Kaelen berdiri di tepi jurang, natap langit yang kini kembali biru. Kegelapan yang lahap dunia reka telah lenyap, tetapi ia tahu betul bahwa ini belum berakhir. Darius telah ngorbankan dirinya, tetapi jejak keberadaannya masih terasa di udara, dalam setiap hembusan angin yang nyusup ke dalam dadanya yang sesak.
Serina langkah ndekat, suaranya lembut namun tegas. "Kaelen... kita harus pergi. Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama."
Pria bertudung ngangguk. "Gerbang sudah tertutup, tetapi masih ada sisa-sisa energi yang bisa kita manfaatkan. Kita harus ncari tahu apakah masih ada cara untuk mbawa Darius kembali."
Kaelen tidak njawab, matanya masih terpaku pada cakrawala yang terbentang luas. Dalam pikirannya, suara Darius terus bergema. Jangan lupakan aku, Kaelen...
Akhirnya, ia narik napas dalam dan berbalik. "Baik. Kita akan ncari jawabannya. Tapi pertama-tama, kita harus mastikan bahwa dunia ini benar-benar aman."
reka berjalan lalui reruntuhan, lewati desa-desa yang dulu hancur akibat perang antara Cahaya dan Kegelapan. Sekarang, dengan jatuhnya Ordo Cahaya dan hilangnya kekuatan kegelapan yang nguasai Darius, dunia mulai mulihkan dirinya sendiri.
Namun, rasa damai itu terasa rapuh.
Di setiap sudut, Kaelen lihat wajah-wajah yang dipenuhi harapan sekaligus ketakutan. reka yang dulu bersembunyi kini mulai keluar, natap langit seolah tidak percaya bahwa matahari masih bisa bersinar tanpa ancaman bayangan yang ngintai.
Serina mperhatikan ekspresi Kaelen. "Apa yang ada di pikiranmu?"
Kaelen nghela napas. "Aku bertarung demi balas dendam. Demi nghancurkan reka yang renggut keluargaku. Tapi sekarang, aku nyadari sesuatu..."
"Apa itu?" tanya Serina.
Kaelen natapnya dengan mata yang penuh kesadaran. "Aku tidak hanya kehilangan keluargaku. Aku juga kehilangan diriku sendiri. Dan aku tak ingin lakukan kesalahan yang sama lagi."
Serina tersenyum tipis, lalu nepuk bahunya. "Kalau begitu, mari kita pastikan tidak ada yang harus lalui apa yang kita alami."
reka tiba di benteng terakhir Ordo Cahaya yang masih berdiri. Para penyintas dari kedua belah pihak berkumpul di sana—mantan prajurit, orang-orang yang dulu percaya pada Cahaya, dan reka yang selamat dari kebrutalan perang.
Salah satu dari reka, seorang wanita tua dengan mata tajam, langkah maju. "Apakah ini sudah berakhir? Apakah kita akhirnya bebas?"
Kaelen natap semua orang di sekitarnya, rasakan berat pertanyaan itu. "Kita sudah nghancurkan musuh yang nindas kita, tetapi perang ini ninggalkan luka yang dalam. Aku tidak bisa njanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja dalam semalam. Tetapi aku berjanji... kita tidak akan mbiarkan ini terjadi lagi."
Suara gemuruh setuju terdengar dari reka yang ndengar kata-katanya. Orang-orang mulai bergerak, mbentuk komunitas baru dari puing-puing yang tersisa.
Seorang pria muda dengan luka di wajahnya langkah maju. "Kita telah kehilangan banyak hal... keluarga, rumah, harapan. Tapi jika kau berkata ada masa depan untuk kita, Kaelen, maka aku akan mpercayainya."
Serina lirik Kaelen dengan bangga. "Aku tak nyangka kau bisa njadi pemimpin seperti ini."
Kaelen tertawa kecil, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. "Aku juga tidak nyangka."
Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa perjalanannya belum berakhir. Bayangan Darius masih nghantui pikirannya, dan ia bersumpah akan nemukan cara untuk mbawanya kembali.
Saat malam mulai turun, Kaelen berdiri di puncak bukit, natap langit berbintang. Angin malam berhembus lembut, mbawa suara yang nyaris tidak terdengar.
Lalu, sesuatu mbuatnya negang.
Untuk sesaat, ia rasa ada seseorang yang ngawasinya dari bayangan. Sebelum ia bisa ncari tahu, suara berbisik terdengar lagi di kepalanya—lebih jelas dari sebelumnya.
'Aku nunggumu, Kaelen...'
Matanya lebar, tetapi ketika ia noleh ke belakang, tidak ada siapa pun di sana.
Kaelen narik napas panjang, ngepalkan tinjunya. Ini belum berakhir. Ia akan nemukan jawaban, akan ncari jalan untuk mbawa kakaknya kembali. Karena satu hal yang pasti—Darius belum benar-benar hilang darinya.
Reviews
All reviews (0)