Font Size
15px

Angin dingin niup tirai rusak di balai desa, mbawa masuk aroma tanah basah dan sesuatu yang lain...Sesuatu yang lebih berat.Lebih gelap.

Kaelen berdiri di depan peta kasar desa yang dipaku di dinding.Jarum-jarum kayu kecil bertanda lokasi orang-orang yang baru saja reka percayai — dan kini harus diawasi.

Di belakangnya, suara langkah kaki ndekat.Serina, Lyra, dan Alden.

"Kita dalam masalah," kata Serina tanpa basa-basi.

Kaelen berbalik perlahan.

"Berapa banyak lagi?"

Alden njawab, suaranya datar.

"Tiga orang hilang lagi semalam. Tidak ada jejak. Tidak ada perlawanan."

Lyra luk dirinya sendiri, wajahnya cemas.

"Ini... bukan sekadar penculikan. Ini... penghilangan. Seolah-olah reka diserap oleh sesuatu."

Kaelen ngepalkan tinjunya.Rasa bersalah nusuk dadanya — seperti belati tumpul yang diputar perlahan.

Malam itu, rumor beredar lebih cepat daripada penjaga yang bertugas.

Kaelen ndengar percakapan sumbang dari sudut-sudut gelap:

"Mungkin para pemimpin kita yang nyerahkan reka...""Kau lihat Kaelen? Selalu berkeliaran saat orang hilang...""reka bilang Lyra punya darah dari Cahaya... siapa tahu dia yang mbuka pintu bagi bayangan?"

Kaelen ngetatkan rahangnya saat ndengar itu.

"Ketakutan mbuat orang buta," gumam Serina, berdiri di sampingnya.

"Tak butuh musuh luar kalau kita sudah mbunuh kepercayaan satu sama lain," balas Kaelen.

Lyra nunduk, suaranya pecah.

"Mungkin aku harus pergi. Setidaknya... kalau aku tidak di sini, reka berhenti curiga."

Kaelen langsung natapnya, keras.

"Jangan pernah bilang begitu lagi."

Alden ngangguk setuju.

"Kalau kita berpecah... kita kalah."

Di ruang pertemuan kecil reka, Kaelen rentangkan peta lagi.

Ia nunjuk satu titik: Gua Abis, di luar batas desa.Tempat yang dulu hanya cerita horor untuk nakut-nakuti anak-anak.

"Aku yakin," kata Kaelen, "sumber kekacauan ini berasal dari sana."

Serina ngerutkan alis.

"Gua Abis? Itu bunuh diri, Kaelen. Bahkan sebelum perang, tidak ada yang kembali dari sana."

"Justru itu," jawab Kaelen. "Kalau musuh bersembunyi, reka akan pilih tempat yang tak tersentuh."

Lyra berbicara perlahan.

"Kalau itu jebakan?"

"Kalau kita diam di sini," balas Kaelen, "kita tetap akan hancur perlahan. Lebih baik kita lawan reka di dan pilihan kita."

Sunyi.

Semua natap satu sama lain.

Akhirnya, Alden ngangguk.

"Kalau kita pergi, kita semua pergi. Tidak ada yang tertinggal."

reka berangkat sebelum fajar.

Kabut nggantung rendah, nelan dunia dalam putih pekat.

Langkah-langkah reka hampir tak bersuara di tanah basah.

"Aku benci tempat ini," gumam Alden, gang erat gagang kapaknya.

"Semua orang waras mbencinya," jawab Serina, matanya tajam, anak panah siap di busurnya.

Lyra berjalan dekat Kaelen, jarak di antara reka seolah rapat oleh ketakutan bersama.

"Kaelen," bisiknya, "kalau kita tidak kembali—"

"Kita akan kembali," potong Kaelen, nadanya tidak sekadar janji, tapi keyakinan yang dipaksakan.

"Kalau tidak..." Lyra maksa dirinya bicara, "Aku ingin kau tahu... aku tidak nyesal milih bertarung bersamamu."

Kaelen noleh cepat, matanya beradu dengan mata Lyra yang penuh ketulusan.

Ia ingin njawab.

Ingin berkata bahwa ia juga rasa sama.

Tapi waktu reka habis.

Dari depan, Serina ngangkat tangan, mberi isyarat berhenti.

Di sana.

Mulut Gua Abis nganga, seperti rahang monster purba.

Dan dari dalam kegelapan... terdengar bisikan.

reka langkah masuk dengan hati-hati.

Dinding gua terasa hidup — bergetar samar di bawah sentuhan.

Saat reka nembus lebih dalam, suara bisikan makin keras.

Dan lalu, dari bayangan, sosok muncul.

Kaelen nghunus pedangnya.

"Siapa di sana?!"

Sosok itu langkah ke dalam cahaya redup lentera.

Kaelen mbeku.

Lyra nahan napas.

Itu...

Itu adalah Taren.

Teman lama reka yang dikira sudah mati dalam serangan Ordo Cahaya berbulan-bulan lalu.

Tapi matanya...Bukan lagi mata seorang sahabat.

reka hitam — penuh kegelapan cair.

"Kau tidak ngerti, Kaelen," bisiknya. "Aku tidak mati. Aku... terlahir kembali."

Serina mbidik busurnya.

"Jangan dekati kami, Taren."

Taren tersenyum—senyum yang mbuat darah mbeku.

"Kalian pikir kalian bisa mbangun dunia baru? Dunia tanpa kegelapan? Itu... mimpi yang sudah mati. Kegelapan ada dalam darah kita. Dalam tulang kita."

Kaelen maju satu langkah.

"Aku tidak percaya itu."

"Kau akan," kata Taren. "Atau kau akan hancur ncoba nyangkalnya."

Suara gemuruh terdengar dari dalam gua.Dinding bergetar.

Dan di balik Taren... bayangan-bayangan lain bermunculan.

reka bukan sendirian.

Ini bukan sekadar pertempuran untuk desa.

Ini perang untuk jiwa dunia.

Dan Kaelen tahu — dia harus nang.Bukan hanya dengan kekuatan.

Tapi dengan harapan yang bertahan di dalam dirinya.

Bahkan saat bayangan ncoba nelannya bulat-bulat.

You are reading The Shattered Light Chapter 139: – Jerat Kegelapan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Big Data Cultivation cover
Similar genre

Big Data Cultivation

Chen Fengxiao ·Fantasy

Asagraduatewithadoubledegreefromaprestigiousuniversity,FengJunsomehowremainsunemployedaftergraduation.Hestrugglesinthecity,buthecan’tletgoofhisprid...

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.