Getaran semakin kuat, dan pintu batu yang selama berabad-abad tertutup perlahan terbuka. Dari celahnya, cahaya keemasan mancar, bercampur dengan bayangan hitam pekat yang tampak berputar seperti asap hidup. Bisikan-bisikan yang sebelumnya lirih kini semakin jelas, seperti suara banyak orang berbicara dalam bahasa yang tidak dapat dingerti.
Kaelen nggenggam pedangnya lebih erat. Matanya terpaku pada energi yang rembes dari balik pintu itu. Di sebelahnya, Serina bersiap dengan penuh kewaspadaan, sentara Alden tampak gelisah.
Eryon, yang berdiri beberapa langkah di depan Kaelen, natap pintu dengan sorot mata penuh harap. "Inilah saatnya," bisiknya. "Relik Cahaya... akhirnya akan njadi milik kita."
Kaelen langkah maju, suaranya tegas. "Kau tidak tahu apa yang sedang kau buka, Eryon. Berhenti sebelum terlambat."
Eryon berbalik, ekspresinya ncerminkan amarah dan obsesi. "Berhenti? Setelah semua yang telah kulakukan? Setelah semua yang telah kukorbankan? Tidak, Kaelen. Aku tidak akan mbiarkanmu nghalangi takdirku."
Sebelum Kaelen sempat mbalas, pintu batu terbuka sepenuhnya dengan suara gemuruh, nampakkan ruangan luas di baliknya. Di tengah ruangan itu, di atas altar batu, sebuah artefak berbentuk bola kristal layang, dikelilingi oleh pusaran cahaya dan kegelapan yang saling bertaut. Cahaya emas berdenyut dari dalamnya, sentara bayangan hitam seolah ncoba rayap keluar.
Serina nyipitkan mata. "Apa sebenarnya benda itu...?"
Alden nelan ludah. "Aku tidak yakin, tapi ini bukan hanya sekadar relik. Ini... sesuatu yang jauh lebih besar."
Eryon langkah maju, matanya hanya tertuju pada bola kristal itu. "Ini adalah jawabannya. Cahaya yang murni, kekuatan yang akan mbangun kembali dunia dari kehancuran."
Kaelen rasakan sesuatu yang tidak beres. Jantungnya berdetak lebih cepat, seolah peringatannya datang dari sesuatu yang lebih dalam dari sekadar naluri bertarungnya. "Jangan sentuh itu!"
Tapi sudah terlambat.
Eryon ngulurkan tangannya dan nyentuh bola kristal itu.
Dalam sekejap, ledakan energi nghantam seluruh ruangan. Kaelen, Serina, dan Alden terdorong ke belakang, nabrak dinding batu dengan keras. Angin yang berasal dari dalam ruangan berputar liar, mbawa suara jeritan yang bukan berasal dari reka.
Serina natap Eryon dengan ngeri, jari-jarinya semakin erat ncengkeram gagang pedangnya. "Apa yang terjadi padamu...?"
Tubuh Eryon kini diselimuti cahaya keemasan yang berpendar tidak wajar. Namun, di sela-sela sinar itu, bayangan hitam nari-nari seperti cakar-cakar gelap yang berusaha robeknya dari dalam. Matanya bersinar terang, tubuhnya layang beberapa sentiter di atas tanah. Cahaya dan kegelapan dari bola kristal itu tampak resap ke dalamnya, ngubah aura tubuhnya.
Kaelen berjuang untuk berdiri, matanya terpaku pada perubahan ngerikan di hadapannya. "Eryon... apa yang telah kau lakukan?"
Eryon noleh padanya, tetapi sesuatu dalam dirinya telah berubah. Matanya, yang dulu hanya berkilau dengan ambisi, kini berpendar dengan sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih tua, lebih berbahaya.
Ia tersenyum. "Aku telah njadi lebih dari sekadar manusia, Kaelen. Aku telah njadi perwujudan dari Cahaya dan Kegelapan itu sendiri."
Tiba-tiba, Eryon ngangkat tangannya, dan dari telapak tangannya, gelombang energi lesat ke arah Kaelen.
Kaelen lompat nghindar tepat pada waktunya, tetapi serangan itu nghantam dinding di belakangnya, nciptakan retakan besar yang njalar ke seluruh ruangan. Dinding-dinding kuil bergetar, serpihan batu mulai berjatuhan dari langit-langit. Udara dipenuhi debu dan energi yang berdesir liar, seolah tempat ini sendiri nolak keberadaan reka.
Serina ncabut pedangnya dan maju. "Jika kau pikir kami akan mbiarkanmu pergi dengan kekuatan itu, kau salah besar!"
Eryon hanya tertawa pelan. "Kalian masih belum ngerti, bukan? Ini bukan sekadar kekuatan. Ini adalah jalan nuju dunia baru."
Kaelen lirik ke arah bola kristal yang kini mulai retak. Cahaya dan bayangan dari dalamnya semakin liar, seolah tidak bisa lagi dikendalikan.
Alden berteriak. "Relik itu tidak stabil! Jika terus dibiarkan, ini bisa nghancurkan seluruh tempat ini!"
Kaelen nyadari bahwa reka tidak punya pilihan lain. reka harus nghentikan Eryon sebelum semuanya terlambat.
Dengan satu gerakan cepat, ia ncabut pedangnya dan natap Eryon dengan penuh tekad. "Kalau begitu, kita akhiri ini sekarang."
Saat Kaelen lesat ke depan, Eryon ngangkat tangannya. Sebuah ledakan cahaya dan bayangan bertabrakan di antara reka, nciptakan percikan energi yang ngguncang lantai di bawah reka. Pedang Kaelen bertemu dengan tangan Eryon yang kini bersinar dengan kekuatan Relik, dan untuk pertama kalinya, Kaelen rasakan tekanan yang hampir tak tertahankan.
Di dalam reruntuhan kuno yang bergetar, pertempuran yang akan nentukan masa depan dunia pun dimulai.
Reviews
All reviews (0)