Pagi datang perlahan, mbelah langit yang masih dibungkus abu dan kabut tipis.Cahaya fajar mantul di reruntuhan dunia yang telah hancur—namun di tengah puing-puing itu, ada sesuatu yang bertahan: keinginan untuk bangkit.
Kaelen berdiri di bukit kecil di pinggiran desa mati itu.Serina, Alden, dan Lyra berdiri tak jauh darinya, nunggu.
Semalam reka mbuat keputusan: Dunia baru harus dimulai.Hari ini, reka akan ngambil langkah pertamanya.
Kaelen mandang ketiga orang di hadapannya.
"Kita tak bisa bertahan sendirian. Dunia ini lebih besar dari kita berempat."
Suara Kaelen tegas, tapi lelah.
"Kita butuh sekutu," lanjutnya. "Orang-orang yang selamat, yang tak tunduk pada Ordo Cahaya ataupun Kegelapan."
Alden ngangguk perlahan.
"Aku tahu beberapa desa di selatan. reka dulu nolak tunduk... mungkin reka masih bertahan."
"Kalau tidak?" tanya Serina tajam.
"Kalau tidak..." Alden nghela napas, "kita yakinkan reka. Dengan kata-kata... atau dengan kekuatan."
Kaelen nggeleng pelan.
"Aku ingin dunia ini dibangun di atas kepercayaan, bukan paksaan."
Serina ngangkat satu alis.
"Kau masih berpikir kepercayaan cukup?"
"Aku harus percaya," jawab Kaelen. "Atau semua ini sia-sia."
Diam sejenak.
Lalu Lyra langkah maju, suaranya ragu.
"Aku bisa... mbantu."
reka bertiga natapnya.
Lyra nunduk sedikit.
"Masih ada sisa simpatisan... bahkan dari Ordo Cahaya. Tidak semua dari reka ingin lihat dunia ini terbakar. Beberapa hanya takut."
Kaelen mperhatikan Lyra lama.
"Bisa kau percayai reka?"
"Tidak," jawab Lyra jujur. "Tapi aku tahu bahasa reka. Aku tahu ketakutan reka."
Serina tampak tak yakin, tapi Kaelen akhirnya ngangguk.
"Baik. Kita mulai dengan ncari reka."
reka berjalan nyusuri jalur kecil yang berkelok-kelok nuruni bukit.Langkah reka berat, bukan karena jarak, tapi karena beban tak kasatmata yang reka bawa.
Dalam perjalanan, suasana tegang terus nggantung.
Serina berjalan paling depan, matanya awas, tangan selalu dekat ke busurnya.Lyra berjalan di tengah, seolah ingin nghindari pandangan Alden.Dan Kaelen... berjalan paling belakang, ngawasi semuanya.
Di sela perjalanan, Kaelen mpercepat langkahnya hingga sejajar dengan Lyra.
"Terima kasih," katanya pelan.
Lyra noleh, terkejut.
"Untuk apa?"
"Untuk tidak nyerah," jawab Kaelen.
Lyra tersenyum kecil, getir.
"Aku nyaris nyerah, Kaelen. Berkali-kali."
"Kita semua," kata Kaelen. "Tapi kita masih di sini."
Sore itu, reka tiba di desa pertama: Vardel.
Dulunya desa ini ramai, pusat perdagangan kecil di lembah selatan.Kini, hanya ada bayangan.
Rumah-rumah kosong berdiri seperti hantu.Asap tipis ngepul dari beberapa cerobong, tanda bahwa ada orang yang masih bertahan—atau bersembunyi.
"Hati-hati," bisik Serina.
reka masuki desa perlahan, langkah reka bergema di jalanan berbatu.
Di depan balai desa yang setengah runtuh, akhirnya seseorang muncul: seorang lelaki tua, mbawa tongkat berat dan sorot mata tajam.
"Siapa kalian?" suaranya serak, penuh kecurigaan.
Kaelen langkah maju.
"Bukan musuh. Bukan Ordo. Kami di sini untuk nawarkan pilihan."
Orang tua itu nyipitkan mata.
"Pilihan? Pilihan mati, atau pilihan tunduk?"
"Pilihan hidup," kata Kaelen tegas. "Pilihan untuk mbangun dunia tanpa tirani."
Orang tua itu tertawa pendek, getir.
"Anak muda, sudah banyak yang datang bawa janji. reka semua berakhir sama. Tangan penuh darah."
Kaelen maju satu langkah lagi.
"Aku tak minta kepercayaanmu hari ini. Aku minta kesempatan mbuktikannya."
Hening.
Lalu perlahan, dari balik reruntuhan rumah, lebih banyak orang muncul—wanita tua, anak-anak muda, bahkan beberapa tentara yang sudah nanggalkan lambang lama reka.
reka ndengarkan.
reka nunggu.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Kaelen rasa ada sesuatu yang lebih kuat dari rasa takut: harapan.
Malam itu, api besar dinyalakan di tengah desa.
reka duduk lingkar, makan bersama makanan sederhana: roti keras, sedikit sup.Tapi rasa lapar bukan hanya di perut reka.Itu lapar akan sesuatu yang lebih... lapar akan masa depan.
Alden berbicara dengan para prajurit muda.Serina latih beberapa anak cara nembakkan busur.Lyra duduk bersama para wanita, nceritakan dunia di luar desa, dunia yang masih bisa diselamatkan.
Dan Kaelen?
Kaelen duduk di tengah semuanya, ndengarkan.
ngamati.
rasakan.
Untuk pertama kalinya, ia lihatnya: percikan kecil di mata orang-orang itu.Bukan api kebencian.
Tapi api harapan.
Malam itu, Kaelen nulis sesuatu di atas tanah dengan tongkat.
Sebuah lambang.
Bukan lambang perang.
Tapi lambang hidup.
Di belakangnya, Serina ndekat.
"Masih berpikir dunia ini bisa diselamatkan?"
Kaelen natap api yang nari-nari dalam gelap.
"Bukan dunia ini, Serina."
Ia tersenyum tipis.
"Dunia yang akan kita ciptakan."
Reviews
All reviews (0)