup, dan Kaelion duduk agak jauh, mandangi bintang yang berkelip tak wajar.

Serina duduk di samping Alden, berbisik, “Kau rasa... dia masih Kaelen?”

Alden natap bayangan Kaelion yang mantul tak rata di atas tanah. “Aku ingin percaya begitu. Tapi caranya mandang kita... seperti dia sedang nghitung berapa lama lagi kita akan berguna.”

Serina ngatupkan rahang. “Dia bilang ngingat semuanya. Tapi aku tak yakin dia benar-benar rasakan semuanya.”

Alden mandangnya. “Termasuk tentangmu?”

“Termasuk tentang siapa pun,” jawab Serina dengan nada getir.

Keesokan paginya, reka ndaki bukit terakhir sebelum lembah besar tempat cahaya itu bersinar. Tapi yang reka lihat mbuat Kaelion berhenti ndadak.

Di bawah sana, mbentang ladang puing, dan di tengahnya berdiri sebuah nara kristal—bersinar keperakan, berdenyut seperti jantung.

Di sekeliling nara, pasukan berpakaian putih keperakan berjajar, diam namun hidup. Simbol di dada reka nyerupai lambang lama Ordo Cahaya, tetapi dengan satu perbedaan ngerikan—garis hitam nyilang tepat di tengah.

“Cahaya Baru,” Kaelion bergumam.

“Siapa reka?” tanya Serina.

Kaelion nunduk. “Penerus Elvior. reka percaya bahwa Keseimbangan harus digantikan oleh Dominasi Cahaya mutlak. Tanpa bayangan. Tanpa keraguan. Tanpa kebebasan.”

Alden nggeram. “Kedengarannya seperti... tirani baru.”

Kaelion noleh pada reka. “Dan Relik terakhir ada di bawah nara itu.”

Malam hari, reka nyusup ke sekitar ladang puing. Kaelion tak bisa nyembunyikan aura gelapnya terlalu lama, jadi Serina dan Alden bergerak lebih dulu.

Serina, dengan cekatan, nyelinap lewati dua penjaga dan nanam penanda energi di sisi nara. Alden nonaktifkan jebakan cahaya yang berjajar di rute masuk utama. Tapi sebelum reka bisa keluar...

Seseorang berbicara dari bayangan.

“Tidak semua bayangan mihak Kegelapan.”

Kaelion muncul dari kegelapan, berdiri tegak di depan pria berjubah perak—tapi dengan mata kelabu gelap. Pria itu tersenyum.

“Aku sudah nunggumu, Kaelion.”

“Siapa kau?” tanya Kaelion dingin.

“Namaku Lucien. Pewaris Cahaya Baru. Dan aku... adalah saudaramu.”

Serina dan Alden lompat keluar dari tempat persembunyian reka, senjata di tangan.

Lucien tidak gentar. Ia hanya ngangkat tangannya. “Tenang. Aku tak datang untuk bertempur. Belum.”

Kaelion negang. “Itu bohong. Aku tidak punya saudara.”

Lucien tertawa, pelan dan dalam. “Tentu saja kau tidak ingat. Itu bagian dari pengorbananmu. Kau tinggalkan bukan hanya kenangan tentang orang yang kau cintai... tapi juga tentang darahmu sendiri.”

Kaelion terdiam.

Lucien lanjutkan, “Kau milih manusia. Aku milih Cahaya. Tapi sekarang dunia berada di ambang. Dan hanya satu dari kita yang bisa mbuka Relik terakhir.”

Kaelion ndekat, jaraknya hanya sejengkal dari Lucien.

“Kalau aku nolak?”

Lucien tersenyum. “Maka aku akan maksamu mbuka Relik itu. Dengan atau tanpa tubuhmu masih hidup.”

Serina ngangkat busurnya. “Sentuh dia, dan kau takkan bisa lihat cahaya lagi seumur hidupmu.”

Lucien natapnya. “Kau tidak tahu siapa yang sedang kau lindungi. Dia bukan Kaelen yang kau kenal.”

“Dan kau bukan saudaranya,” Serina balas tajam.

Lucien noleh terakhir kali pada Kaelion. “Pikirkan baik-baik. Dua penjaga. Satu Relik. Satu kehancuran.”

Ia nghilang dalam ledakan cahaya putih yang nyilaukan.

Kaelion berdiri diam cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan:

“Aku ingat... nama Lucien.”

You are reading The Shattered Light Chapter 113: – Cahaya yang Menyesatkan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.