Font Size
15px

Kaelen berlari sekuat tenaga, derap kakinya berpadu dengan suara napas tersengal dari rekan-rekannya. Bayangan Pengintai Hitam masih ngikuti reka di belakang, cepat dan tak kenal lelah. Jeritan panah yang lesat lintas di samping telinga Kaelen, nancap di batang pohon.

"Ke kiri! Lewati celah batu itu!" teriak Varrok sambil mberi isyarat.

reka mbelok tajam, nyelinap di antara dua batu besar yang sempit. Darek mbantu Aria yang nyaris tergelincir, sentara Kaelen narik Lyra agar tetap dekat. Serina noleh ke belakang, lepaskan satu lagi anak panah, ngenai bahu salah satu Pengintai Hitam yang rangsek ndekat. Namun, sosok itu hanya sedikit tersentak, lalu terus ngejar seperti sin pembunuh tanpa rasa sakit.

"reka tidak seperti manusia biasa..." bisik Serina dengan napas terengah.

Kaelen rasakan desakan kekuatan gelap di dadanya semakin kuat. Sekilas, ingatannya layang ke malam itu—malam ketika ia pertama kali ngetahui harga kekuatan ini. Di bawah hujan deras, tubuhnya berlumuran darah setelah mbantai sekelompok prajurit Cahaya yang mbakar ladang di desa terpencil. Ia nang, tetapi saat terbangun keesokan harinya, ia tak lagi mampu ngingat suara lembut ibunya. Saat itu, Varrok natapnya dengan berat, lalu berkata, 'Setiap kekuatan punya harga, Kaelen. Dan kekuatanmu... ngambil bagian dari hatimu setiap kali kau nggunakannya.' Kata-kata itu mbekas dalam benaknya hingga kini. Energi itu bergetar liar, seolah mohon untuk dilepaskan, njanjikan kekuatan yang mampu nghancurkan musuh dalam sekejap. Namun, di balik janji itu, Kaelen juga rasakan ancaman—rasa takut kehilangan bagian lain dari hidupnya, bagian yang berarti. Ia mbayangkan wajah ibunya yang semakin kabur dalam ingatan, suara ayahnya yang perlahan mudar. Jika ia nyerah pada kekuatan itu sekarang, siapa lagi yang akan ia lupakan? Lyra? Varrok? Pikiran itu ncengkeramnya, nahan langkahnya sejenak di antara hidup dan kehancuran. Ia tahu betul, hanya dengan itu ia bisa mbalik keadaan. Namun, ia juga tahu risikonya. Satu lagi orang yang ia cintai akan hilang dari ingatannya.

"Terus lari! Jangan berhenti!" suara Varrok penuh ketegasan.

reka berlari nembus hutan yang semakin gelap. Ranting-ranting tajam nggores wajah dan lengan reka. Kaelen ndengar suara desisan aneh di kejauhan, seperti bisikan makhluk-makhluk yang bersembunyi di antara pohon-pohon tua.

Tiba-tiba, Darek tersandung akar dan jatuh. Salah satu Pengintai Hitam lompat ke arahnya dengan belati terhunus. Kaelen berbalik tanpa berpikir panjang, ngayunkan pisaunya nangkis serangan itu. Dentingan logam nggema, namun Pengintai Hitam itu bergerak begitu cepat hingga Kaelen hampir kehilangan keseimbangan.

Varrok lompat, nebas dada musuh dengan pedangnya. Darah hitam nyembur, tetapi sosok itu masih ncoba bangkit. Darek nghantamkan kapaknya ke kepala lawannya, baru kemudian tubuh itu roboh tanpa suara.

"Bangun! Kita harus pergi!" Varrok narik Darek berdiri.

Namun, suara langkah lebih banyak terdengar dari belakang. reka tahu, jumlah musuh terlalu banyak.

"Kita akan dikepung kalau terus seperti ini," bisik Serina.

"Kita pecah. Dua kelompok. Temui aku di tanah tinggi di utara lembah!" perintah Varrok.

Kaelen ngangguk. Ia bersama Lyra, Serina, dan Kael bergerak ke arah barat, sentara Varrok, Darek, dan Aria ke timur. reka berharap bisa ngacaukan pengejar.

Kaelen dan kelompok kecilnya rayap di bawah akar besar, nyeberangi sungai kecil dengan hati-hati. Di tengah perjalanan, Kaelen rasakan tangan Lyra getar saat ia mbantunya nyeberang.

"Aku takut..." suara Lyra lirih.

Kaelen natapnya sejenak, kemudian nggenggam tangannya erat. "Aku di sini. Aku akan lindungimu."

Serina yang berjalan di belakang reka, natap pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Antara rasa lega karena Lyra selamat dan nyeri yang nyelinap di hatinya.

Tiba-tiba, suara anak panah lesat lagi. reka runduk. Kaelen lihat tiga Pengintai Hitam di atas tebing kecil, bersiap nyerang.

"Terus bergerak!" Kaelen berbisik keras.

reka rayap lebih cepat, berusaha keluar dari jangkauan musuh. Di saat bersamaan, Kaelen rasakan sesuatu yang lebih nyeramkan—bukan hanya Pengintai Hitam, tetapi ada sesuatu yang lain di lembah ini. Sesuatu yang lebih tua, lebih gelap—seperti kehadiran yang ngawasi dari balik pepohonan, diiringi bisikan lirih yang nyerupai desisan ular. Sekilas, Kaelen lihat bayangan tinggi dan kurus bergerak di antara kabut, namun begitu ia noleh, sosok itu lenyap, ninggalkan hanya dingin yang nusuk hingga ke tulangnya.. Ia tidak tahu apa, tetapi ia bisa rasakan keberadaannya, ngintai di bayangan.

Saat reka akhirnya tiba di lereng nuju tanah tinggi, Kaelen rasa sedikit lega. Namun, suara jeritan pendek terdengar dari arah timur—arah kelompok Varrok.

"Varrok!" Kaelen hampir berlari ke sana, tetapi Serina nahan lengannya. Detik itu, dada Kaelen terasa sesak. Varrok bukan hanya gurunya, tetapi sosok yang telah njadi pengganti ayah. Bayangan kehilangan orang tua kembali nyeruak, nciptakan kekosongan yang nakutkan. Ia ingin nerjang, nyelamatkan satu-satunya orang yang selama ini njaga dan mbimbingnya. Namun, genggaman tangan Serina seolah nariknya kembali ke kenyataan yang pahit: tindakan gegabah hanya akan mpercepat kematian reka semua.

"Tidak! Kita harus tetap pada rencana! Jika kau kembali, kita semua bisa mati!"

Kaelen terdiam, napasnya mburu. Ia tahu Serina benar. Tetapi rasa bersalah dan cemas nghantam dadanya.

Di ufuk timur, cahaya fajar mulai rayap perlahan. Namun, di hati Kaelen, hanya kegelapan dan ketakutan yang tersisa.

You are reading The Shattered Light Chapter 14: – Kegelapan di Ujung Nafas on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.