Font Size
15px

Morga berulang kali mujinya atas segala hal, mulai dari hafalannya akan denah rumit istana Estian hingga gambar petanya, dan segala hal lain yang telah diucapkannya dalam rapat itu.

"Aku juga ndengar bahwa kau njadikan Byun Gyeongbaek sebagai mata-matamu." Dia terkejut karena Byun Gyeongbaek berpikir untuk berbohong tentang efek ramuan itu.

Leah nggigit bibirnya, malu. Ia tidak terbiasa dengan pujian, dan saat pujian terus ngalir, Morga baru sadar belakangan.

"Belum siap, mohon tunggu sebentar."

Sambil naruh panci berisi air panas di atas tungku, ia mulai masukkan bahan-bahan yang berjejer rapi di dekatnya dengan hati-hati. Sebelum masukkannya ke dalam panci, ia nimbangnya di timbangan.

"Saya sedang mbuat ramuan. Sekarang adalah waktu yang tepat..." Entah ngapa, dia tampak sedikit tidak yakin. Saat dia nambahkan bahan terakhir ke dalam panci, dia njelaskan, "Tidak ada hukum yang nyatakan bahwa sihir akan berhasil. Itu berubah berdasarkan situasi. Bahkan jika bahan yang sama digunakan dalam ramuan, hasilnya dapat bervariasi karena posisi benda langit, atau keadaan penyihir, atau faktor lainnya."

Sambil ngamati periuk itu, ia njelaskan bahwa makin terampil tukang sihir itu, makin besar kemungkinan reka akan mperoleh hasil yang konsisten.

"Apakah ramuan cinta itu ada?" tanya Leah penasaran. ndengarkan penjelasannya ngingatkannya pada sesuatu.

"Secara teori, mang begitu," jawab Morga sambil ngaduk cairan dalam panci dengan spatula. "Tapi, tergantung siapa yang mbuat ramuannya, efeknya akan berbeda-beda. Karena ramuan cinta ncoba ngaruhi emosi...dalam kasusku, aku hanya bisa mbuat afrodisiak."

Namun, ramuan cinta yang dijual oleh keluarga Tomaris itu palsu. Setelah rasakan khasiat ramuan tersebut di masa lalu, Leah ndengarkan dengan tenang.

"Hanya penyihir dengan kekuatan besar yang bisa mbuat ramuan cinta sejati," jelas Morga. "Tapi penyihir dengan level seperti itu bisa mbuat apa saja." Sambil berhenti, ia ngambil beberapa buah elaeagnus dan nambahkannya ke dalam campuran itu lalu ngaduknya lagi. "Sepanjang sejarah, hanya ada satu penyihir sekuat itu."

"...Begitu ya." Leah rasa lega. Ia sedang mikirkan Cerdina.

"Apakah kau khawatir dengan Ratu?" Morga natapnya dengan saksama. Dia bisa lihat emosi di matanya.

Lea ragu-ragu.

"Kadang-kadang aku ndengar halusinasi pendengaran," akunya, ngakui hal yang tidak ingin dia katakan. "Aku bisa rasakan bahwa kita masih terhubung."

Dia terdiam, tetapi Morga ngerti maksudnya.

"Semoga gejala-gejala itu akan sedikit reda setelah upacara. Harap bertahan sedikit lebih lama."

Lea ngangguk perlahan.

"Jangan khawatir, Leah." Katanya tegas. "Kami akan lindungimu."

***

Mantra yang diucapkannya kali ini tidak sekuat sebelumnya, jadi Morga berkata dia tidak akan tidur selama berhari-hari, tetapi dia masih sangat lelah. Begitu dia kembali ke kamarnya, Leah tertidur. Dia terbangun karena rasakan seseorang di sampingnya luknya dan manggilnya dengan suara ngantuk.

"Ishakan..."

"Teruslah tidur, Leah," bisiknya.

Namun, dia tidak lihatnya selama lebih dari setengah hari, dan berbalik untuk berbicara dengannya. Rambutnya basah karena baru saja dicuci.

"Apa makanan yang kamu makan untuk makan malam?" tanyanya.

"Daging domba, dan beberapa hal lainnya...aku makan banyak. Para dayangku layaniku dengan sangat baik. Bagaimana denganmu?"

Namun alih-alih njawab, dia malah nyentuh tubuhnya, tangannya mbelai perutnya.

"Kau sepertinya tidak banyak makan," katanya. Tangannya yang besar gang bokongnya. "Kau harus segera milih gaun untuk pernikahan. Kau tidak akan bisa makainya karena tubuhmu sangat kurus."

"Saya akan ncoba makan lebih banyak."

Selama beberapa saat, reka mbicarakan tentang pernikahan, sampai dia teringat hal lain yang ingin ditanyakannya.

"Apakah aku akan hamil jika kita lakukan upacara ini?" Dia takut tubuhnya yang lemah tidak akan cukup kuat untuk ngandung anak, tetapi dia tidak mau ngakuinya bahkan kepadanya. Suaranya terdengar santai. "Aku hanya mintamu untuk mpersiapkan diriku secara ntal."

Ishakan natapnya sejenak sebelum njawab dengan terlambat.

"Jika kamu tidak mau, tidak usah."

Begitu dia ndengar jawabannya, dia tahu kebenarannya.

Wajahnya negang. Leah maksakan senyum di wajahnya, berusaha untuk tampak tidak peduli.

"...Aku tidak bisa hamil," bisiknya lembut.

You are reading Predatory Marriage : Leah & Raja Kurkan Chapter 174: Dia Tidak Bisa Hamil on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Abandoned Woman Busy Farming cover
Similar genre

Abandoned Woman Busy Farming

Qingka ·Romance

Thecharmoffarminglifeinspringtimeisprofound. Transmigratedintothelifeofapregnantabandonedwife,BaiRuozhuresolvedtoliveofftheland,thewater,andthespac...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.