Font Size
15px

Udara di dalam Gua Abis semakin berat.Setiap tarikan napas terasa seperti nelan debu dan bayangan.

Kaelen berdiri, matanya ngunci pada Taren.Di belakang sahabat lamanya, bayangan-bayangan lain bermunculan—orang-orang yang dulu reka kira telah mati, kini hidup kembali sebagai boneka kegelapan.

"Taren," seru Kaelen, suaranya bergetar antara amarah dan kesedihan. "Ini bukan dirimu."

Taren tertawa pelan.Suara itu mantul di dinding gua, terdengar seperti banyak suara yang bergema sekaligus.

"Ini adalah aku yang sebenarnya, Kaelen. Dunia ini nipu kita. njanjikan cahaya... lalu mbiarkan kita mbusuk dalam kegelapan."

Serina langkah maju, busurnya siap, ujung anak panahnya bergetar sedikit.

"Kau milih ini. Kau nyerah!"

"Aku milih bebas!" raung Taren, dan seketika bayangan-bayangan itu mulai bergerak.

Pekik pertama terdengar saat dua sosok lompat ke arah Kaelen.Dengan refleks tajam, Kaelen ngayunkan pedangnya, motong udara — dan bayangan — dalam satu gerakan cepat.

Alden berteriak dari sisi kanan.

"reka lebih cepat dari manusia biasa!"

Lyra ngerahkan kekuatan cahaya kecil dari telapak tangannya, nahan dua makhluk yang ncoba nyerangnya.

"Kita harus pisahkan reka! Satu lawan satu!"

Serina nembakkan tiga anak panah berturut-turut, satu ngenai dada salah satu makhluk itu, mbuatnya leleh njadi kabut hitam.

"Sasar jantung reka!" teriak Serina.

Kaelen ngangguk.

Dengan gerakan terlatih, dia nyerbu maju, langsung nghadap Taren.

Pedang reka beradu dalam kilatan cahaya yang mantul di dinding batu.Percikan api beterbangan.

"Kau selalu keras kepala, Kaelen," kata Taren di sela-sela tebasan.

"Dan kau," Kaelen mbalas, "selalu terlalu mudah nyerah."

Taren nyerang dengan kekuatan yang ngerikan, kekuatan yang bukan sepenuhnya miliknya.Kaelen rasakan setiap hantaman seperti dihantam oleh gelombang badai.

"Lihat sekelilingmu!" Taren raung. "Dunia tidak butuh pahlawan. Dunia butuh reka yang kuat, yang siap mbakar semua ilusi dan mbangun dari abu!"

Kaelen nghindar dari serangan matikan, lalu mbalas dengan serangan yang motong lengan kiri Taren.

Taren mundur, darah hitam netes dari lukanya.

Sentara itu, Serina dan Alden bertarung mati-matian.Lyra lindungi reka dari bayangan dengan lingkaran cahaya rapuh yang terus bergetar, hampir runtuh.

Kaelen berdiri berhadapan dengan Taren yang terluka.

Di mata temannya, ada kilatan—hanya sesaat—dari pria yang dulu ia kenal.

"Taren," Kaelen berkata, suaranya hampir berbisik. "Kau masih bisa kembali."

Taren tertawa getir, batuk darah.

"Kembali? Tidak ada jalan kembali, Kaelen. Tidak setelah apa yang telah kulakukan."

"Kita semua punya dosa," kata Kaelen, nurunkan pedangnya sedikit. "Tapi kita milih apakah dosa itu nguasai kita... atau tidak."

Taren tampak ragu.

Bayangan di belakangnya bergerak, seolah ingin raihnya, nariknya kembali.

Dan untuk sesaat, Kaelen lihat... keraguan di mata temannya.

Tapi hanya sesaat.

Taren raung dan lempar dirinya ke Kaelen dengan kekuatan terakhirnya.

"Kalau begitu, kita berakhir di sini!" teriaknya.

Kaelen ngencangkan cengkeramannya, miringkan tubuh, dan dengan satu gerakan bersih, nancapkan pedangnya ke dada Taren.

Sunyi.

Taren tersentak, matanya lebar.

Darah hitam ngalir di mulutnya.

Kaelen nahan tubuh temannya saat ia jatuh, perlahan, berat.

Taren berbisik, hampir tak terdengar.

"Aku... aku hanya ingin dunia... tempat kita bisa bebas..."

"Aku tahu," kata Kaelen pelan. "Aku tahu."

Taren tersenyum samar—dan dalam pelukan Kaelen, dia nghembuskan napas terakhirnya.

Saat Taren mati, bayangan-bayangan lain mulai ngerang, tubuh reka bergetar hebat.Tanpa pemimpin, ikatan gelap yang nghubungkan reka mulai runtuh.

Satu per satu, reka hancur njadi abu di udara.

Lyra jatuh berlutut, napasnya terengah.

Serina dan Alden, terluka, tapi berdiri tegak di tengah kekacauan.

Kaelen berdiri, tubuhnya kaku, hatinya berat.

Di sekeliling reka, gua mulai runtuh, batu berjatuhan dari langit-langit.

"Kita harus keluar!" teriak Serina.

reka berlari, nembus debu dan reruntuhan, mbawa tubuh yang lelah dan hati yang lebih lelah lagi.

Saat reka ncapai mulut gua, dunia di luar diselimuti sinar rah dari matahari terbenam.

reka berdiri di sana, terengah-engah, natap satu sama lain.

Tidak ada yang berbicara.

Tidak perlu.

reka semua tahu.

reka nang.

Tapi reka juga kalah sesuatu yang tidak bisa reka kembalikan.

Saat malam jatuh di dunia baru reka, Kaelen duduk sendirian, mandang bintang-bintang.

Taren sudah tiada.

Tapi kata-katanya... masih bergema di hatinya.

Dan Kaelen bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah benar reka bisa mbangun dunia baru?

Atau reka hanya nunda kehancuran yang tak terelakkan?

Dengan berat, Kaelen nggenggam gagang pedangnya, natap langit malam.

Karena perang sesungguhnya... belum selesai.

You are reading The Shattered Light Chapter 140: – Api dan Abu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Warlock Apprentice cover
Similar genre

Warlock Apprentice

牧狐 ·Fantasy

Thestatusofawizardistranscendentinallcontinentsandintheuniversalplane. Mysterious,wise,cruelandbloodthirstyaresynonymouswithwizards.Butwhatdoesarea...

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.