Leah ragu-ragu. Dia ingin nanyakan banyak hal pada Ishakan, tapi lebih dari segalanya dia hanya ingin pergi. Sulit untuk natap wajahnya ketika mon-mon dari tadi malam terus terlintas di benaknya, bayangan s3x yang tak ada habisnya dan nakutkan nghantuinya.
Dia nangis dan ronta seperti anak kecil yang kewalahan. Indranya telah didorong hingga batasnya. Itu sangat ndasar dan ntah dan Ishakan telah nyerah sepenuhnya pada dorongan primitif yang tidak dapat dia pahami. Cobaan itu mbekas dalam benaknya, dan kenangan akan sentuhan pria itu mbuatnya nggeliat karena malu. Itu terlalu berlebihan, semuanya. ngepalkan tangannya, kukunya nggigit telapak tangannya saat dia berbicara.
"Apa pun itu, aku tidak perlu tahu."
Dia ncoba nunjukkan sikap anggunnya saat dia ndorongnya njauh, kakinya getar di bawahnya, tapi dia baru saja langkah dua langkah ketika ada sesuatu yang nangkap ujung gaunnya. Itu bukan Ishakan. Dia berdiri di samping tempat tidur, ngamati dalam diam. Gaunnya tersangkut pada sesuatu, paku di lantai, dan bahkan mbungkuk untuk lepaskannya, ia berada di luar jangkauannya.
Dia nyerah. Rasa frustrasi terlihat jelas di wajahnya saat dia terjatuh kembali ke tempat tidur, dan Ishakan tersenyum padanya.
"Kamu tidak bisa kembali sendirian. Kamu bahkan tidak bisa berjalan."
mbungkus Leah dalam pelukannya, dia mbawanya ke tempat tidur, mbentuk sandaran dari bantal dan nyelimutinya. Puas dengan usahanya, dia dengan lembut ncium keningnya.
"Tunggu sebentar, oke? Aku akan mbelikanmu sesuatu yang enak."
Dia ngenakan mantel dan nyelinap keluar pintu, langkah kakinya nghilang di kejauhan. Dengan ruangan yang kosong, Leah manfaatkan kesempatan itu untuk ngamati sekelilingnya. Itu adalah ruangan yang cukup besar, jadi dia berasumsi itu pasti salah satu penginapan terbaik, dilengkapi dengan perabotan berat, wah dan gah. Di sampingnya, di tempat tidur ada kertas yang sedang dibaca Ishakan ketika dia bangun.
Semuanya ada di Kurkan. Dia pasti sedang nulis ketika dia tidur; tintanya masih segar, ngkilat karena lembab. Leah mpelajari teks itu. skipun tulisan tangan Ishakan dalam bahasa Estia buruk, kaligrafinya dalam bahasa ibunya sangat sempurna. Garis-garisnya tebal dan tegas, namun tetap ada kesan seni.
Pintu terbuka dan Ishakan muncul kembali, mbawa nampan berisi piring-piring berisi makanan. Buah-buahan, daging, roti, manisan, variasinya sangat banyak dan nurut pandangannya, cukup untuk mberi makan pergantian penjaga di istana. Dia harus nahan napas saat dia letakkannya di hadapannya.
Apakah dia seharusnya makan semua itu?
Mungkin dia bermaksud agar dia ncicipi sedikit setiap hidangan, seperti di jamuan makan. Orang Kurkan hampir suka par dalam ngonsumsi makanan, namun tidak ada alasan untuk makan terlalu banyak, terutama di pagi hari.
"Aku mbawakanmu sesuatu yang ringan," jelas Ishakan. "Hanya untuk berbuka puasa."
Lea natap. ja di samping tempat tidur ngerang karena beban.
"Tetapi beri tahu saya jika Anda nginginkan lebih," tambahnya. "Kamu mbakar banyak energi tadi malam."
"..."
Itu ngingatkan Leah pada sarapan Genin. Rupanya orang Kurkan sudah terbiasa makan dengan cara ini.
Ishakan ndorong ja lebih dekat ke tempat tidur dan narik kursi untuk dirinya sendiri, duduk di seberangnya. Leah berlari ke depan di tempat tidur untuk makan dari piring kecilnya sendiri, nerima pisau dan garpu dari Ishakan. Bentuknya kecil, seolah diciptakan khusus untuk tangannya.
Ishakan masukkan tangannya ke dalam semangkuk air dan kemudian nyobek roti bersamanya, ngabaikan kenyamanan piring dan peralatannya. lihatnya makan dengan antusias rangsang nafsu makannya. Makanannya asing, tapi rasanya enak, dan garpu serta pisaunya diiris rapi dan dipindahkan ke mulutnya. Sayuran, lalu sepotong tipis roti panggang dengan keju di atasnya, asin dan gurih. Ada hidangan kukus yang digulung di dalam daun, daging digiling halus dengan bumbu harum, diisi dengan daun anggur dan dimasak dalam panci. Baunya yang nyengat hampir mbuatnya ngeluarkan air liur, dan sebelum dia nyadarinya, dia sudah makan tiga.
Dia sudah makan terlalu banyak, tapi setiap hidangan lebih mbuat penasaran daripada yang sebelumnya. Hidangan lain nyerupai yogurt, tetapi warnanya krem yang aneh, dan ketika dia ncicipi sesendoknya, rasanya seperti berasap yang masuk ke tenggorokannya. Setelah lima sendok lagi, dia ngidentifikasinya sebagai sejenis terong.
Dia hampir ngambil gigitan keenam ketika dia nyadari berapa banyak yang telah dia makan dan letakkan sendoknya karena terkejut. Ishakan liriknya sambil ndorong piringnya njauh.
"Apakah kamu sudah selesai?"
"Terlalu banyak." Dia seharusnya tidak makan yogurt apa pun, tetapi semua makanannya sangat lezat, dan tidak seperti apa pun yang pernah dia makan sebelumnya. Tapi itu bukan alasan. Dia nyesali kurangnya pengendalian diri.
"Yah, makanlah buah."
Dia tidak mberikan saran. Dia mberinya perintah.
Reviews
All reviews (0)