Font Size
15px

Api kecil berkedip-kedip di tengah-tengah reruntuhan desa tua itu.Angin malam nyapu abu yang tersisa dari kebakaran kecil yang tak pernah sempat dipadamkan.

Kaelen duduk sendirian di tepi api itu, matanya kosong natap bara rah yang perlahan sekarat.Serina, Lyra, dan Alden berdiri sedikit njauh, berbicara dalam bisik-bisik.

"Dia belum bicara sejak kita keluar dari gua," gumam Serina, lengan kanannya masih diperban kasar.

"Apa yang bisa dia katakan?" Alden nggeleng, suaranya pahit. "Dia mbunuh sahabatnya sendiri."

Lyra mandang Kaelen dengan mata berkaca-kaca.

"Dia nyelamatkan kita semua," bisiknya. "Kalau tidak... kita semua sudah jadi bayangan."

"Tetap saja," balas Alden, lebih pelan. "Ada hal yang tidak bisa diperbaiki, Lyra. Bahkan oleh Kaelen."

reka semua terdiam.

Api kecil itu ngerang pelan, seolah ngeluhkan beban dunia yang terlalu berat.

Akhirnya, Serina ndekat.Dia njatuhkan dirinya duduk di samping Kaelen tanpa berkata apa-apa.

reka hanya duduk begitu, bersebelahan, dalam sunyi yang berat.

Setelah lama, Kaelen akhirnya berbicara.

"Aku pikir... aku akan rasa lega setelah semua ini."

Serina tidak njawab. Dia nunggu.

"Tapi rasanya seperti ada sesuatu... yang hancur di dalam sini," lanjut Kaelen, nepuk dadanya dengan tangan getar.

"Itu namanya kehilangan, Kaelen," gumam Serina. "Bukan semua luka harus berdarah supaya terasa sakit."

Kaelen tertawa hambar.

"Aku mbunuh sahabatku sendiri, Serina."

"Tidak," Serina mandangnya tajam. "Kau ngakhiri penderitaannya. Ada perbedaan."

Mata Kaelen berkaca-kaca, tapi dia nahan air matanya.

"Perbedaan itu tak mbuatku rasa lebih manusia."

Lyra akhirnya ndekat juga, duduk di seberang api kecil itu.

Dia nggenggam jubahnya erat, berusaha redam getaran di tangannya.

"Aku... aku harus bilang sesuatu," katanya, suara getar.

Kaelen ngangkat kepala, natapnya.

"Apa?"

Lyra nelan ludah, lalu nguatkan dirinya.

"Aku... aku adalah putri Grandmaster Elvior."

Alden—yang baru saja datang mbawa beberapa kayu bakar—njatuhkan kayunya.Serina hanya natap Lyra, rahangnya ngeras.

Kaelen tidak bereaksi.

Hanya natapnya.

"Aku tak milih darahku," kata Lyra terburu-buru. "Aku tak pernah ndukung Ordo Cahaya. Aku lawan reka dengan seluruh hidupku."

"ngapa sekarang baru bilang?" suara Alden tajam, penuh tuduhan.

"Karena aku takut," kata Lyra, air matanya ngalir sekarang. "Takut kalian akan mbuangku. Takut kehilangan... satu-satunya tempat yang kutemukan... yang benar-benar manggilku keluarga."

Kaelen akhirnya bicara.

Suara itu rendah. Serak.

"Kau harusnya percaya kami."

"Aku tahu," isak Lyra. "Dan aku... aku minta maaf."

Hening panjang.

Angin malam nggigit kulit reka, tapi tak ada yang bergerak.

Serina bersuara, dingin dan tegas.

"Kaelen. Apa yang akan kau lakukan?"

Semua mata beralih ke Kaelen.

Ia narik napas panjang.mandang Lyra—lihat rasa takut, penyesalan, dan cinta sekaligus di matanya.

Lalu ia natap Alden dan Serina—satu keluarga yang tersisa baginya.

Akhirnya, dia berbicara.

"Aku bilang aku ingin mbangun dunia baru."

Tangannya ngepal di atas lutut.

"Dunia baru tak bisa dibangun di atas kebohongan... tapi juga tak bisa dibangun di atas penghukuman buta."

Ia natap Lyra, dalam-dalam.

"Kau tetap bersama kami. Tapi mulai sekarang, kita jujur. Tentang segalanya."

Air mata Lyra ngalir deras.

Dia ngangguk keras.

"Aku bersumpah."

Alden masih tampak tak sepenuhnya percaya.Tapi dia tidak mbantah.

Dan Serina... Serina hanya ngangguk, perlahan.

reka berempat duduk kembali, mbiarkan keheningan nyelimuti reka.

Di langit, bintang-bintang perlahan bermunculan, malu-malu di balik awan tipis.

Kaelen nutup matanya sejenak.

Di dalam pikirannya, wajah Taren muncul.

Senyumnya. Tawanya. Keyakinannya.

Kaelen tahu, tak peduli seberapa banyak reka nang, luka-luka itu akan tetap bersamanya.Akan mbentuk siapa dia.

Tapi malam ini, ia berjanji.

Tidak akan ada lagi kebohongan.Tidak akan ada lagi penundaan.Hanya kebenaran, seburuk apa pun itu.

Karena tanpa kebenaran... dunia baru reka akan hancur sebelum sempat lahir.

Saat api kecil itu hampir padam, Kaelen ngambil sepotong arang yang masih nyala.

Ia nggenggamnya sebentar, rasakan panas dan nyeri yang ngingatkannya bahwa ia masih hidup.

Kemudian ia lemparkan arang itu ke dalam kegelapan.

"Ayo tidur," katanya.

"Besok," lanjutnya, "kita mulai mbangun dari abu ini."

You are reading The Shattered Light Chapter 141: – Arang dalam Abu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Big Data Cultivation cover
Similar genre

Big Data Cultivation

Chen Fengxiao ·Fantasy

Asagraduatewithadoubledegreefromaprestigiousuniversity,FengJunsomehowremainsunemployedaftergraduation.Hestrugglesinthecity,buthecan’tletgoofhisprid...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.