Itu adalah hal paling kasar dan konyol yang pernah didengarnya. Namun, entah ngapa, Leah tidak bisa ncemooh kata-kata bodoh itu. Mata pria itu dipenuhi dengan gejolak emosi, dan semuanya ditujukan padanya. natap matanya seolah terhipnotis, dia baru saja ndapatkan kembali ketenangannya.
"Kurkan...?" gumamnya, rasa linglung. Pria tampan ini berkulit cokelat dan bermata cerah, ciri khas orang Kurkan.
Namun, dia tidak ngerti bagaimana seorang Kurkan bisa masuki istana dan kemudian datang ke tempat ini. Leah natapnya dengan curiga.
Tiba-tiba, dia ncengkeram tangannya, dan wanita itu njerit kaget, berusaha lepaskan diri dari cengkeramannya. Pria itu hanya nyipitkan matanya, natap tajam ke arah cincin di jarinya.
"Kurasa aku mulai panik," gerutunya getir, lalu lepaskan tangannya lalu luknya dengan satu tangan, gang payung di atas reka berdua.
Saat dia luknya, dia mbeku. Dia seharusnya ndorongnya, tetapi entah ngapa, dia tidak bisa bergerak. Tubuhnya sedingin es karena hujan, dan dia rasa sangat hangat. Bahkan kecemasannya pun langsung reda. Seolah-olah dia telah dibungkus selimut hangat, dan untuk sesaat, dia lupakan segalanya.
Ia terkejut saat nyadari bahwa ia baru saja lari ke tengah hujan karena tidak tahan dengan sentuhan tunangannya. Namun sekarang, dalam pelukan orang asing, ia benar-benar tenang.
Dengan cepat ia berusaha ndorong tubuhnya sekuat tenaga, tetapi ia tidak dapat nggerakkannya.
"Leah..." Dengan santai, dia ngucapkan nama pemberiannya. Sangat tidak sopan manggil seorang bangsawan dengan nama depannya tanpa izin. Namun sesaat kemudian, pria itu lakukan sesuatu yang lebih kurang ajar.
Tangan di pinggangnya bergerak naik untuk ncengkeram bagian belakang lehernya. Mata Leah terbuka lebar saat pria itu nciumnya.
Terkejut, dia mukul dada pria itu, tetapi pria itu malah nekan lebih keras, mbelai lidahnya ke dalam mulut wanita itu. Lidahnya luncur di atas gigi wanita itu, mbelai langit-langit mulutnya dengan sangat terampil sehingga terasa seolah-olah pria itu telah nciumnya seratus kali sebelumnya. Itu nyalakan kehangatan aneh di perut bagian bawahnya.
Saat dia tidak tahan lagi dan berpikir untuk nggigit lidahnya, dia njauh seolah-olah dia ndengar pikirannya. Sambil terengah-engah, Leah natapnya.
Suara hujan bergema di seluruh halaman. Ranting-ranting pohon bergoyang, dan kabut pun muncul. Jantungnya berdetak kencang. Dia tidak rasa jijik dengan sentuhan pria ini, jadi ngapa ini terjadi padanya dengan Blain?
Pandangan pria itu tertuju pada pipinya yang rah dan bengkak, tubuhnya yang basah oleh hujan, dan cincin kawin di jarinya.
"...Kau," katanya pelan. "Kau pasti berpikir lebih baik mati daripada nderita seperti ini."
Dia ingin mbantah kata-kata itu, tetapi dia tidak bisa. Suara hujan ngisi keheningan saat dia nunggu kata-katanya.
"Tapi seperti hari itu, saat kau takut akan kematianku..." Setiap kata dipenuhi dengan kesedihan, dan pria yang tampak lebih tegap dari apa pun di dunia ini entah bagaimana tampak rapuh di saat yang bersamaan. "Begitu juga denganku. Sejak aku kehilanganmu, tahukah kau apa yang kupikirkan?"
Mata emasnya sejenak dipenuhi amarah, tetapi niat mbunuh itu segera sirna. Bibirnya bergerak, lalu ia nutup mulutnya lagi. Sebaliknya, ia hanya ngusap rambutnya yang basah karena hujan dengan tangannya.
Leah biasanya tidak terpengaruh oleh rasa iba, tetapi ia ncoba mahami pria ini. Ada rasa sakit yang ndalam di hatinya, dan keinginan untuk nghiburnya, skipun ia bukanlah orang yang dicarinya.
"Kurasa kau telah lakukan kesalahan," katanya, lebih lembut dari biasanya. "Aku bertunangan dengan seseorang yang sudah lama kucintai. Kami akan segera nikah."
Ia tidak yakin, tetapi kedengarannya seperti pria ini telah kehilangan istrinya. Ia tidak dapat mbayangkan rasa sakit dari perpisahan seperti itu, tetapi ia bersimpati terhadap perasaan tersebut. Ia mutuskan untuk maafkannya.
Reviews
All reviews (0)