Font Size
15px

Dia bisa rasakan kejantanannya mbengkak. Sensasinya sangat nyata dan mbingungkan saat pria itu berdenyut-denyut dan luncur ke dalam dirinya, nekan bagian paling lembut dari dirinya, ndorong ke dalam organ-organnya hingga dia ngira akan ledak. Rasa sakit itu mbuat dia terengah-engah, dinding bagian dalamnya regang seolah-olah akan robek, dan Leah njerit.

"Agh... sakit...!"

Ishakan tuli terhadap teriakannya, napasnya terasa berat dan berat. Giginya yang tajam nancap di belakang lehernya saat ereksinya nggeliat seperti ular, dan dia ngosongkan dirinya di dalam dirinya. Com3nya yang panas dan kental lapisi dinding bagian dalamnya. Dia tampaknya bertekad untuk tidak mbiarkan setetes air pun keluar, ndorongnya semakin dalam, dan Leah bisa rasakannya nuhi dirinya, semburan masuk jauh ke dalam saluran sensitifnya.

Tampaknya tidak manusiawi. Jauh lampaui kemampuan Leah. Dia ingat peringatan itu, Kamu tidak akan bisa nolak Kurkan di bulan purnama . Sekarang dia akhirnya ngerti apa artinya, beban berat di balik setiap kata. Dia terhuyung-huyung, ncoba bergerak dan nggeser serta nghilangkan rasa sakit, dan kemudian dia teringat bahwa orang Kurkan harus nuhi kondisi tertentu untuk nginduksi kehamilan. Matanya mbelalak.

Tidak. Tidak mungkin...

Berkedip ketakutan, dia ncoba ndorongnya njauh, berjuang lawannya.

"Ah! Tidak, kamu tidak bisa..."

Dia mungkin benar-benar hamil kali ini. Tampaknya mustahil dia tidak hamil, ngingat banyaknya s3n di dalam dirinya. Karena ketakutan, dia ncoba ndorongnya keluar, njauh darinya, namun kejantanannya nolak untuk bergerak.

"Tolong, Ishakan, keluarkan!" Dia njerit, terisak, dan akhirnya nyadarkannya kembali. Ishakan tersentak seolah-olah dia keluar dari mantra, giginya lepaskan cengkeramannya di lehernya.

"Heuk...maaf, Leah..."

Sambil nggendongnya, dia mbaringkannya miring di lantai, dan Leah terisak seperti anak kecil dalam pelukannya.

"Apakah itu sangat nyakitkan? Jangan nangis..."

"Keluarkan, keluarkan..."

"...Tidak, jika aku ncabutnya sekarang, itu akan robekmu."

mbelai perutnya yang bengkak, dia luknya dan ncium pipinya, lidahnya dengan lembut njilat bekas gigitan yang tertinggal di lehernya.

"Tunggu sebentar lagi," dia nenangkan. "Ini akan segera berakhir."

"Tetapi jika...jika kamu nyimpannya....aku akan hamil...ugh, kumohon..."

"Tidak, tidak apa-apa," dia yakinkannya. "Itu tidak benar."

Dia terus nenangkannya, berusaha nahan tangisnya. Dia yakin dia berbohong, ereksinya tidak nunjukkan tanda-tanda lunak. Rasanya seolah-olah itu tidak akan pernah berakhir dan dia akan terjebak seperti ini, tertusuk secara nyiksa padanya. Saking terkejutnya dan kewalahannya hingga ia tidak bisa berhenti nggeliat, berusaha lawan, kukunya nggores lengan dan pahanya, bahkan nggaruk betisnya dengan jari kakinya. Kaki panjang Ishakan terjalin dengan kakinya dan dia ngerang, mprotes.

"TIDAK..."

"...Lea, berhenti bergerak."

njepitnya dengan kuat, dia maksanya untuk berhenti ronta. Tubuhnya sangat panas, manggangnya, mbuat suhu tubuhnya lonjak. Dia njadi kaku saat rasakan sesuatu bergerak dalam dirinya, anggota tubuhnya lemas saat Ishakan masuk lagi ke dalam dirinya. Dia bisa dengan jelas rasakan panasnya banjir s3n, dan dia gangi perutnya, ratap lagi.

"Aaah!"

"Haa, haa...mmnn!"

Ishakan berteriak keras dan luknya lebih erat, pinggulnya bergetar seolah dia tidak tahan dengan rangsangan. Bahkan gerakan kecil itu mbuat Leah ngejang saat kejantanannya yang bengkak renggangkan dirinya, dan matanya berputar ke belakang karena rasa sakit, kenikmatan, dan dia muncrat lagi.

Cairan ngalir ke kakinya saat otot-otot bagian dalamnya ngejang dengan panik. Ishakan pasti rasakan sensasi yang tak tertahankan, setiap tekanan berikutnya lebih terasa euforia daripada yang terakhir. Gesekan manis nelan kejantanannya hingga dia tidak tahan lagi. Dia harus pindah. Mustahil, dia mulai ndorongnya lagi.

Leah ncoba nahan, tetapi setiap kali Ishakan nabraknya, lebih banyak cairan keluar dari dirinya, berceceran ke lantai. Dia hancur, air liur ngalir dari mulutnya yang terbuka saat air mata ngalir di pipinya.

"Ah, ah..."

Dia terisak. Seluruh tubuhnya basah kuyup, bingung dengan zat yang masuk dan keluar dari dirinya. Ketika sungai yang ngalir keluar dari tubuhnya akhirnya berhenti, dia njadi tidak berdaya, tidak miliki kekuatan untuk lakukan apa pun selain nyerah pada Ishakan.

Sungguh kenikmatan yang sangat nyakitkan. Dia tidak punya apa-apa lagi, dan dia masih keras, datang ke dalam dirinya tanpa henti, mbanjiri dia dengan s3n-nya. Kesadarannya tergagap, berkibar. Dia samar-samar ndengar desahan lembut pria itu saat dia nutup matanya dengan tangannya, dan pandangannya njadi gelap sepenuhnya saat dia pingsan.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 86: Jangan Khawatir on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Abandoned Woman Busy Farming cover
Similar genre

Abandoned Woman Busy Farming

Qingka ·Romance

Thecharmoffarminglifeinspringtimeisprofound. Transmigratedintothelifeofapregnantabandonedwife,BaiRuozhuresolvedtoliveofftheland,thewater,andthespac...

Elven Invasion cover
Trending now

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.