Malam telah larut ketika Kaelen, Serina, dan Alden tiba di perkemahan rahasia reka di dalam hutan. Cahaya api unggun nerangi wajah-wajah letih para prajurit, tetapi kenangan kecil reka malam ini tidak cukup untuk nghapus ketegangan di udara. Kaelen masih gang gulungan dokun yang reka ambil dari kamp musuh, matanya nyipit saat ia mbaca setiap kata.
Serina duduk di seberangnya, lengannya bersedekap. "Jadi, apa isinya?"
Kaelen narik napas dalam sebelum njawab. "Ini bukan hanya rencana perang reka. Ini... sesuatu yang lebih besar. reka tidak hanya berusaha mpertahankan wilayah yang tersisa. reka sedang ncari sesuatu."
Alden ngerutkan kening. "ncari apa?"
Kaelen letakkan dokun itu di atas ja kayu kasar di tengah perkemahan, mbukanya agar semua bisa lihat. Beberapa bagian sudah terbakar, tetapi kata-kata yang tersisa cukup untuk mberikan gambaran besar.
"Ada penyebutan tentang ’Relik Cahaya’. Sesuatu yang reka yakini bisa mbalikkan keadaan perang ini."
Serina ncondongkan tubuhnya ke depan. "Relik Cahaya? Aku belum pernah ndengar hal itu sebelumnya. Apakah ini semacam senjata?"
Kaelen nggeleng. "Tidak jelas. Tapi reka nyebutnya sebagai ’kunci untuk mbuka kembali kemurnian Ordo Cahaya’. Aku tidak tahu apakah itu berarti senjata, atau sesuatu yang lebih besar."
Alden mbaca ulang gulungan itu, ekspresinya semakin serius. "Ada bagian yang nyebutkan ’kunci kemurnian’. Mungkin ini bukan sekadar senjata, tapi sesuatu yang bisa ngubah keseimbangan kekuatan."
Serina ngernyit. "Dan jika itu jatuh ke tangan reka?"
Kaelen ngepalkan tinjunya. "Maka dunia ini mungkin tidak akan pernah pulih."
Keheningan lingkupi reka. Api unggun berderak pelan, mberikan suasana suram di antara reka.
Serina akhirnya cah keheningan. "Jadi, apa langkah kita selanjutnya? Kita tidak bisa mbiarkan reka ndapatkan relik ini."
Kaelen natap peta di samping dokun. Ada satu lokasi yang ditandai dengan tinta rah—sebuah reruntuhan di utara, jauh di dalam Pegunungan Ilythar. "reka akan bergerak ke sini. Jika kita ingin nghentikan reka, kita harus sampai lebih dulu."
Alden nyeringai tipis. "nyusup ke dalam markas reka adalah satu hal, tetapi ngalahkan reka dalam perlombaan ini adalah hal lain. Kita tidak tahu seberapa besar kekuatan yang reka miliki."
Kaelen berdiri, matanya penuh tekad. "Itulah kenapa kita harus bergerak sekarang. Kita tidak akan mberikan reka kesempatan kedua."
Di sisi lain dan perang, di jantung kamp utama Ordo Cahaya, Eryon berdiri di depan ja strateginya. Wajahnya gelap, tatapannya penuh amarah. Seorang perwira masuki tenda dengan tergesa-gesa, wajahnya tegang.
"Kapten, kami kehilangan kontak dengan pos selatan. Serangan reka lebih terorganisir dari yang kita duga."
Eryon ngepalkan tinjunya. "Kaelen... Kau benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti."
Perwira itu lanjutkan, "Tapi ada kabar lain, Tuan. Kami berhasil ngamankan satu dari dua gulungan dokun tentang Relik Cahaya. Yang lainnya hilang dalam serangan reka."
Eryon najamkan tatapannya. "Berarti reka tahu. reka tahu tentang Relik Cahaya."
Perwira itu ngangguk. "Kami yakin reka akan nuju reruntuhan di utara. Apa perintah Anda?"
Eryon natap peta di hadapannya, lalu noleh ke luar tenda. Di luar, prajurit-prajurit Ordo Cahaya tengah bersiap, wajah reka penuh tekad.
Ia nutup matanya sejenak, ngingat pertempuran-pertempuran sebelumnya. Ada bagian dari dirinya yang masih bisa lihat Kaelen sebagai sekutu—tapi pertempuran ini telah mbuat reka berdiri di sisi yang berlawanan.
"Kaelen... kau selalu selangkah lebih cepat. Tapi tidak kali ini."
Ia noleh pada perwiranya. "Siapkan pasukan terbaik kita. Kita akan mburu reka."
Kaelen dan kelompoknya bergerak sepanjang malam, nembus hutan yang semakin lebat nuju Pegunungan Ilythar. Udara semakin dingin, dan tanah semakin sulit dilalui. Serina berjalan di samping Kaelen, sesekali natapnya dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu?" tanyanya pelan.
Kaelen terdiam sejenak sebelum njawab. "Aku hanya rasa... ini lebih dari sekadar perang. Aku rasa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang dimainkan di sini."
Serina ngangguk, ngerti apa yang dirasakan Kaelen. "Dan jika kita sampai di sana lebih dulu, apa rencanamu?"
Kaelen natap ke depan, ke puncak gunung yang mulai terlihat samar di kejauhan. "Kita cari tahu apa yang sebenarnya reka inginkan. Dan jika itu berbahaya, kita pastikan reka tidak pernah ndapatkannya."
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar di antara pepohonan. Kaelen mberi isyarat kepada yang lain untuk runduk. Dari balik semak-semak, reka lihat sekelompok prajurit Ordo Cahaya lewat, obor reka nerangi kegelapan.
Serina nahan napas. "reka sudah lebih dekat dari yang kita kira."
Kaelen nyipitkan mata. reka tidak bisa nghadapi reka sekarang. Jika reka bertarung di sini, reka akan kehilangan keunggulan dalam perlombaan nuju reruntuhan.
Saat reka ndekati puncak gunung, suara gemuruh terdengar dari atas. Kaelen ndongak, matanya lebar.
Di kejauhan, pasukan Ordo Cahaya telah tiba lebih dulu. Dan reka tidak sendirian.
Reviews
All reviews (0)