Langkah kaki Kaelen bergema di atas tanah berbatu saat ia dan kelompoknya berjalan ninggalkan reruntuhan kuil yang telah reka hancurkan. Matahari mulai ninggi, ngusir sisa-sisa kegelapan yang masih nggantung di ufuk timur. Namun, skipun cahaya kembali nerangi dunia, ada sesuatu yang masih bersembunyi di dalam bayangan.
Serina berjalan di sisi Kaelen, tangannya masih nekan luka di bahunya. "Aku tidak suka ini. Sesuatu terasa... tidak beres."
Alden, yang berjalan beberapa langkah di belakang reka, ngangguk setuju. "Aku juga rasakannya. Seperti kita sedang diawasi."
Kaelen nghentikan langkahnya, matanya nyapu daerah sekitar. Hutan lebat terbentang di hadapan reka, bayangannya tampak bergerak seiring angin bertiup di antara pepohonan. Ia ngepalkan tangannya di gagang pedangnya, bersiap jika sesuatu muncul dari kegelapan.
"Bayangan dari Relik itu larikan diri ke arah barat," kata Kaelen akhirnya. "Jika kita ingin nghentikannya sebelum ncapai sesuatu yang lebih berbahaya, kita harus nemukan jejaknya."
Serina ndesah pelan. "Kalau begitu, kita tidak punya waktu untuk beristirahat."
reka lanjutkan perjalanan, nembus hutan yang semakin gelap dan sunyi. Udara di sekitar reka terasa berat, seperti ada sesuatu yang bersembunyi di antara pepohonan. Beberapa kali Kaelen rasakan kehadiran yang aneh, seolah-olah reka berjalan di dalam labirin yang diawasi oleh mata tak terlihat.
Tiba-tiba, Alden nghentikan langkahnya dan berjongkok, mperhatikan sesuatu di tanah. "Lihat ini." Ia nunjuk jejak samar di tanah berlumpur, berbentuk seperti jejak kaki manusia tetapi dengan pola yang aneh—seperti bayangan yang terukir di tanah.
Serina berlutut di sampingnya, ekspresinya tegang. "Ini bukan jejak biasa. Seolah-olah sesuatu berjalan di sini, tetapi tidak sepenuhnya nyata."
Kaelen nyentuh tanah itu dengan ujung jarinya, rasakan dingin yang aneh. "Kita semakin dekat. Bayangan itu masih belum jauh dari kita."
Saat reka bangkit untuk lanjutkan perjalanan, sebuah suara berbisik di udara—lembut, hampir tak terdengar, tetapi cukup untuk mbuat reka berhenti.
"Kaelen..."
Kilasan ingatan muncul di benaknya—bayangan seseorang yang berdiri di bawah cahaya remang-remang, suara lembut yang pernah nghangatkan hatinya. Namun, ketika ia ncoba ngingat lebih jelas, semua itu nghilang seperti asap yang tertiup angin.
Jantung Kaelen berdegup kencang. Itu adalah suara yang sama yang ia dengar di reruntuhan kuil. Ia noleh ke kanan dan kiri, ncari sumber suara, tetapi tidak ada siapa pun di sana.
"Apa itu?" tanya Serina dengan suara pelan.
Kaelen nggeleng, berusaha tetap fokus. "Kita harus terus maju. Jangan terpengaruh oleh hal-hal yang tidak bisa kita lihat."
Namun, saat reka ngambil langkah berikutnya, udara di sekitar reka berubah. Kabut tipis muncul entah dari mana, rayap di antara pepohonan dan nyelimuti jalan setapak di depan reka. Cahaya matahari semakin redup, seolah-olah hutan nolak kehadiran reka.
Alden ngerutkan kening. "Aku... rasa kita sudah lewati tempat ini sebelumnya."
Serina nggigit bibirnya. "Jangan bicara begitu. Aku juga rasakannya."
Kaelen natap sekeliling—batang pohon yang tadinya di depan reka, kini ada di belakang. Seolah kabut itu nyesatkan reka.
Langkah reka lambat saat reka semakin masuk ke dalam kabut. Suara langkah kaki reka terdengar lebih dalam, lebih bergema, seolah-olah reka berjalan di atas sesuatu yang bukan tanah biasa. Lalu, sesuatu nyentuh bahu Kaelen. Ia berbalik cepat, tetapi tidak ada siapa pun di sana.
Alden ngeluarkan belatinya. "Kita tidak sendirian."
Bayangan muncul di antara pepohonan. Tidak berbentuk jelas, hanya siluet yang bergerak cepat di antara batang-batang kayu. Serina narik busurnya, bersiap untuk nembak, tetapi Kaelen ngangkat tangan untuk nghentikannya.
"Tunggu. Jangan nyerang dulu. Kita tidak tahu apa itu."
Bayangan itu berhenti, berdiri diam di antara pepohonan, ngawasi reka. Kemudian, suara itu kembali berbisik.
"Kaelen... kau datang untukku...?"
Mata Kaelen nyipit. Ia ngenali suara itu sekarang. Itu suara yang pernah ia lupakan, suara seseorang yang pernah berarti dalam hidupnya.
"Tidak mungkin..." bisiknya.
Serina natapnya dengan cemas. "Kaelen, siapa itu?"
Sebelum Kaelen bisa njawab, bayangan itu bergerak cepat ke depan, nghilang di balik kabut. Namun, sesuatu tertinggal di tempatnya—sebuah simbol yang terukir di tanah, bercahaya redup dengan aura kegelapan.
Serina natap Kaelen. "Dan jika kita tidak bisa nghentikannya?"
Kaelen ngepalkan tangan. "Kalau kita gagal... dunia mungkin akan nghadapi ancaman yang lebih besar dari yang pernah kita duga."
reka natap simbol itu dengan perasaan tidak nyaman. Bayangan yang tersenyum di dalam kabut semakin jelas, lalu suara tawa lirih terdengar, pelan namun nusuk.
"Kau akhirnya datang... Kaelen."
Lalu semuanya nghilang, ninggalkan kesunyian yang lebih ngerikan daripada suara apa pun.
Reviews
All reviews (0)