Font Size
15px

Malam di desa terasa lebih berat dari biasanya.Angin berdesir mbawa suara-suara aneh yang terdengar seperti bisikan dari balik bayang-bayang.

Kaelen berdiri di balkon balai utama, matanya ngawasi api unggun yang perlahan redup di tengah desa.Setiap suara, setiap bayangan kecil, mbuat hatinya berdegup lebih keras.

Lyra muncul di belakangnya, mbungkus dirinya dengan selimut tipis.

"reka takut," katanya pelan.

Kaelen tidak njawab.

"reka tidak hanya takut akan kegelapan," lanjut Lyra, suaranya rendah. "reka takut satu sama lain."

Kaelen akhirnya noleh, natap mata Lyra yang tampak lelah.

"Karena ada alasan untuk itu," katanya. "Kita tidak tahu siapa yang masih bersama kita... dan siapa yang sudah nyerah pada kegelapan."

Pagi itu, reka manggil pertemuan darurat di balai desa.

Orang-orang berkumpul, wajah reka penuh kecemasan.Bisikan-bisikan nuhi ruangan.

Serina berdiri di atas panggung kecil, bersama Kaelen dan Alden.

"Beberapa dari kita," kata Serina, suaranya keras dan jelas, "nghilang. Beberapa mati. Dan kita tahu... ada pengkhianat di antara kita."

Gema kata itu — pengkhianat — nyebar seperti api.

Orang-orang mulai saling natap dengan curiga.

Alden langkah maju.

"Kita tidak nuduh sembarangan," katanya. "Tapi kita butuh kewaspadaan. Mulai hari ini, setiap kelompok patroli berisi tiga orang. Tidak ada yang bergerak sendirian."

Tangan terangkat di antara kerumunan.Seorang pria muda — Evin, salah satu petani — berbicara.

"Bagaimana kita tahu kalian tidak nyembunyikan sesuatu dari kami? Kalian selalu berbisik di ruangan tertutup!"

Suasana manas.

Kaelen turun dari panggung, berjalan pelan ke tengah kerumunan.

"Kalau kalian tidak percaya kami," katanya datar, "maka kita sudah kalah bahkan sebelum pertempuran dimulai."

Sunyi.

"Aku tidak minta kepercayaan buta," lanjutnya. "Aku hanya minta waktu. Sedikit saja. Untuk nemukan siapa yang berusaha nghancurkan kita dari dalam."

Malam itu, Kaelen, Lyra, Serina, dan Alden lakukan pencarian diam-diam.

reka mulai dari rumah-rumah kosong yang dulu digunakan oleh para korban selamat.

Di salah satu gubuk tua di tepi desa, Kaelen nemukan sesuatu.

Lambang Voren.Terlukis samar di bagian bawah ja kayu, nyaris tak terlihat kecuali jika kau benar-benar ncarinya.

Serina ndekat, riksanya dengan seksama.

"Ini baru," gumamnya. "Belum lama dibuat."

Lyra berlutut di samping reka.

"Ini bukan hanya simbol. Ini... mantra penghubung. Semacam tanda pemanggil."

Kaelen rasa perutnya ngeras.

"Berarti ada seseorang di antara kita yang masih berusaha mbangkitkan kegelapan."

Alden nghela napas berat.

"Kita harus bertindak sebelum reka bertindak duluan."

Malam berikutnya, penjagaan diperketat.

Tapi ketakutan... itu tidak bisa dikurung.

Kaelen riksa daftar penjaga. Ia nyadari satu hal aneh.

Nama Arven — seorang pemburu muda — muncul dua kali di dua tempat berbeda.

Kaelen bertukar pandang dengan Serina.

"Kita harus riksanya."

reka nemukan Arven di dekat gudang makanan.

Ketika lihat Kaelen ndekat, Arven bereaksi.

Terlalu cepat.

Terlalu bersalah.

Kaelen bergerak seperti bayangan, njatuhkan Arven ke tanah sebelum pria itu sempat larikan diri.

"Kenapa kau berbohong soal pos jagamu?" bentak Serina.

Arven bergumam, ncoba nghindar.

Alden datang mbawa kantung kecil yang jatuh dari ikat pinggang Arven.

Di dalamnya — secarik kertas bertulis mantra kuno, sama seperti yang ditemukan Kaelen.

Lyra natapnya dengan ngeri.

"Dia... bagian dari reka."

Arven nggeram, berusaha bangkit, tetapi Kaelen nekannya ke tanah.

"Siapa lagi?" tanya Kaelen dingin. "Siapa yang mbantumu?"

Arven tersenyum tipis, darah netes dari sudut bibirnya.

"Kalian pikir kalian nang? Kalian hanya ngulur waktu. Kegelapan... sudah ngakar di sini. Di hati kalian semua."

Kaelen natapnya, rasa amarah dan kesedihan bercampur jadi satu.

Di balai desa, orang-orang nuntut hukuman untuk Arven.

"Gantung dia!" teriak beberapa.

"Bakar dia!" yang lain njerit.

Kaelen berdiri di tengah reka, tubuhnya terasa berat.

Lyra berbisik di sampingnya.

"Kalau kita bertindak dengan kemarahan... kita tidak lebih baik dari dia."

Kaelen nutup mata sejenak.

ngingat semua yang sudah hilang.

Lalu ia mbuka mata, dan berkata,

"Arven akan diasingkan. Kita tidak akan mbunuhnya."

"Tapi dia akan kembali!" teriak seseorang.

"Mungkin," kata Kaelen. "Tapi kalau kita mulai mbunuh satu sama lain karena ketakutan... maka kita sudah kalah."

Suasana hening. Berat.Tapi perlahan, satu per satu, orang-orang mundur.

Arven diikat dan dibawa keluar desa, dibiarkan di jalanan berbatu yang ngarah ke hutan.

Malam itu, desa terasa lebih dingin dari biasanya.

Di atas nara jaga, Kaelen dan Lyra duduk berdampingan.

reka natap langit berbintang yang kini terasa begitu jauh.

"Berapa banyak yang harus kita korbankan sebelum ini berakhir?" tanya Lyra pelan.

Kaelen tidak tahu jawabannya.

Tapi ia tahu satu hal:Bayangan di balik fajar tidak akan pergi dengan sendirinya.

reka harus nghadapinya.

Bersama.

Apa pun harga yang harus reka bayar.

You are reading The Shattered Light Chapter 138: – Bisikan dalam Gelap on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.