Font Size
15px

Cahaya dan bayangan bertabrakan dalam ledakan yang ngguncang seluruh kuil. Kaelen ngayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh, nebas gelombang energi yang datang dari sosok misterius itu. Serina bergerak cepat di sampingnya, nghindari serangan bayangan yang lesat dari segala arah, sentara Alden ngerahkan seluruh kekuatannya untuk njaga keseimbangan dan pertempuran.

Sosok itu tertawa, suaranya nggema seperti ribuan bisikan yang nyatu. "Kalian benar-benar berpikir bisa lawan takdir? Aku telah ada sebelum dunia ini terbentuk, dan aku akan tetap ada setelah semuanya hancur."

Kaelen nahan serangan telak yang mbuatnya terdorong ke belakang, kakinya nggesek lantai batu yang mulai retak. Napasnya berat, tetapi matanya tetap tajam. "Takdir bukan sesuatu yang ditentukan oleh makhluk seperti kau. Kami masih di sini, dan kami tidak akan mbiarkanmu nghancurkan dunia ini."

Serina nembakkan anak panah bertubi-tubi, tetapi setiap serangannya lenyap sebelum ncapai target. Sosok itu hanya ngangkat satu tangan, dan dalam sekejap, bayangan mbelit tubuh Serina, ngangkatnya ke udara.

"Serina!" Alden berteriak, berlari ke arahnya, tetapi bayangan nahannya di tempat.

Serina ronta, pedangnya berkilauan dalam cahaya redup. "Kaelen! Lakukan sesuatu!"

Kaelen bergerak cepat, lesat ke depan dengan kekuatan yang tersisa, tetapi sebelum ia bisa ndekat, sosok itu ngibaskan tangannya dan nghantam Kaelen dengan gelombang energi yang lemparkannya ke seberang ruangan.

Tubuhnya nghantam pilar batu yang mulai runtuh. Nyeri njalar ke seluruh tubuhnya, tetapi ia maksakan diri untuk bangkit. Matanya nangkap sosok Eryon, yang masih berdiri di tengah pusaran energi, tubuhnya setengah transparan tetapi sorot matanya penuh tekad.

Eryon natap Kaelen. "Aku bisa nghentikannya... tapi aku butuh bantuanmu."

Kaelen ngusap darah di sudut bibirnya. "Katakan bagaimana caranya."

Eryon ngulurkan tangannya, dan energi dari tubuhnya mulai nyatu dengan Relik Cahaya yang layang di udara. "Relik ini adalah sumber kekuatannya. Jika kita bisa ngarahkan energinya ke dalam dirinya sendiri, kita mungkin bisa ngakhiri ini."

Kaelen ngangguk. "Lalu kita lakukan sekarang."

Sosok itu nyadari rencana reka dan raung, suaranya ngguncang dinding kuil yang sudah mulai runtuh. "Kalian tidak akan berhasil! Aku adalah keseimbangan, dan aku tidak bisa dihancurkan!"

Namun, Kaelen dan Eryon sudah bergerak. Kaelen lompat ke udara, pedangnya berpendar dengan cahaya yang dipenuhi kekuatan terakhirnya. Eryon, dengan energi yang semakin berkurang, ngarahkan tangannya ke Relik Cahaya, narik setiap serpihan energi yang masih tersisa.

Serina berhasil lepaskan diri dari bayangan dan berlari ke sisi Kaelen. "Apa pun yang akan kau lakukan, lakukan sekarang! Tempat ini akan runtuh!"

Alden lemparkan pisau kecil yang bersinar ke arah Relik, mberi celah bagi Kaelen untuk bergerak. Dengan satu teriakan penuh tekad, Kaelen ngayunkan pedangnya, nebas pusaran energi yang nyelimuti sosok itu.

Ledakan terjadi.

Cahaya dan bayangan nyatu dalam kilatan yang nyilaukan, dan dunia seolah berhenti untuk sesaat. Sosok itu ngerang, tubuhnya mulai nghilang ke dalam kegelapan, terserap kembali ke dalam Relik Cahaya.

Kaelen jatuh ke tanah, tubuhnya lelah, napasnya tersengal. Di sebelahnya, Eryon berdiri dengan tubuh yang semakin pudar. Ia natap Kaelen dengan senyum lemah.

"Sepertinya... ini akhir dari jalanku."

Kaelen natapnya, masih sulit mpercayai bahwa Eryon, musuh sekaligus temannya, akhirnya milih untuk ngorbankan dirinya demi keseimbangan dunia.

Eryon natap tangannya yang transparan, ekspresinya penuh penyesalan. "Aku berharap... segalanya bisa berjalan berbeda." Tangannya yang semakin mudar perlahan terangkat, seolah ingin nyentuh sesuatu yang tak terlihat. "Jangan buat kesalahan yang sama seperti aku."

Kaelen ingin ngatakan sesuatu, tetapi kata-kata terasa tersangkut di tenggorokannya. Ia hanya bisa ngangguk, nyaksikan saat Eryon akhirnya nghilang bersama cahaya terakhir dari Relik Cahaya.

Serina dan Alden ndekat, natap puing-puing kuil yang kini benar-benar runtuh. Langit di atas reka terbuka, mperlihatkan fajar yang perlahan muncul di cakrawala.

Serina letakkan tangannya di bahu Kaelen. "Sudah berakhir. Kita nang."

Kaelen nghela napas panjang, natap reruntuhan di hadapannya. "Ya... tapi berapa harga yang harus kita bayar?"

Serina raba luka di bahunya, darah rembes lalui kain yang robek. Alden tersungkur ke tanah, napasnya pendek dan terputus-putus. Kaelen nyadari lututnya getar, tubuhnya kehabisan tenaga, tetapi ia tetap berdiri.

Di antara reruntuhan, kilauan samar muncul dari pecahan Relik Cahaya yang tersisa. Seolah ada sesuatu—atau seseorang—yang masih ngawasi.

Fajar mulai nyingsing di cakrawala, nyapu langit yang sebelumnya dipenuhi kegelapan. Namun, di dalam hati Kaelen, masih ada bayangan yang belum sepenuhnya sirna.

You are reading The Shattered Light Chapter 107: – Keputusan di Ambang Kegelapan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Slime True Immortal cover
Similar genre

Slime True Immortal

肚子有点胀 ·Fantasy

Spring—aseasonofrenewalandrebirth.Intheswampforest,magicalbeastswerebeginningtostir.Onthereed-linedriverbanks,beastkinsharpenedsticksandsettraps,ly...

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.