Angin pagi berembus lembut, mbawa aroma tanah basah dan debu reruntuhan. Matahari mulai nampakkan sinarnya di cakrawala, nyinari sisa-sisa kuil yang telah runtuh. Kaelen berdiri diam di tengah reruntuhan, tubuhnya terasa berat, bukan hanya karena kelelahan tetapi juga oleh beban emosional yang nghimpit dadanya.
Serina langkah ndekat, wajahnya masih berlumuran keringat dan darah. "Kita harus pergi dari sini sebelum tempat ini benar-benar runtuh."
Kaelen tidak njawab. Matanya terpaku pada pecahan Relik Cahaya yang masih berkilauan samar di antara puing-puing. Ada sesuatu yang terasa salah. ski reka telah ngalahkan sosok misterius itu, ia tidak bisa nghilangkan perasaan bahwa ini belum sepenuhnya berakhir.
Alden yang masih terengah-engah duduk di atas batu yang tersisa, ngusap luka di lengannya. "Apa yang kita lakukan sekarang? Ordo Cahaya sudah runtuh, tetapi... aku tidak rasa dunia ini benar-benar aman."
Kaelen narik napas dalam. "Aku juga tidak."
Tiba-tiba, pecahan Relik Cahaya bergetar, dan dalam sekejap, kilatan energi hitam nyebar dari serpihannya. Kaelen refleks ngangkat pedangnya, tetapi sebelum ia bisa bergerak lebih jauh, cahaya itu mudar, ninggalkan bayangan samar yang nghilang ke dalam udara pagi.
Suara bisikan samar terdengar—bukan suara yang familiar, tetapi sesuatu yang nuhi udara, seperti seseorang yang berbicara dari tempat yang sangat jauh. Kaelen rasakan bulu kuduknya berdiri.
"Kaelen..." suara itu manggil sebelum nghilang bersama angin.
Serina nyipitkan mata. "Apa itu? Apakah dia masih hidup?"
Alden nelan ludah, jelas rasakan hal yang sama. "Atau mungkin... sesuatu yang lebih buruk baru saja terlepas."
Kaelen ngepalkan tangannya, lalu nghunus pedangnya kembali ke sarungnya. "Kita tidak bisa ngabaikannya. Jika ada sesuatu yang tersisa dari Relik itu, kita harus mastikan bahwa tidak ada yang bisa nggunakannya lagi."
Serina natapnya lama sebelum akhirnya ngangguk. "Kalau begitu, kita harus ncari tahu ke mana bayangan itu pergi."
Alden ndesah lelah. "Aku rasa kita baru saja keluar dari satu pertempuran hanya untuk masuk ke pertempuran lainnya."
Kaelen nepuk bahu Alden dengan lembut. "Bukankah itu sudah njadi bagian dari hidup kita?"
Alden ngangkat bahu dengan tawa pahit. "Aku hanya berharap kita bisa ndapat waktu istirahat sebelum dunia kembali berantakan."
Kaelen natap reruntuhan kuil, ngingat Eryon yang mudar dalam cahaya terakhirnya. Ia ingin percaya bahwa pengorbanan Eryon miliki arti. Tapi apakah dunia benar-benar akan berubah? Ataukah reka hanya ngulang sejarah dengan musuh yang berbeda?
Serina narik napas tajam saat ia nyentuh bahunya yang terluka. "Aku rasa seperti sudah bertarung selama seumur hidup."
Alden ngangguk sambil tertawa getir. "Mungkin kita mang sudah."
Kaelen ngangkat tangannya—getar, nyaris tak bisa nggenggam pedangnya dengan benar. Tetapi reka harus terus bergerak.
"Kita tidak bisa ngejar bayangan tanpa tahu ke mana arahnya," kata Alden.
Serina ngangguk. "Ada seseorang di barat yang mungkin bisa mbantu. Seorang penyintas lama dari Ordo Cahaya."
Kaelen natap horizon. "Kalau begitu, kita nuju barat."
Di antara reruntuhan, kilauan samar muncul dari pecahan Relik Cahaya yang tersisa. Seolah ada sesuatu—atau seseorang—yang masih ngawasi.
Tanpa noleh lagi, Kaelen langkah ke depan, ninggalkan reruntuhan kuil di belakangnya. Serina dan Alden saling pandang sebelum akhirnya ngikuti langkahnya.
reka tidak tahu apa yang nunggu di depan. Tetapi satu hal pasti—perjalanan reka belum berakhir.
Reviews
All reviews (0)