Ledakan cahaya dan bayangan beradu, ngguncang seluruh kuil. Kaelen lompat ke belakang, pedangnya bergetar akibat dampak benturan sebelumnya. Eryon berdiri di tengah kepulan energi yang berkecamuk di sekelilingnya, matanya bersinar keemasan dengan bayangan hitam yang berkumpul di sekeliling tubuhnya seperti kabut neraka.
Serina berlari ke sisi Kaelen, napasnya berat. "Kau baik-baik saja?"
Kaelen ngangguk sambil natap Eryon dengan tajam. "Kita harus ngakhiri ini sebelum dia kehilangan kendali sepenuhnya."
Eryon ngangkat tangannya, dan dalam sekejap, pilar-pilar batu di sekitar reka retak dan layang ke udara. Dengan satu gerakan cepat, dia lemparkan pecahan batu itu ke arah Kaelen dan Serina.
"Kalian tidak ngerti!" suara Eryon bergema di seluruh ruangan, bercampur dengan resonansi aneh dari Relik Cahaya. "Ini bukan kekuatan yang harus ditakuti! Ini adalah pembebasan dari dunia yang telah rusak!"
Kaelen lompat, nghindari pecahan batu yang berputar, lalu luncur ke depan dengan cepat. Pedangnya bersinar saat ia ngayunkannya ke arah Eryon.
Namun, sebelum pedangnya bisa nyentuh, bayangan di sekitar tubuh Eryon nyebar, mbentuk perisai hitam yang nyerap serangan itu. Mata Eryon berkilat. "Kaelen, kau selalu lihat dunia dalam hitam dan putih. Kau pikir aku telah berubah njadi monster, tetapi aku akhirnya njadi sesuatu yang lebih besar dari manusia biasa!"
Serina bergerak di sisi lain, nembakkan anak panah ke arah Eryon, tetapi sebelum anak panah itu bisa ndekat, pusaran cahaya dan kegelapan nyerapnya. Eryon liriknya dengan tatapan dingin, lalu ngibaskan tangannya.
Gelombang energi ledak ke arah Serina, ndorongnya keras hingga nabrak dinding batu. Debu berhamburan, dan reruntuhan mulai berjatuhan dari langit-langit.
"Serina!" Kaelen berteriak, tetapi tidak ada waktu untuk ngecek keadaannya. Eryon telah lesat ke arahnya dengan kecepatan yang mustahil.
Kaelen nangkis serangan bertubi-tubi dari Eryon. Setiap tebasan yang ia lakukan terasa lebih berat, seolah pedangnya lawan gravitasi itu sendiri. Eryon, dengan setiap gerakan, njadi semakin cepat dan kuat.
"Kau tidak bisa nang, Kaelen." Eryon natapnya dengan tatapan penuh belas kasihan. "Relik Cahaya milihku. Kau tidak bisa lawannya."
Kaelen nggeram, lalu lompat mundur, nata kembali strateginya. "Jika itu benar, kenapa tempat ini berusaha nghancurkan kita? Kenapa kekuatan itu tampak seperti tidak bisa dikendalikan?"
Untuk sesaat, ada keraguan di wajah Eryon. Tetapi itu segera nghilang ketika ia ngangkat tangannya sekali lagi, ngumpulkan lebih banyak energi.
Alden yang sejak tadi bersembunyi, berteriak, "Kaelen, lantai di bawah altar mulai runtuh! Relik itu tidak stabil!"
Kaelen lirik sekilas. Benar—lantai batu mulai retak, cahaya dan bayangan yang rembes dari bola kristal semakin liar. Tempat ini akan runtuh dalam hitungan nit.
Serina yang mulai bangkit, wajahnya berdarah, nyeringai. "Kau selalu punya kebiasaan buruk nghancurkan tempat-tempat kuno, Kaelen."
Kaelen terkekeh. "Bukan aku yang mulainya kali ini."
Serina ncabut dua belati dari pinggangnya, lalu lompat ke arah Eryon dengan kecepatan tinggi. Kaelen ngikutinya, dan dalam sekejap, reka bertiga terlibat dalam pertempuran sengit.
Eryon ngayunkan lengannya, nciptakan gelombang energi yang mbelah lantai. Serina nghindar dengan lompatan akrobatik, sentara Kaelen nebas pusaran energi dengan pedangnya. Percikan cahaya dan kegelapan mbanjiri ruangan, nciptakan bayangan yang terus bergerak seperti makhluk hidup.
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Dari dalam Relik Cahaya, muncul sosok bayangan, lebih besar dan lebih gelap dari yang pernah reka lihat. Suara bisikan yang tadi nuhi ruangan berubah njadi jeritan yang ngerikan. Sosok itu, tanpa bentuk yang jelas, rentangkan sesuatu yang mirip dengan tangan dan njerat Eryon.
Eryon berteriak kesakitan, tubuhnya bergetar saat energi yang ngalir ke dalam dirinya mulai lawan balik. Ia berusaha lepaskan diri, tetapi bayangan itu semakin erat ngikatnya.
Kaelen dan Serina mundur, natap kejadian itu dengan ngeri.
Alden berteriak dari kejauhan, "Relik itu tidak hanya mberi kekuatan! Itu ngonsumsi penggunanya!"
Kaelen ngertakkan gigi. "Kita harus nghentikannya sekarang!"
Dengan seluruh kekuatannya, Kaelen berlari ke depan, ngangkat pedangnya tinggi-tinggi. Serina, tanpa ragu, lompat bersamanya. reka nebas energi hitam yang lilit Eryon, ncoba mbebaskannya sebelum terlambat.
Namun, Eryon natap reka dengan tatapan penuh kemarahan dan rasa sakit. "Tidak! Ini... kekuatanku! Aku tidak bisa kalah!"
Tubuhnya semakin bergetar, cahaya dan bayangan berputar liar di sekelilingnya. Namun, di matanya kini ada sesuatu yang berbeda—bukan hanya obsesi, tetapi juga ketakutan.
Eryon tersenyum lemah, darah netes dari sudut bibirnya. "Aku pikir aku bisa ngubah dunia... tapi ternyata akulah yang diubah." Matanya natap langit yang kini terbuka, seolah lihat sesuatu yang tidak bisa dipahami orang lain. "Kaelen... jangan biarkan reka... nemukan yang lain..."
Sebuah ledakan besar terjadi. Cahaya dan bayangan ledak dari tubuh Eryon, nghancurkan seluruh bagian atas kuil. Langit terbuka, mperlihatkan malam yang diterangi oleh bintang-bintang.
Ketika debu reda, Eryon berdiri di tengah reruntuhan, tetapi tubuhnya getar. Energi yang nyelimuti dirinya perlahan nghilang, ninggalkan ekspresi kosong di wajahnya.
Kaelen ndekatinya, pedangnya masih terhunus. "Eryon... apa yang kau lihat?"
Eryon ngangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya sejak pertempuran ini dimulai, ada sesuatu dalam tatapannya—kesadaran, atau mungkin ketakutan.
"Aku lihat... akhir segalanya."
Dan dengan itu, tubuhnya runtuh di atas altar yang telah hancur.
Namun, sebelum Kaelen bisa bernapas lega, Relik yang hampir hancur mulai berdenyut lagi. Cahaya keemasan dan bayangan hitam berputar, mbentuk sesuatu yang baru. Alden nelan ludah. "Kaelen... Aku rasa ini belum selesai."
Reviews
All reviews (0)