Font Size
15px

Angin malam berembus dingin di hutan lebat, mbawa aroma tanah basah dan asap yang samar. Kaelen berdiri di atas bukit kecil, natap nyala api dari kamp musuh di kejauhan. Ordo Cahaya mungkin telah lemah, tetapi reka masih miliki cukup kekuatan untuk nghancurkan setiap perlawanan yang tersisa. Dan kali ini, reka bergerak lebih kejam dari sebelumnya.

Serina ndekat, wajahnya serius. "Pengintai kita laporkan bahwa pasukan Ordo Cahaya sedang mperketat penjagaan di perbatasan selatan. reka tahu kita akan nyerang."

Kaelen ngepalkan tinjunya. "Itu berarti kita harus bergerak sebelum reka siap. Kita tidak bisa mbiarkan reka nguasai kembali wilayah ini."

Di belakang reka, para prajurit bayangan—sisa-sisa perlawanan yang tersisa—bersiap. Wajah reka dipenuhi kelelahan, tetapi juga tekad yang mbara.

Alden, seorang prajurit muda dengan bekas luka di pipinya, natap peta kasar di tanah. "Dan jika reka sudah ngantisipasi ini? Jika reka njebak kita?"

Kaelen nghela napas. "Maka kita harus siap beradaptasi. Kita tidak bisa mbiarkan ketakutan nghentikan kita."

Serina nyeringai. "Strategi yang cerdas. Tapi itu berarti kita harus bergerak dalam kelompok kecil dan nghindari bentrokan langsung."

Kaelen ngangguk. "Kita bagi njadi tiga kelompok. Kelompok pertama akan nyerang gudang persediaan reka di sisi timur. Kelompok kedua akan nyabotase jalur komunikasi reka. Dan kelompok ketiga—aku akan mimpin sendiri—akan ngincar para perwira reka."

Para prajurit saling bertukar pandang, sebagian ragu, tetapi sebagian lagi nyadari bahwa ini mungkin satu-satunya kesempatan reka.

Alden ngepalkan tangan. "Kalau begitu, kita harus bergerak sekarang."

Di dalam kamp musuh, Kapten Eryon Solveil berjalan di antara prajurit-prajuritnya dengan tatapan tajam. Ia telah ndengar desas-desus tentang kelompok perlawanan yang semakin berani. Dan ia tahu siapa yang mimpin reka.

"Kaelen Draven..." gumamnya, matanya nyala dengan kebencian yang terpendam. "Kau masih belum nyerah."

Seorang prajurit langkah maju dengan hormat. "Kapten, kami telah ningkatkan patroli dan nggandakan penjagaan di setiap pos. Tidak mungkin reka bisa nyusup tanpa terdeteksi."

Eryon nyipitkan mata. "Jangan rehkan reka. reka tidak akan nyerang seperti pasukan biasa. reka akan nggunakan taktik yang tidak terduga. Aku ingin semua unit siap siaga sepanjang malam. Tidak ada yang boleh lengah."

Prajurit itu ngangguk dan segera pergi untuk nyampaikan perintah.

Eryon natap ke arah hutan di kejauhan. Ia bisa rasakan sesuatu yang tidak beres. Kaelen tidak akan diam begitu saja. Dan ketika reka akhirnya bertemu lagi, ia bersumpah akan ngakhiri segalanya.

Malam itu, hutan njadi saksi bisu perang yang dimulai dalam bayangan.

Serangan pertama dimulai dengan ledakan di gudang persediaan Ordo Cahaya. Api njilat langit, nerangi malam dengan nyala rah mbara. Pasukan musuh berhamburan dalam kekacauan saat kelompok pertama nyerbu dan nghancurkan sisa-sisa perbekalan reka sebelum nghilang kembali ke dalam kegelapan.

Di sisi lain kamp, kelompok kedua nyelinap di antara bayangan, mutus jalur komunikasi dan nghancurkan sistem sinyal reka. Dalam hitungan nit, kamp musuh terisolasi, tanpa cara untuk ngirim perintah atau minta bantuan.

Kaelen dan kelompoknya bergerak dalam diam, lintasi kamp yang kini dilanda kebingungan. Ia tahu siapa yang harus ia cari—para perwira tinggi yang ngatur strategi dan pergerakan pasukan.

Saat ia ndekati tenda utama, suara langkah kaki mbuatnya berhenti. Serina mberi isyarat dengan dua jari—ada tiga orang di dalam.

Kaelen narik napas dalam, lalu ngangguk. "Kita selesaikan ini cepat."

Dengan satu gerakan, reka nerobos masuk.

Pedang beradu dalam sekejap, darah tercecer di lantai tenda. Kaelen nebas satu perwira sebelum yang lain sempat bereaksi, sentara Serina lumpuhkan yang kedua dengan gerakan cepat dan presisi. Yang terakhir ncoba larikan diri, tetapi Alden lempar belati yang nancap di punggungnya.

Ketika suara di luar semakin kacau, Kaelen tahu reka harus pergi.

"Misi selesai. Kita keluar sekarang!" perintahnya.

Saat reka mundur nuju hutan, sebuah suara nggema di tengah api dan kekacauan.

"Kaelen!"

Kaelen noleh sekilas. Dari kejauhan, di tengah kobaran api dan prajurit yang berlarian, ia lihat sosok yang sudah lama ia tunggu. Eryon berdiri dengan pedang terhunus, matanya penuh amarah.

Tetapi sebelum Kaelen bisa bereaksi, ledakan lain terjadi, misahkan reka. Saat asap reda, ia sudah nghilang ke dalam kegelapan bersama Serina dan pasukannya.

Dari kejauhan, Kaelen natap api yang mbakar kamp musuh, lalu noleh ke Serina. "Ini baru permulaan."

Serina tersenyum samar. "Dan kita tidak akan berhenti sampai reka benar-benar tumbang."

Namun, sebelum reka benar-benar nghilang ke dalam hutan, Serina narik sesuatu dari sabuknya—sebuah gulungan dokun yang reka temukan di tenda perwira musuh. Ia nyerahkannya pada Kaelen.

"Kita nemukan ini di tenda perwira," katanya serius.

Kaelen mbuka gulungan itu, dan matanya nyipit saat mbaca isinya. Tulisan di dalamnya mbuat dadanya berdebar lebih cepat.

"Ini... ini bukan hanya tentang perang ini. Ada sesuatu yang lebih besar terjadi."

Di dalam kegelapan, perang gerilya reka baru saja dimulai, tetapi kini, reka tahu bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya yang sedang ngintai dari bayang-bayang.

You are reading The Shattered Light Chapter 101: – Perang Gerilya Dimulai on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.