Font Size
15px

Peringatan: Pelecehan seksual, percobaan penyerangan seksual.

"Ahhh, Yang Mulia, ahh, lebih, lakukan lebih keras...!"

"Hmm, ahh...."

Tubuh telanjang Lady Mirael bersinar dalam cahaya kamar tidur saat dia luk leher Blain dengan nggoda. Blain berhenti dalam dorongannya dan narik napas dalam-dalam, mberi isyarat kepada Leah untuk duduk. Dia basah kuyup oleh keringat.

"Jangan ngalihkan pandangan," perintahnya saat Leah hendak duduk di kursi di samping tempat tidur.

Tangannya ngepal saat dia natap tajam ke arah pria dan wanita yang saling berpelukan. Lady Mirael ngerang lebih keras saat Blain kembali ndorong, tetapi dia mperhatikan Leah yang duduk getar di kursinya. Pemandangan itu mbuatnya bersemangat. Dengan kasar, dia narik kejantanannya keluar dan mbiarkannya bersandar di perut Lady Mirael.

Leah segera ngalihkan pandangannya, lepaskan napas yang ditahannya.

"..."

Ruangan itu berbau tidak sedap. skipun Leah ingin segera ninggalkan ruangan ini, Blain tidak pernah mbiarkannya pergi begitu saja. Sambil ndorong Lady Mirael, ia turun dari tempat tidur, kejantanannya bergoyang di hadapan Leah, basah dan neteskan berbagai macam cairan. Ia ngusap rambutnya yang basah dengan tangannya.

"Hisaplah," perintahnya.

Itu njijikkan. Itu njijikkan. Leah ncoba mbuka mulutnya dengan patuh, tetapi dengan cepat harus nutupinya dengan tangannya saat dia tersedak dan muntah. Blain natapnya dengan mata biru yang dingin.

"Kau bahkan tidak bisa lakukan itu?" tanyanya dengan senyum sinis. reka bertunangan dan akan segera nikah, tetapi Leah dan Blain belum pernah berhubungan seks. Setiap kali dia nyentuhnya, dia mulai nggigil dan rasa mual.

Dia pernah ngabaikan protesnya. Dia pernah ncoba lakukannya dengan paksa saat dia nangis dan mohon, tetapi setelah dia pingsan, dia nyerah. Sekarang, dia hanya harus nontonnya berhubungan seks dengan pasangannya.

Biasanya, dia mbiarkannya pergi setelah dia dengan sabar ngawasi, tetapi hari ini berbeda. Tepat saat dia berhasil berhenti tersedak dan mbuka mulutnya untuk minta maaf, dia nampar wajahnya, rasa sakit yang hebat tiba-tiba muncul. Bingung, dia nutupi pipinya dengan tangannya, natapnya.

"Tentu saja kau telah nghisap penisnya. Apakah penisku kotor?"

Kata-kata yang sangat vulgar. Leah ngatupkan giginya saat rasa sakit nusuk tengkoraknya. Telinganya berdenging. Dia tidak tahan lagi. Sambil rangkak berdiri, dia larikan diri.

"Lea!!!"

Dia bisa ndengar Blain manggil, tetapi dia tidak noleh ke belakang. Hujan deras mbasahi dirinya, dan dia tidak peduli. Untuk nghindari pengejaran oleh para pelayannya, dia nyelinap ke taman istana dan segera sampai di mata air Dewa laki-laki.

Leah sesekali ngunjungi tempat ini saat ia rasa lelah. Tempat ini hampir selalu sepi, jadi ia bisa nyendiri di sini, dan bahkan dengan air mancur yang luap karena hujan dan tanah yang dipenuhi dedaunan basah, ia rasa nyaman.

Saat dia duduk di atas batu basah dekat air mancur, air matanya ngalir deras. Sambil luk lututnya, dia nangis tersedu-sedu.

Ia rasa sangat terhina dan malu. Ia belum pernah bersama pria lain, jadi ia tidak ngerti ngapa Blain ngatakan hal-hal seperti itu. Di mana pria yang ia cintai? Ia rasa seolah-olah nghilang seperti mimpi.

Hujan deras bercampur dengan air matanya. Pipinya terasa sakit. Di antara isak tangisnya dan hujan, dia tidak ndengar suara gerisik dedaunan, tetapi tiba-tiba hujan berhenti. Dia masih bisa ndengarnya, tetapi hujan tidak lagi nimpanya. Terkejut, dia ndongak.

Seorang pria bertubuh besar berdiri di hadapannya, jauh lebih tinggi darinya dan seluruh tubuhnya ditutupi jubah berkerudung. Pria itu gang payung di atas tubuhnya.

Kulitnya rinding saat jantungnya berdebar kencang, sakit sekali hingga terasa seperti diremukkan. Dia tidak ngerti ngapa ini terjadi.

"Siapa kamu?" tanyanya tajam, langsung bersikap defensif. "Identifikasi dirimu."

Namun, pria itu tidak njawab. Tatapannya beralih ke pipi Leah dan Leah segera nutupinya, malu. Ia tidak ingin ada yang lihatnya terlihat begitu malukan. Namun, pria itu telah ngamatinya selama beberapa waktu, dan perlahan-lahan ia nurunkan tudung jubahnya untuk mperlihatkan mata emasnya.

"Suamimu."

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 190: Penampilan 2 on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Vengeance in His Bed cover
Similar genre

Vengeance in His Bed

JacintaVike ·Romance

18+READERSONLY:Thisstorycontainsexplicitsexualcontent(smut),darkthemes,stronglanguage,possessivealphadynamics,andanenemies-to-loverspowerimbalance....

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.