Kaelen berjongkok di balik batu besar, matanya terpaku pada pasukan Ordo Cahaya yang kini ngelilingi reruntuhan di puncak Pegunungan Ilythar. Asap dari obor reka mbubung ke langit, nciptakan bayangan yang nari di antara pilar-pilar kuno yang njulang di tengah lembah batu.
Serina rayap di sampingnya, suaranya berbisik pelan. "Kita terlambat. reka sudah mulai nggali sesuatu."
Alden ngintip dari balik semak. "Jumlah reka terlalu banyak. Jika kita nyerang sekarang, kita hanya akan ngorbankan diri."
Kaelen ngepalkan tinjunya. "Kita tidak bisa mundur. Relik Cahaya ada di sini, dan kita tidak bisa mbiarkan reka nemukannya lebih dulu."
Serina natapnya tajam. "Dan apa rencanamu? Kau ingin nerobos masuk ke tengah-tengah reka begitu saja?"
Kaelen terdiam, pikirannya berpacu ncari solusi. Ia lalu noleh ke Alden. "Kau bilang tadi ada lorong-lorong bawah tanah di reruntuhan ini?"
Alden ngangguk. "Ya, nurut legenda, reruntuhan ini dulu adalah kuil kuno yang miliki jaringan lorong rahasia. Jika kita bisa nemukannya, mungkin kita bisa nyelinap ke dalam tanpa terdeteksi."
Kaelen narik napas dalam. "Baik. Kita cari jalan masuknya. Kita tidak bisa mbuang waktu."
Di tengah reruntuhan, Eryon berdiri di atas batu besar, ngawasi pasukannya yang tengah bekerja. Cahaya bulan nerangi wajahnya yang penuh tekad.
Seorang perwira ndekat. "Tuan, para penggali telah nemukan pintu masuk ke dalam reruntuhan. Kami percaya ini adalah tempat di mana Relik Cahaya tersembunyi."
Eryon ngangguk. "Pastikan tidak ada gangguan. Pasukan utama tetap berjaga di atas. Aku akan mimpin pencarian ke dalam."
Ia natap sekeliling, rasakan hawa dingin yang aneh di tempat itu. Ada sesuatu yang bersembunyi di dalam reruntuhan ini, sesuatu yang lebih tua dari perang reka. Tapi ia tidak peduli. Yang penting adalah nemukan relik itu sebelum Kaelen lakukannya.
Kaelen, Serina, dan Alden bergerak cepat di antara bayangan, ncari tanda-tanda lorong yang disebutkan Alden. Akhirnya, reka nemukan celah di antara dua pilar runtuh yang ngarah ke tangga batu nuju bawah tanah.
Serina berbisik. "Ini dia. Kau yakin ini jalannya?"
Alden ngangguk. "Satu-satunya cara untuk tahu adalah dengan masuk."
Tanpa ragu, Kaelen langkah lebih dulu. Udara di dalam terasa lembap dan dingin, suara langkah kaki reka nggema di lorong sempit itu. Cahaya obor reka hanya mampu nerangi beberapa ter ke depan, ninggalkan bayangan gelap yang seolah bergerak di dinding.
Setelah berjalan beberapa nit, reka ndengar suara langkah kaki dari depan. Kaelen mberi isyarat untuk berhenti.
Dari balik tikungan, beberapa prajurit Ordo Cahaya muncul, mbawa obor dan pedang terhunus. Salah satu dari reka berbicara dengan suara rendah. "Kapten Eryon rintahkan kita untuk berjaga di sini. Tidak boleh ada yang masuk ke dalam tanpa izinnya."
Serina nyentuh gagang pedangnya. "Kita harus nyingkirkan reka."
Kaelen ngangguk. "Diam-diam. Jangan buat suara."
reka bergerak dengan cepat. Serina lumpuhkan satu prajurit dengan sabetan pedang ke tengkuknya, sentara Alden nusuk yang lain sebelum sempat berteriak. Kaelen sendiri narik prajurit terakhir ke dalam kegelapan, mbekap mulutnya sebelum nghabisinya dengan belatinya.
Setelah mastikan jalur aman, reka kembali bergerak.
Di dalam kuil bawah tanah, Eryon dan pasukannya berdiri di hadapan sebuah pintu batu besar yang dipenuhi ukiran kuno. Simbol cahaya dan kegelapan bertaut dalam pola lingkar di permukaannya.
Salah satu penggali berlutut di depan pintu, tangannya getar. "Tuan... ukiran ini nyebutkan bahwa hanya reka yang miliki keseimbangan antara cahaya dan kegelapan yang bisa mbukanya."
Eryon nyipitkan mata. "Keseimbangan? Apa maksudnya?"
Sebelum penggali itu bisa njawab, suara langkah kaki bergema di belakang reka. Eryon noleh dan matanya mbelalak saat lihat sosok yang baru saja tiba.
Kaelen berdiri di ujung lorong, pedangnya terhunus, cahaya obor mbentuk siluet di sekelilingnya.
"Aku datang untuk nghentikanmu, Eryon. Apa pun yang ada di balik pintu itu, tidak boleh jatuh ke tanganmu."
Eryon tersenyum dingin, lalu ncabut pedangnya. "Kalau begitu, kau harus lewatiku dulu."
Sebelum salah satu dari reka bisa bergerak, udara di dalam kuil berubah drastis. Hawa dingin nyebar begitu cepat, mbuat semua orang rinding. Dari balik pintu batu, terdengar suara lirih—bukan suara kanis terbuka, lainkan bisikan yang hampir tidak terdengar, seolah sesuatu sedang terbangun.
Kaelen dan Eryon sama-sama mbeku. Ruangan itu tiba-tiba dipenuhi energi yang tidak terlihat, tetapi bisa dirasakan nusuk hingga ke tulang.
Serina langkah mundur, tangannya ncengkeram gagang pedangnya erat. "Kaelen... aku punya firasat buruk tentang ini."
Pintu batu mulai bergetar perlahan. Cahaya samar rembes dari sela-selanya, bukan cahaya biasa, tetapi sesuatu yang terasa lebih kuno, lebih berbahaya.
Kaelen natap Eryon dengan serius. "Kau masih ingin mbukanya setelah ini?"
Eryon tetap diam, tetapi ekspresinya nunjukkan bahwa ia pun mulai ragukan keputusannya.
Saat getaran semakin kuat, reka semua nyadari satu hal: Relik Cahaya bukan hanya sekadar senjata. Itu adalah sesuatu yang mungkin tidak boleh ditemukan oleh siapa pun.
Reviews
All reviews (0)