Leah telah lama ncintai Blain. Blain selalu ndampinginya dan rawatnya setelah ia kehilangan ibunya. Ia masih ingat dengan jelas saat ia nyatakan perasaannya kepada Blain, di sebuah taman indah yang dipenuhi bunga peony. Dengan bunga peony yang bergetar di tangannya, ia ngatakan bahwa ia ncintainya, dan Blain ngatakan bahwa reka akan ngadakan pesta pernikahan yang gah.
Setiap kali Blain mbuatnya kesal, ia teringat hari itu. Hangatnya sinar matahari, angin sepoi-sepoi yang sejuk, dan kebahagiaan yang ia rasakan... terlepas dari kata-kata dan tindakannya yang dingin, ia tahu Blain ncintainya.
Namun, terkadang dia akan ndorongnya hingga batas maksimal, seolah-olah dia sedang ncoba ngujinya. Hari ini tidak berbeda.
"Apakah kamu tidak cemburu?"
ndengar pertanyaan itu, tangan Leah mbeku di atas peralatan makannya. Ia datang untuk makan malam di istana utama atas permintaannya, dan ia perlahan nelan makanan itu di mulutnya.
"Apa kamu tidak rasakan apa-apa skipun aku bersama gadis lain di hadapanmu?" tanyanya lagi.
Bibir Leah bergetar. Ia tidak yakin bagaimana ia harus njawab pertanyaan itu.
"...Baiklah," katanya ragu-ragu, ncoba nebak apa yang diinginkannya. Tentu saja harga dirinya terluka, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Dia cacat. Dia tidak bisa nuhi perannya sebagai istrinya. Dia tidak punya pilihan selain noleransinya.
Namun Blain tampaknya tidak nyukai jawaban itu. Tatapannya berubah tajam dan pisaunya berdenting keras di atas piringnya.
"Kau tidak peduli dengan apa yang kulakukan?" tanyanya dengan nada berbahaya.
"..."
skipun Leah berusaha mberikan jawaban yang diinginkannya, tidak peduli seberapa keras ia berpikir, Leah tidak dapat nebak apa jawabannya. Blain ngerutkan kening saat Leah berkedip, bingung. Leah narik napas dalam-dalam.
"Apa yang terjadi dengan kulitnya?" tanyanya.
Semua kulit binatang berharga yang diperolehnya dari perburuannya telah dikirim ke istananya. Dia adalah seorang pemburu yang hebat, dia berhasil mbunuh semuanya tanpa rusak kulitnya terlalu parah. Sayangnya, dia tidak sempat lihatnya.
"Saya akan ngurus makan malam," katanya cepat. Dia terlalu sibuk dengan tumpukan dokun, tetapi dia harus segera nyelesaikannya. "Saya punya banyak pekerjaan hari ini..."
Untungnya, dia tidak ngatakan apa-apa. Dia tahu betapa lelahnya dia.
"Katakan saja jika kamu nyukai sesuatu. Aku akan mbawa lebih banyak lain kali."
Sambil ngeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya, ia nyerahkannya kepada wanita itu. Di dalamnya terdapat sebuah cincin berhiaskan berlian dengan batu kecubung di bagian tengahnya. Pandangan wanita itu beralih ke tangannya, di mana terdapat sebuah cincin di jari manisnya dengan bentuk yang sama, terbuat dari berlian dan safir.
Mungkin itu cincin pertunangan.
"Pakailah."
Ia ngeluarkan cincin itu dari kotaknya dan masangkannya di jarinya. Cincin itu terasa berat dan mberatkan, mungkin karena sisi batu permatanya, dan ia tidak percaya bahwa sang pangeran telah mberinya cincin semahal itu sentara anggaran istana sudah dikurangi drastis karena pernikahan itu. Ia tidak bisa bahagia ketika tahu dari mana uang untuk cincin itu berasal.
"Kau benar-benar tidak suka barang ini. Tapi pakai saja," kata Blain. skipun dia tidak tampak senang dengan hadiah itu, Blain rasa puas hanya dengan lihatnya makainya. "Kau mau hadiah lain?"
Pikiran itu tiba-tiba muncul di benaknya, dan Leah ngucapkannya tanpa sadar. "Sebuah pena bulu."
"...Bulu pena?" tanya Blain tak percaya.
"Kemarin kau mberiku beberapa bulu," kata Leah sambil tersenyum tipis. "Kau sendiri yang ngasah ujung-ujungnya."
Itu adalah kenangan yang berharga. Dia pikir itu akan mbuatnya bahagia, tetapi wajahnya berubah marah, seolah-olah dia akan berteriak dan ngamuk.
"Yah, aku punya banyak dokun yang harus diselesaikan, jadi..." katanya cepat, ncoba ngalihkan perhatiannya. Dia nggigit bibir bawahnya. "Maaf. Kurasa aku ngatakan sesuatu yang tidak berarti."
lihat ekspresinya yang lesu, dia bangkit dari tempat duduknya dan nyapu piring serta perkakas makan dari ja dengan lambaian tangannya, nyebabkan semuanya jatuh ke lantai.
"Datanglah ke kamar hari ini," perintahnya sambil natap Leah.
"..."
Matanya njadi gelap saat Blain berbalik dan pergi. Pelayan yang telah letakkan hidangan terakhir di atas ja langkah mundur tanpa suara, dan Leah natap hidangan di depannya, yang hampir tidak disentuhnya.
Waktu berlalu. Leah duduk dan nggigil, pikirannya layang. Begitu matahari benar-benar terbenam, salah seorang pelayan Blain datang njemputnya dari istananya.
Cuacanya cerah, tetapi sepanjang sore cuaca ndung, dan sekarang hujan turun di luar. Berjalan di bawah payung yang dipegang petugas, kaki Leah terasa seperti timah. Dia tidak ingin pergi. Dia tahu dia harus noleransi hal itu demi pria yang dicintainya, tetapi dia tidak bisa.
Begitu dia sampai di kamar Blain, dia bisa ndengar erangan itu. Petugas mbuka pintu, dan Leah masuk di bawah tatapan tajam Blain.
Reviews
All reviews (0)