Sex dengan Ishakan tidak pernah berakhir dengan normal. Itu selalu berlanjut sampai dia tidak tahan lagi, dengan dia ndorong batas fisik dan ntalnya hingga ncapai titik puncaknya. Jika reka terus lakukan hal ini, itu hanya akan berakhir dengan kematiannya yang terlalu dini. Leah yakin itu benar-benar bisa mbunuhnya.
Dia berada dalam kebingungan, di ambang kejernihan, ketika sebuah suara nyadarkannya kembali.
"Kamu benar-benar tidak punya hati nurani. Kamu sangat keras padanya..."
Apakah ini mimpi atau kenyataan? Leah berbaring diam ketika dia ndengarkan, bahkan tidak mampu ngangkat kelopak matanya. Pembicara lanjutkan, serangkaian keluhan.
"Kamu tidak ngadakan upacara, jadi dia seharusnya tidak hamil, tapi tetap saja kamu sudah bertindak terlalu jauh! Apa yang akan kami lakukan sekarang setelah Anda nggigitnya seperti ini? Sang putri harus ngenakan gaun!"
Sebuah tangan yang kokoh luncur dengan lembut ke rambut Leah, mbelai dengan penuh kasih sayang. Sensasinya muncul dalam kabut, dan dia rasa sedikit tidak nyaman.
'Saya setuju. Ishakan, kamu terlalu keras kali ini," kata suara kedua.
"Sungguh nakjubkan bahwa sang putri berhasil kembali hidup!" seru suara pertama.
Haban. Gennin."
Suara lain bergabung dalam percakapan, tidak peduli.
"Keluar dari sini. Aku akan ndengarkan semua keluh kesahmu nanti." Sebuah tangan nangkup pipinya, dan pembicara tertawa kecil. "Kalian berdua terlalu berisik. Dia akan bangun karenamu."
Dua suara lainnya langsung terdiam. Saat sepertinya reka tidak akan berbicara lagi, Leah rasakan kelelahan landa dirinya sekali lagi, dan dia kembali tertidur di bawah belaian tangan itu, seolah-olah itu dengan lembut mbuatnya terlupakan.
***
"..."
Ketika Leah akhirnya mbuka matanya, dia nemukan kepalanya bertumpu pada paha yang berotot. Berkedip, dia ndongak, ncoba nentukan arahnya. Sebuah tangan hangat nyisir rambut ke belakang dari matanya.
"Apakah kamu bangun?"
Lea bergerak. Tubuhnya mati rasa dan pikirannya berkabut, dan Ishakan nggesernya sehingga dia bisa bersandar di dadanya. Tangannya yang besar ganginya dengan hati-hati, seolah-olah dia terbuat dari porselen yang halus dan rapuh. Sambil nundukkan kepalanya, dia nciumnya dengan penuh kasih, dan air dingin ngalir dari mulutnya ke mulutnya. Leah otomatis nelannya, dan Ishakan letakkan kendi ke bibirnya, lalu mbiarkannya minumnya lagi. Karena haus, dia nelan setiap tetesnya, dan setelah dia cukup terhidrasi, lidah Ishakan ngikuti air di antara bibirnya, njilat giginya dan nggelitik langit-langit mulutnya.
"Aaah..."
Erangan kecil keluar darinya dan dia terkekeh, ndekat untuk ciuman lagi. Satu tangan dengan lembut mbelai pipinya dan lengkung di bawah dagunya, luncur ke bawah hingga ke payudaranya. nyelip di bawah bahan tipis gaun tidurnya, dia ncubit puting sensitifnya dengan ibu jari dan telunjuknya.
Pinggulnya bergerak sendiri dalam respons lamun, didorong oleh sensasi. Tangan di punggungnya luncur ke bawah, sambil nepuk-nepuk punggungnya, nyentuh pahanya untuk narik ujung gaun tidurnya. Ujung jarinya nyentuh basahnya yang semakin besar dan dia kembali sadar dengan tersentak.
"Aaah, Ishakan!"
Dengan cepat, dia ndorongnya njauh, dan Ishakan mundur dengan patuh, tersenyum sambil ngangkat tangannya untuk njilat jari-jarinya. Pikirannya yang keruh njadi jernih dan ingatan tentang malam sebelumnya mbanjiri kembali. Leah secara refleks natap perutnya dan kemudian ke Ishakan. Wajahnya pucat.
"Jangan khawatir, kamu tidak hamil." katanya, sebagai jawaban atas rasa malunya.
Lea ngerucutkan bibirnya. Bagaimana? Tidak mungkin dia tidak njadi seperti itu. Dia ingat dengan jelas kejantanannya berdenyut di dalam dirinya, mbanjiri dirinya dengan s3nnya dalam jumlah yang mustahil.
"Berbohong..."
Ishakan terkekeh.
"Jika Anda mpertanyakan kesuburan saya, Anda salah. Kita harus lakukan upacara sebelum kawin untuk mungkinkan terjadinya kehamilan. Semua warga Kurkan harus lakukan hal yang sama."
Leah jamkan mata, nghela napas lega. Dia luknya dan berbisik nakal di telinganya.
"Apa? Apakah kamu sedih? Apakah kamu ingin punya bayi bersamaku?"
"..."
"Atau apakah kamu bersenang-senang kemarin? Jika kamu mau, aku akan selalu lakukannya seperti tadi malam."
Dia natapnya dan Ishakan tertawa.
"Berapa lama aku tertidur?"
"Tidak terlalu panjang. Matahari belum terbit."
Setidaknya dia sudah bangun lebih awal. Leah rasa lega, tapi Ishakan ngerutkan kening seolah kecewa. Dia ngabaikannya, bangkit dengan tergesa-gesa. Namun ski pikirannya sudah siap, tubuhnya belum. Kakinya goyah dan dia akan langsung pingsan jika Ishakan tidak bergerak cepat untuk nangkapnya.
"Kemana kamu pergi?"
Jawabannya sudah jelas, tapi dia tetap ngatakannya.
"Ke istana. Saya harus kembali."
"Berangkat setelah sarapan." Seolah dia sudah nduga penolakannya, Ishakan tersenyum, matanya hangat. "Jika kamu sarapan denganku, aku akan mberitahumu sesuatu yang narik."
Reviews
All reviews (0)