Font Size
15px

Fajar mulai rayap di cakrawala ketika Kaelen terbangun. Udara dingin nusuk, namun yang lebih ngusik pikirannya adalah pembicaraan Serina dan Varrok tadi malam. Ia tahu, di antara reka, kepercayaan masih rapuh.

"Kita berangkat saat matahari mulai ninggi," suara Serina mbuyarkan lamunannya. Ia sudah bersiap dengan busur di punggung dan belati di pinggang.

"Utara?" tanya Kaelen.

Serina ngangguk. "Tujuan kita desa Rothern. Aku dengar dua penyintas mungkin ada di sana. Tapi itu dekat benteng Cahaya. Kita harus hati-hati."

Lyra mandang reka satu per satu. "Kalau reka masih hidup... kita tidak boleh kehilangan reka lagi. Aku siap."

Darek hanya ngangguk, seperti biasa tak banyak bicara, namun genggamannya pada kapak nunjukkan kesiapannya.

Varrok lirik Kaelen. "Kau siap?"

Kaelen nghela napas. "Selalu."

Perjalanan reka dimulai. Hutan pagi itu diselimuti kabut tipis. Langkah reka senyap, napaki jalan setapak yang jarang dilalui. reka tahu, setiap sudut bisa jadi tempat mata-mata Cahaya.

Kaelen rasakan ketegangan dalam dirinya. Ini pertama kalinya ia bergerak bersama kelompok yang lebih besar. Ia terbiasa hanya bersama Varrok—saling mahami tanpa banyak bicara. Kini, ia harus mpercayai orang-orang yang baru dikenalnya.

Serina tampak tegar di depan, tapi Kaelen nangkap sesuatu di balik sorot matanya—keraguan, atau mungkin ketakutan yang masih tersisa. Luka dari kehilangan Bayangan Malam jelas belum sembuh.

Setelah beberapa jam berjalan, reka tiba di pinggiran bukit yang nghadap ke desa Rothern. Dari kejauhan, terlihat aktivitas pasukan Cahaya. Sebuah pos penjagaan berdiri di tepi desa, bendera emas berkibar angkuh. Asap tipis mbubung dari dapur rumah penduduk, suara samar dentingan logam terdengar, dan sorak prajurit sesekali cah keheningan.

Serina berjongkok, ngamati. "Penjagaan diperketat. Ini lebih dari yang kuduga."

Lyra ngepalkan tangan. "Apa reka tahu kita akan datang?"

Varrok nggeleng. "Tidak. Ini berarti desa ini punya nilai penting bagi reka."

Kaelen natap ke bawah. Ia ncermati wajah-wajah penduduk desa. Ada ketakutan dalam gerak reka, seolah hidup di bawah bayangan pedang.

"Bagaimana kita masuk?" tanya Kaelen.

Darek akhirnya bersuara. "Ada jalur irigasi di belakang sana. Aku tahu karena dulu aku pernah berdagang ke sini. Itu bisa jadi jalan masuk."

Serina ngangguk setuju. "Kita masuk saat senja. Patroli biasanya lebih lengah saat itu. Kita cari penyintas dan keluar sebelum reka nyadari."

Varrok natap Kaelen. "Tetap fokus. Percayai punggung temanmu, tapi jangan pernah abaikan nalurimu."

Kaelen ngangguk, ngencangkan genggaman pada pisaunya. Namun, dalam hatinya, keraguan masih bersarang. Berjalan dalam kegelapan bersama orang-orang yang baru kukenal... aku harus yakin reka akan ngangkat pedang ke arah yang sama, bukan ke punggungku.

Serina narik napas panjang. Dalam hatinya, ia berdoa agar tidak ada lagi pengkhianatan seperti di lembah Orndell. Aku ingin percaya pada reka... tapi aku tahu, pengkhianatan bisa datang dari siapa saja. Aku telah lihatnya sebelumnya.

Saat matahari perlahan tenggelam, bayangan lima pejuang itu mulai rayap nuju desa yang dijaga ketat. Bara perlawanan yang selama ini tersembunyi, perlahan mulai nyala. reka langkah dalam bayang-bayang, namun di dada masing-masing, berkobar dua hal yang sama—harapan dan ketakutan.

You are reading The Shattered Light Chapter 9: – Bara yang Mulai Menyala on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.