Font Size
15px

Setelah beristirahat singkat, Kaelen dan kelompoknya lanjutkan perjalanan nuju barat. Matahari pagi perlahan nembus rimbun pepohonan, namun hawa ketegangan tak kunjung surut. dan semakin berat, akar-akar pohon njulur seperti perangkap, dan semak berduri rintangi langkah reka.

Varrok berjalan di depan, pandangannya tajam nyisir jalan. Serina berada di belakangnya, sesekali noleh mastikan tak ada yang tertinggal. Kaelen berada di tengah, berjalan di samping Lyra. Darek dan dua penyintas baru, Kael dan Aria, ngikuti di barisan belakang.

"Kau baik-baik saja?" tanya Kaelen lirih kepada Lyra.

Lyra ngangguk, ski matanya masih nyimpan kekhawatiran. "Aku hanya takut... nemukan reka yang kita cari... sudah tidak bernyawa."

Kaelen ingin ngatakan sesuatu yang nenangkan, tetapi ia tahu, di dan ini, harapan mudah hancur.

reka lanjutkan perjalanan hingga siang njelang. Saat berhenti untuk minum, Serina ndekati Kaelen.

"Kau mulai dekat dengannya," ucap Serina tiba-tiba, nadanya datar, ski matanya nyiratkan lebih. Ada ketidaknyamanan yang bersembunyi di balik sorotannya—sekelebat cemburu yang bahkan mungkin tak sepenuhnya ia sadari. Perasaan itu muncul begitu saja, ncubit hatinya dengan halus, sebelum segera ia tekan kembali di bawah kedok ketegasan.

Kaelen terkejut, tetapi berusaha tetap tenang. "Kami semua dekat sekarang. Kita harus saling njaga."

Serina ngangguk pelan, namun sorot matanya nyiratkan sesuatu yang lebih dalam.

Perjalanan berlanjut. Sore njelang ketika Varrok ngangkat tangan, mberi isyarat berhenti. Di depan reka, sebuah lembah curam mbentang. Jauh di bawah, terlihat sungai berkelok-kelok, dan di sisi seberangnya, reruntuhan bangunan kuno tampak samar.

"Itu tempatnya," kata Varrok. "Pos persembunyian lama Bayangan Malam. Jika ada yang selamat, reka mungkin ada di sana. Tapi kita harus turun lewati lembah ini, dan itu bukan jalur yang mudah."

Darek natap sekeliling. "Wilayah ini dikenal sebagai Tanah Pemburu. Pengintai Hitam sering berkeliaran di sini. Kita harus bergerak dengan sangat hati-hati."

Kaelen rasa bulu kuduknya remang. Ia kembali rasakan tatapan tak kasatmata itu. Dari kejauhan, angin mbawa suara gerisik dedaunan, namun ada sesuatu yang berbeda—seperti langkah ringan yang sengaja disamarkan. Sekilas, ia nangkap bayangan gelap di antara pepohonan, tetapi saat ia berkedip, bayangan itu telah nghilang. Namun, ia nepis ketakutannya.

"Kita turun saat gelap," putus Varrok. "Sekarang, kita sembunyi dan awasi sekitar. Jangan buat suara. Jika reka ada di sini... kita bukan pemburu. Kita buruan."

Malam perlahan rangkak. Saat kegelapan nyelimuti lembah, Kaelen bersama kelompoknya bersiap turun. Napas reka tertahan, jari-jari nggenggam erat gagang senjata seakan njadi penyelamat terakhir. Kaelen bisa ndengar detak jantungnya sendiri, berpadu dengan dengus pelan Lyra di sampingnya. Serina lirik ke sekeliling, matanya bergerak cepat, seolah ncari bahaya di setiap sudut. Darek nunduk rendah, kapaknya siap di tangan, sentara Kael dan Aria saling berpegangan, tubuh reka sedikit getar. Ketegangan nyelimuti reka seperti kabut malam yang nekan dada. Setiap langkah harus tepat. Sebab, di tanah ini, satu kesalahan kecil berarti kematian.

You are reading The Shattered Light Chapter 12: – Langkah di Tanah Pemburu on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.