Senja mulai mbalut desa Rothern ketika Kaelen dan kelompoknya nyelinap masuk lalui jalur irigasi yang sempit. Air dingin rendam hingga lutut reka, mbekukan tulang, namun tak satu pun bersuara. Hanya desiran arus dan detak jantung yang terdengar di kepala masing-masing. Bau tanah basah bercampur anyir samar mbuat reka semakin waspada.
Serina berbisik pelan, nyaris tak terdengar. "Darek, kau yang paham jalur ini. Bawa kami ke rumah tua yang kau sebut."
Darek ngangguk dan mulai bergerak di depan. Kaelen ngamati sekeliling. Cahaya obor dari pos penjagaan nerangi sebagian jalanan desa, nciptakan bayangan yang nari di dinding-dinding rumah. Terdengar samar suara tawa prajurit di kejauhan, seolah ngejek ketakutan yang mbelenggu penduduk desa.
"Kita hampir sampai," bisik Darek.
Saat reka keluar dari saluran air, tubuh Kaelen negang. Udara malam terasa lebih berat. Suara langkah sepatu logam di atas tanah terdengar semakin jelas. Dua prajurit Cahaya berjalan santai, berbincang pelan.
"Berapa lama kita harus berjaga di desa busuk ini?" keluh salah satunya.
"Sampai reka mastikan tak ada sisa Bayangan Malam yang berkeliaran. Pemimpin ingin hasil. Katanya, reka ndapat laporan ada gerakan di hutan utara," sahut yang lain.
Kaelen saling pandang dengan Serina. reka tahu, keberadaan reka hampir terendus.
Lyra nahan napas di samping Kaelen. Matanya dipenuhi kecemasan sekaligus amarah. Perasaan kehilangan orang-orang terdekatnya kembali nyala di benaknya. Kaelen liriknya sejenak, mulai nyadari betapa dalam luka yang Lyra sembunyikan di balik sorot matanya.
"Cepat," bisik Varrok dengan nada tegas.
reka rayap di antara bayangan rumah-rumah, hingga tiba di sebuah rumah tua yang nyaris roboh. Darek mberi isyarat agar reka masuk.
Di dalam, rumah itu gelap dan berbau apek. Serina ngintip dari celah dinding. Tidak ada tanda kehidupan. Suara angin yang nyusup di sela papan mbuat suasana semakin ncekam.
"Apa reka sudah pergi...?" bisik Lyra, suaranya nyaris patah.
Darek nggeleng. "Tidak... aku yakin reka di sini."
Tiba-tiba, sebuah suara pelan terdengar dari sudut ruangan. "Siapa di sana...?"
Kaelen segera nyiapkan pisaunya, namun Serina lebih cepat.
"Kami bukan musuh," ucap Serina perlahan. "Kami Bayangan Malam. Kami datang ncarimu."
Dari balik tumpukan kayu, muncul seorang lelaki dengan wajah penuh luka, diikuti seorang perempuan muda yang tampak lelah dan ketakutan.
"Kael... Aria..." suara Lyra bergetar.
"Lyra...? Kau hidup...?" lelaki itu, yang ternyata Kael, tampak tak percaya. Suaranya parau, seperti seseorang yang terlalu lama hidup dalam ketakutan.
Aria langsung berlari luk Lyra. Isak tangis tertahan pecah dalam keheningan rumah tua itu. Tubuh Aria getar, seakan beban kesendirian yang selama ini dipikulnya runtuh dalam pelukan itu.
Kaelen mperhatikan pemandangan itu. Untuk sesaat, ia rasakan kehangatan yang asing. Ia belum pernah miliki mon seperti itu sejak kedua orang tuanya dibunuh. Matanya beralih pada Lyra yang tersenyum di antara air matanya. Ada sesuatu yang ngusik jiwanya, namun ia cepat ngalihkannya. Sekilas, Kaelen rasa sesuatu yang berbeda dalam dirinya saat lihat Lyra. Mungkin hanya sesaat, namun rasa itu nyata.
Serina nghela napas lega. Namun, ia tahu waktu reka terbatas. Dalam benaknya, lihat Kaelen dan Lyra bersama nimbulkan perasaan aneh yang belum ia ngerti. Ia ngabaikannya, fokus pada misi.
"Kita harus keluar sebelum patroli nyadari sesuatu. Kita bicara lebih banyak nanti," kata Varrok dengan nada tegas, namun tetap rendah agar tak ngundang bahaya.
Kaelen berjaga di pintu. Matanya nyapu sekitar. Tidak ada tanda-tanda prajurit, tapi firasat buruk nyelimutinya. Ada sesuatu yang terasa salah, ski ia belum dapat njelaskannya.
Saat reka bersiap kembali ke irigasi, Kaelen berbisik, "Cepat. Aku rasa reka akan kembali ke sini."
Serina nggenggam bahu Kael dan Aria. "Kita bawa kalian keluar dari sini. Bersiaplah. Tetap diam, apapun yang terjadi."
Kael ngangguk, skipun sorot matanya penuh ketakutan.
Lyra berjalan di samping Kaelen. "Terima kasih," ucapnya lirih.
Kaelen hanya ngangguk. Kata-kata sulit keluar dari mulutnya, namun perasaan hangat itu tetap tinggal. Serina yang berjalan di belakang reka mperhatikan interaksi itu. Hatinya ncubit, ski ia tak tahu kenapa.
Malam itu, tujuh bayangan nyelinap keluar dari rumah tua, lawan dingin, ketakutan, dan ancaman maut. Perlawanan yang tadinya rapuh mulai miliki bentuk. Namun, dalam kegelapan, mata-mata Cahaya mungkin sudah mulai ngintai. Kaelen noleh sejenak ke belakang, mastikan tak ada yang ngikuti. Namun, di antara kegelapan desa, ia sempat rasa lihat sepasang mata ngawasinya. Ia ngedipkan mata, namun sosok itu telah lenyap. Hanya malam yang nyelimuti.
Firasat buruk itu tidak hilang.
Reviews
All reviews (0)