Lembah Tanah Pemburu nyambut reka dengan kesunyian yang negangkan. Kaelen mimpin langkah turun bersama Varrok di depan, sentara yang lain ngikuti dengan hati-hati. Batu-batu licin dan akar njulur seperti jerat nanti reka yang lengah. Udara lembah lembap, bercampur dengan bau tanah basah dan samar aroma anyir darah yang telah lama ngering.
Darek berbisik, "Langkah pelan. Jangan goyangkan batu. Pengintai Hitam bisa ndengar hingga sejauh itu."
Kaelen ngangguk, najamkan pendengarannya. Setiap kerikil yang jatuh mbuat dadanya berdegup kencang. Napasnya berusaha ia tahan agar tidak terlalu berat. Suara gerisik daun di kejauhan mbuatnya sesaat berpikir ada sesuatu yang ngikuti.
Lyra berjalan di sampingnya. Napas reka pelan, sesekali saling pandang mastikan satu sama lain baik-baik saja. Sentuhan lengan Lyra yang tak sengaja mbuat Kaelen rasakan kehangatan sejenak di tengah dinginnya lembah. Namun, di balik kehangatan itu, Lyra nggigit bibir bawahnya. Ia berusaha nyembunyikan ketakutan yang terus nggerogoti hatinya.
Serina lihat itu dari belakang, tanpa sengaja nggenggam gagang belatinya lebih erat. Ia segera ngalihkan pandangan, berusaha ngabaikan rasa yang mulai ngganggu pikirannya. Namun, ada kekhawatiran lain dalam benaknya—bukan hanya tentang Kaelen dan Lyra, tapi juga tentang keselamatan reka semua. Serina tahu, Pengintai Hitam jarang bergerak sendiri. Jika ada satu, pasti ada lebih banyak.
Saat reka ncapai dasar lembah, suara gericik sungai terdengar pelan. Di kejauhan, reruntuhan pos Bayangan Malam mulai terlihat lebih jelas. Temboknya lapuk, namun bekas pertempuran masih tergambar jelas—panah patah nancap di dinding, bekas darah yang samar terlihat di bebatuan. Bau besi yang khas nyengat di udara, bercampur dengan aroma lumut lembap.
Varrok mberi isyarat berhenti. reka runduk di balik semak. Matanya nelisik sekitar.
"Ada yang aneh," bisiknya. "Terlalu sepi."
Kaelen rasakan hal yang sama. Keheningan yang nekan. Terlalu sempurna untuk njadi kebetulan. Jari-jarinya ngencang di gagang pisaunya, napasnya mulai lebih pendek. Darek nunjuk ke jejak samar di tanah basah. "Baru. Seseorang baru saja di sini."
ndadak, Aria nahan napas. Matanya mbesar, nunjuk ke arah bayangan di reruntuhan.
Sesosok manusia berdiri di sana—tak bergerak. Jubah hitam nutupi tubuhnya. Wajahnya tak terlihat. Namun yang paling nyeramkan adalah cara ia berdiri, terlalu diam, terlalu tenang. Udara seketika njadi lebih dingin, seolah keberadaan sosok itu rampas hangatnya kehidupan di sekitar reka.
"Pengintai Hitam..." bisik Serina, suaranya getar.
Kaelen rasakan ketakutan ngalir di pembuluh darahnya. reka telah ditemukan.
Varrok mberi isyarat untuk mundur perlahan. Namun sebelum reka sempat bergerak, suara lengking terdengar dari atas tebing.
"REKA DI SANA!"
Beberapa sosok lompat turun dari ketinggian dengan gesit, pedang dan busur di tangan. Mata reka bersinar rah samar dalam gelap. Gerakan reka seperti bayangan yang hidup—cepat, senyap, dan matikan.
"Lari!" teriak Varrok.
Kaelen raih tangan Lyra, nariknya. Serina berbalik nghunus busurnya, nembakkan satu anak panah yang nancap di bahu salah satu pengejar. Darek ngayunkan kapaknya, nghalangi satu musuh yang lompat terlalu dekat. Aria tersandung, hampir jatuh, namun Kael nariknya berdiri.
Kaelen rasa kekuatan gelap di dalam dirinya bergetar, ndesaknya keluar. Energi itu liar, haus darah, siap renggut kendali. Namun ia nahannya. Belum saatnya. Jika ia nggunakan kekuatan itu sekarang, ia tahu akan ada harga yang harus dibayar.
reka berlari lewati reruntuhan, lintasi sungai dangkal, sentara suara langkah para Pengintai Hitam ngiringi di belakang reka. Nafas berat, dengusan, dan teriakan samar bercampur dengan suara gericik air yang reka terjang. Batu-batu licin hampir mbuat Kaelen tergelincir, tetapi ia terus maksa kakinya langkah.
Di tengah kekacauan, Kaelen hanya miliki satu pikiran: Bertahan hidup. Karena di tanah ini, mati adalah hal yang paling mudah terjadi. Di belakang reka, Pengintai Hitam terus mburu, semakin dekat. Dan di dada Kaelen, rasa takut bercampur amarah mulai berkobar—api yang perlahan mbakar kendali dirinya.
Reviews
All reviews (0)