Font Size
15px

Suara itu masih nggema saat Kaelen mbuka matanya.

Bukan dalam gelap, bukan pula di Arkivet. Di sekelilingnya, hanya kehampaan. Cahaya dan bayangan nari tanpa bentuk, tanpa batas, seolah ia berdiri di tengah alam yang tidak ngenal waktu.

"Kaelen..." suara itu terdengar lagi—lembut dan nusuk langsung ke dalam kesadarannya.

Ia berputar, dan di sana, berdiri sosok itu. Wajah perempuan, separuh diselimuti cahaya, separuh lagi dibungkus bayangan pekat. Wajah yang pernah ia kenali. Wajah yang... seharusnya ia cintai.

"Lyra," gumamnya, namun bukan sebagai panggilan, lainkan pertanyaan.

Sosok itu tersenyum samar. "Akhirnya kau ndengarku."

Sentara itu, di dunia nyata, tubuh Kaelen tersungkur di lantai Arkivet. Serina luknya dari belakang, ncoba nghalanginya dari gerakan apa pun yang bisa mbuatnya terjerat lebih dalam. Alden berdiri di samping, siaga dengan belati.

"Kau bilang dia tak bisa disentuh di sini," desis Serina.

"Secara fisik tidak," jawab Alden, mata tetap tertuju pada bayangan di lorong. "Tapi pikirannya... mungkin sudah bukan milik kita lagi."

Bayangan itu perlahan nyusut, mbentuk kepulan asap yang masuk ke dalam dada Kaelen, seperti napas terakhir dari sesuatu yang tidak seharusnya hidup.

Di dalam pikirannya, Kaelen mulai rasakan... pecahan.

Potongan-potongan masa lalu.

Lyra tersenyum padanya di bawah pohon berbunga. Serina tertawa canggung saat tangannya nyentuh tangan Kaelen. Teriakan Master Varrok dalam pertempuran. Wajah ibunya saat mbelainya dengan lembut.

Namun semuanya... tidak lengkap.

Semua kenangan itu pecah seperti kaca. Indah, tapi tajam.

"Siapa aku sebenarnya?" bisiknya.

"Kau pernah milih untuk lupakan," jawab Lyra. "Karena itulah satu-satunya cara agar kau bisa bertahan. Tapi sekarang, dunia butuh kau yang utuh. Tak setengah."

"Aku tak yakin bisa nanggung semuanya lagi." Suaranya goyah. "Aku bahkan tak ingat bagaimana rasanya lukmu."

Sosok Lyra langkah ndekat. Wajahnya tidak sepenuhnya milik Lyra. Ada sesuatu lain di dalam matanya—seperti ada dua jiwa yang berbicara serentak.

"Kalau begitu izinkan aku njadi jembatan ingatanmu," bisiknya.

Ia ngulurkan tangan.

Kaelen ragu. Tapi dalam hatinya, kerinduan yang tak ia ngerti njerit.

Tangannya bergerak.

"Kaelen, jangan!" teriak Serina di dunia nyata.

Namun Kaelen telah nyentuh bayangan itu—dan tubuhnya mancarkan kilatan ungu dan perak. Suara-suara ledak dalam ruang sempit, rak-rak bergetar, dan dinding Arkivet seperti raung.

Alden ncoba narik Kaelen mundur, tapi tubuh sahabatnya itu hangat... dan dingin... sekaligus.

Kaelen perlahan mbuka mata.

Namun bukan dengan sorot yang sama.

Serina mbeku. "Kaelen?"

Ia berdiri. Sorot matanya kosong, seolah lihat sesuatu jauh di luar ruangan itu.

"Aku ingat... semua," katanya pelan.

Alden tampak lega sejenak. Tapi Serina nyadari sesuatu.

"Tapi... kau bukan hanya Kaelen, bukan?"

Kaelen noleh padanya. Tersenyum. Tapi senyuman itu bukan senyum lelaki yang pernah ia kenal.

"Aku Kaelion," jawabnya. "Penjaga Keseimbangan Bayangan."

Arkivet bergetar seolah nolak kehadiran Kaelion. Di langit-langit, simbol lama yang tersembunyi mulai nyala, dan naskah-naskah kuno ledak terbakar satu per satu.

"Tempat ini akan runtuh!" seru Alden.

Serina narik Kaelen. "Kau harus keluar sekarang! Kita semua harus keluar!"

Tapi Kaelion tidak bergerak. Ia natap ke dalam dinding batu yang terbuka sendiri, mperlihatkan lorong nuju sesuatu... lebih dalam.

"Relik terakhir... masih ada," bisiknya. "Terkubur di bawah akar dunia."

Alden tertegun. "Kau tahu letaknya?"

"Aku tak tahu." Kaelion berbalik, sorotnya kini sangat berbeda. "Aku rasakannya."

Serina nahan air matanya. "Kaelen... kau bisa kembali. Kau bisa bertarung, bukan sebagai penjaga atau senjata. Tapi sebagai manusia."

Kaelion natapnya lama. Kemudian ia berkata:

"Kalau aku kembali sebagai manusia, dunia akan binasa. Jika aku bertahan sebagai penjaga, maka aku kehilangan semua yang mbuatku hidup."

reka akhirnya keluar dari Arkivet sebelum seluruh lantai bawahnya runtuh ke dalam celah hitam. Langit senja nanti reka di atas reruntuhan, tapi suasananya jauh dari damai.

Kaelen—atau Kaelion—berdiri nghadap barat.

"Apa rencanamu sekarang?" tanya Alden.

"Relik terakhir harus ditemukan sebelum ’Cahaya Baru’ nemukannya lebih dulu."

Serina nggenggam gagang pedangnya, wajahnya keras tapi mata berkaca.

"Apa pun yang kau putuskan nanti," katanya, "aku akan tetap di sisimu."

Kaelion natap langit.

Dan dari balik cakrawala barat, cahaya terang nyala... bukan ntari, tapi sesuatu yang jauh lebih asing.

You are reading The Shattered Light Chapter 112: – Bayangan yang Memanggil on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

The Villain's Story cover
Similar genre

The Villain's Story

Blazuku ·Fantasy

ThreeSoulslayinonebody,Onesoulbelongingtoamanwhohadreachedthepeak,thestrongestthereeverwas,theonewhohadthetalenttodoso.Yethesufferedbecauseofhistal...

Mage Manual cover
Similar genre

Mage Manual

Listening Day ·Fantasy

Ashopenedhiseyestofindthathehadtraveledtoastrangenationofmanyraces,andpeoplewerekneelingbeforehim.BeforehehadtimetoadapttothenewidentityoftheTermin...

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.