Font Size
15px

Kabut semakin tebal, nyelimuti hutan dengan keheningan yang ncekam. Udara yang tadinya hanya dingin kini mulai nusuk kulit, mbawa serta desiran yang terdengar seperti bisikan samar. Langkah Kaelen terhenti di depan simbol bercahaya yang terukir di tanah, seakan nyegel sesuatu yang tidak boleh dibangkitkan.

"Kau akhirnya datang... Kaelen," suara itu terdengar lagi, lebih jelas, lebih dekat. Namun kali ini, bukan hanya Kaelen yang ndengarnya.

Serina nggenggam busurnya erat. "Aku tidak suka ini. Siapa pun atau apa pun itu, dia tahu siapa kau."

Alden nyipitkan mata ke dalam kabut. "Dan itu berarti kita tidak bisa ngabaikannya. Kita harus ncari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini."

Kaelen ngangguk, tetapi hatinya terasa berat. Ada sesuatu yang familiar dalam suara itu, sesuatu yang ngganggu pikirannya, seolah-olah ingatan yang hilang ncoba kembali dalam bentuk bayangan.

"Jika kita ingin ndapatkan jawaban, kita harus masuk lebih dalam," kata Kaelen akhirnya.

Tanpa nunggu jawaban, ia langkah maju, lewati simbol yang bersinar di tanah. Begitu kakinya nyentuhnya, udara di sekitar reka bergemuruh. Pepohonan bergoyang seolah diterpa angin yang tak terlihat, dan kabut bergerak mundur, mbuka jalan ke sebuah reruntuhan tua yang tersembunyi di tengah hutan.

"Itu... bukan di sana sebelumnya," gumam Serina.

Kaelen natap reruntuhan itu dengan ekspresi serius. Bangunan itu terlihat seperti sisa dari sebuah kuil lama, tetapi bagian dalamnya tenggelam dalam kegelapan pekat, seolah nelan semua cahaya yang ndekatinya.

"Apa pun yang nunggu kita di sana, kita tidak punya pilihan selain masuk," kata Kaelen.

reka bertiga berjalan nuju kuil, setiap langkah terasa semakin berat. Begitu lewati gerbang yang setengah runtuh, suasana berubah drastis. Kabut nghilang, digantikan oleh kegelapan yang jauh lebih padat dari malam biasa.

Alden nelan ludah. "Aku lebih suka kabut daripada ini."

reka langkah lebih dalam, dan suara itu kembali terdengar, kali ini dari berbagai arah.

"Kaelen... kau tidak ingat, bukan?"

Kilasan ingatan muncul di benaknya—bayangan seseorang yang berdiri di bawah cahaya remang-remang, suara lembut yang pernah nghangatkan hatinya. Namun, ketika ia ncoba ngingat lebih jelas, semua itu nghilang seperti asap yang tertiup angin.

Darahnya berdesir. Ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin berteriak, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan. Seolah tubuhnya ngenali sosok itu, tetapi pikirannya nolak untuk nerima kenyataan.

Jantung Kaelen berdegup kencang. Itu adalah suara yang sama yang ia dengar di reruntuhan kuil. Ia noleh ke kanan dan kiri, ncari sumber suara, tetapi tidak ada siapa pun di sana.

"Apa itu?" tanya Serina dengan suara pelan.

Kaelen nggeleng, berusaha tetap fokus. "Kita harus terus maju. Jangan terpengaruh oleh hal-hal yang tidak bisa kita lihat."

Namun, saat reka ngambil langkah berikutnya, udara di sekitar reka berubah. Kabut tipis muncul entah dari mana, rayap di antara pepohonan dan nyelimuti jalan setapak di depan reka. Cahaya matahari semakin redup, seolah-olah hutan nolak kehadiran reka.

Serina langkah mundur, rasakan udara di sekitar reka semakin berat. "Kaelen, kita tidak seharusnya ada di sini terlalu lama."

Kaelen tidak bergeming. Suatu kekuatan tak terlihat ngikatnya ke tempatnya berdiri.

Tiba-tiba, nyala api biru nyala di sepanjang dinding kuil, nerangi ruangan yang luas. Dinding kuil tampak bergerak samar, seperti ada sesuatu yang ngintip dari balik batuan. Suara-suara berbisik lirih, tetapi saat Kaelen ncoba fokus, reka nghilang begitu saja—seakan hanya ilusi... atau mungkin tidak.

Di tengah ruangan, sebuah sosok berdiri—setengah tertutup bayangan, tetapi wajahnya perlahan terlihat di bawah cahaya biru itu.

Serina nghirup napas tajam. "Tidak..."

Alden langkah mundur. "Ini... ini tidak mungkin."

Kaelen mbeku di tempatnya. Sosok itu... seseorang yang seharusnya sudah lama hilang dari dunia ini. Namun di sana ia berdiri, natap Kaelen dengan mata yang dipenuhi sesuatu yang tidak bisa ia pahami.

"Kaelen," kata sosok itu, suaranya ngandung kesedihan dan kemarahan yang bercampur. "Aku telah nunggumu begitu lama."

Kaelen natapnya, napasnya tersengal. Lantai di bawahnya tiba-tiba terasa berdenyut, seolah-olah kuil itu sendiri hidup dan respons kehadiran sosok tersebut.

"Siapa kau?" tanyanya, ski sebagian dari dirinya sudah tahu jawabannya.

Sosok itu tersenyum tipis, tetapi ada kepedihan di baliknya. "Aku... adalah bagian dari dirimu yang kau lupakan. Dan kini, aku di sini untuk ngambilnya kembali."

Tiba-tiba, bayangan di lantai bergerak seperti gelombang. Sebelum Kaelen sempat bereaksi, tangan hitam lesat keluar, ncengkeram pergelangan kakinya. Tarikannya begitu kuat hingga tubuhnya hampir terseret ke dalam kegelapan.

Serina berteriak, narik busurnya. "Kaelen!"

Kaelen nghunus pedangnya, ncoba mbebaskan diri, tetapi cengkeraman itu semakin erat. Ia rasakan sesuatu nariknya ke dalam sesuatu yang lebih dari sekadar bayangan—sesuatu yang berasal dari masa lalunya yang telah lama ia lupakan.

Senyuman sosok itu semakin jelas di dalam kabut, lalu suara tawa lirih terdengar, pelan namun nusuk.

"Akhirnya... kau kembali kepadaku."

Lalu semuanya nghilang, ninggalkan kesunyian yang lebih ngerikan daripada suara apa pun.

You are reading The Shattered Light Chapter 110: – Bayangan Masa Lalu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Big Data Cultivation cover
Similar genre

Big Data Cultivation

Chen Fengxiao ·Fantasy

Asagraduatewithadoubledegreefromaprestigiousuniversity,FengJunsomehowremainsunemployedaftergraduation.Hestrugglesinthecity,buthecan’tletgoofhisprid...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.