Langit nggantung kelabu saat Kaelen natap reruntuhan kuil di belakangnya. Kabut telah surut, tapi hawa dingin masih nempel seperti kenangan yang nolak pergi. Di bawahnya, tanah terasa berat—seolah nyimpan luka dari pertempuran yang belum lama usai.
Serina berjalan perlahan di sampingnya, gangi lengannya yang terbalut perban. Alden tak jauh di belakang, riksa pecahan terakhir dari Relik Cahaya yang reka bawa.
"Apa nurutmu ini akan tetap diam?" tanya Alden, suaranya rendah tapi sarat curiga. "Bayangannya nghilang, tapi siapa tahu..."
Kaelen hanya ngangguk pelan. Ia tak bisa berkata-kata. Ada suara yang masih berputar di kepalanya sejak malam sebelumnya. Suara yang tak asing—dan terlalu familiar.
"Kaelen."
Ia ndongak saat Serina manggilnya.
"Aku tahu kau masih mikirkannya."
"Suara itu..." Kaelen bergumam. "Itu bukan halusinasi."
"Siapa nurutmu itu?"
Ia nggeleng. "Aku tak tahu. Tapi hatiku... seperti ngingatnya. Lebih dari sekadar kenal."
Alden bergabung, ngangkat kepalanya dari belatinya. "Kalau begitu kita harus cari tahu. Kita tak bisa jalan buta ke depan."
Serina natap Kaelen lama, lalu berkata pelan, "Ada satu tempat yang mungkin punya jawaban."
Kaelen noleh. "Di mana?"
"Arkivet tua di bawah reruntuhan Dalenmoor. Sebelum Ordo Cahaya nguasainya, tempat itu nyimpan catatan tentang keseimbangan dunia. Termasuk asal mula Relik... dan mungkin tentang ’penjaga’ yang kita hadapi."
Alden ngangkat alis. "Kau yakin masih ada yang tersisa?"
"Tidak," jawab Serina. "Tapi kita tidak punya pilihan lain."
Tiga hari perjalanan lewati lembah beku dan hutan mati mbawa reka ke Dalenmoor. Kota itu tinggal puing dan batu hangus, peninggalan lama perang Cahaya dan Kegelapan. Tapi di bawahnya—tersimpan Arkivet yang dijaga mantra tua.
reka tiba di celah batu yang tertutup simbol. Kaelen nyentuhnya, dan cahaya hitam keunguan nyala samar di telapak tangannya.
Alden narik napas tajam. "Kau baru saja... mbukanya?"
Kaelen natapnya. "Atau sesuatu di dalam sana mbukanya untukku."
Tangga batu terbuka perlahan, nuruni lorong gelap yang dinginnya lebih tua dari kematian. Bau besi tua dan tinta nuhi udara.
"Langkah ringan," gumam Serina.
Di dalam, ribuan gulungan dan buku tua tersusun dalam rak batu. Suara reka nggema di lorong sempit.
Kaelen narik satu naskah yang tertutup simbol. Saat ia mbuka halaman ketiga, sebuah nama lompat keluar:
Kaelion – Penjaga Kedua Bayangan Cahaya.
Jantungnya berdetak kencang.
Alden bersandar di atas bahunya. "Kaelen... itu nama yang mirip dengan milikmu."
"Bukan mirip," bisik Kaelen. "Itu aku."
Naskah itu muat catatan dari ratusan tahun lalu. Tentang dua penjaga yang diciptakan bersamaan—Cahaya dan Bayangan. Salah satunya nghilang dari sejarah. Di antara baris-baris tua, sebuah gambar samar nggambarkan siluet: satu sosok berdiri dalam kegelapan, yang lain dalam cahaya terbalik.
Serina mbaca keras-keras bagian catatan terakhir:
"Dan sang Bayangan pun nanggalkan ingatannya, milih untuk hidup di antara manusia demi njaga keseimbangan dari dalam... hingga saat dunia kembali manggil namanya."
Kaelen njatuhkan gulungan itu.
"Jadi itu sebabnya... aku kehilangan ingatan setiap kali nggunakan kekuatan?" suaranya serak. "Itu bukan kutukan. Itu... pengingat. Bahwa aku bukan sepenuhnya manusia lagi."
Alden natap Kaelen dengan gentar. "Apa artinya ini bagi kita?"
Kaelen nunduk. "Aku bukan hanya orang yang lawan kehancuran. Aku bagian dari kunci kehancuran itu sendiri."
Serina nggenggam lengannya. "Kau masih Kaelen yang kami kenal. Apa pun kau dulunya, itu tak ngubah siapa dirimu sekarang."
Saat reka hendak keluar dari Arkivet, tanah berguncang. Dinding batu bergetar, dan di langit-langit terukir cahaya berbentuk simbol yang mbelah dirinya njadi dua warna—emas dan hitam.
Bayangan muncul di ujung lorong. Bukan sepenuhnya berbentuk manusia. Tapi dari dalamnya, suara yang familiar bergema:
"Kaelion."
Kaelen negang.
Suara itu lanjutkan, "Waktumu telah tiba. Keseimbangan telah rusak. Dan bagian dirimu yang telah hilang—akan segera kembali."
Serina narik pedangnya. "Jangan dengarkan dia."
Tapi Kaelen berdiri diam. Pandangannya kosong sejenak.
Bayangan itu perlahan nampakkan bentuk—bukan ancaman, tapi seseorang. Perempuan. Wajahnya hanya sebagian terlihat, tapi cukup untuk ngguncang Kaelen.
"Lyra?" bisiknya, terengah.
Alden kik. "Itu mustahil. Lyra tidak bisa berada di sini—"
Namun Kaelen sudah langkah ndekat, tak ndengar apa pun selain detak jantungnya.
Sosok itu tersenyum samar. "Kau tidak ngingatku. Tapi aku di sini, karena bagian dirimu yang hilang... masih manggilku."
Seketika, tubuh Kaelen tersentak. Bayangan dari lantai nyerap ke dalam tubuhnya, dan kepalanya dipenuhi gambaran wajah, tawa, dan air mata yang tak bisa ia tempatkan.
Ia jatuh berlutut.
Serina luknya dari belakang. "Kaelen! Lawan itu! Jangan biarkan dia rebutmu!"
Kaelen nggigil, suaranya nyaris tidak terdengar.
"Kenapa aku... rasa ini semua sudah pernah terjadi?"
Reviews
All reviews (0)