Ishakan terus ngejutkannya. Bibirnya bergerak tanpa suara, tidak mampu ngucapkan kata-kata, dan ia pun kehilangan arah sehingga ia ncoba dan gagal beberapa kali untuk nemukan sesuatu yang masuk akal. Akhirnya, ia ngajukan pertanyaan.
"...Kau akan njadikanku Ratu Estia?"
Berbeda dengan pertanyaannya yang ragu-ragu, jawabannya tegas.
"Ya. Ini hadiah pernikahan, Leah." Ishakan telah mutuskan sejak awal bahwa ia akan mberikan negara itu kepadanya. Ia telah ninggalkan Estia, tetapi cintanya pada negaranya belum hilang. Bahkan jika keluarga kerajaan telah jatuh, ia tidak ingin rakyatnya nderita.
Itulah sebabnya dia bekerja sama sepenuhnya dengan penaklukan reka. Perintahan Kurkan akan lebih baik bagi rakyatnya daripada tirani di bawah Blain, Cerdina, atau Byun Gyeongbaek. Setidaknya dengan cara ini, dia miliki pengaruh terhadap hasilnya. Dia percaya bahwa ini akan njadi skenario terbaik bagi Estia.
Namun rencana Ishakan jauh lampaui apa yang dibayangkan Leah. Masih terpaku karena terkejut, ia natap orang-orang Kurkan. Tak seorang pun tampak terkejut. Akhirnya ia berbicara lagi, dengan sedikit kesulitan.
"Tapi Byun Gyeongbaek adalah hadiah..."
"Itu hanya perhiasan."
"..."
"Kau tidak nyukainya?" Ishakan noleh ke arahnya, letakkan satu siku di atas ja dan nopang dagunya dengan tangannya. "Jika kau mau, aku akan ngambilkan sesuatu yang lain sebagai gantinya."
Leah segera nggelengkan kepalanya, jantungnya berdebar kencang, dan dia tertawa.
"Sudah kubilang aku akan mberikan apa pun yang kau inginkan."
Sungguh, tidak ada batas saat dia ngatakan 'apa saja'.
Mata emasnya begitu cerlang, dan dia rasakan pipinya manas. Dengan cepat, dia nundukkan kepalanya untuk nyembunyikan rona rahnya di balik rambut peraknya.
Pada saat itu, dia benar-benar mahami pria yang akan dinikahinya.
***
Rapat tetap berlanjut, tetapi karena Leah kesulitan berkonsentrasi, ia mutuskan untuk pergi. Sebagian karena ia malu karena Ishakan mbuatnya tersipu, tetapi jantungnya juga berdebar kencang, ia yakin semua orang di ruang konferensi dapat ndengarnya.
Di luar pintu, dia ndapati Haban dan Mura tengah berbincang. Ada perbedaan ncolok antara Haban yang muram dan Mura yang sombong. Haban tampak seolah-olah lihat Leah telah nghidupkannya kembali.
"Lea!"
Secara otomatis, Leah lihat sekeliling ncari Genin, dan Haban tersenyum.
"Genin libur hari ini. Tapi jangan khawatir, hanya aku yang bisa layani Ishakan dengan sempurna."
Tampaknya dia ingin Leah segera mbawa Mura pergi, tetapi ada penyesalan di matanya saat Mura pergi. Perpisahan Mura sangat sempurna.
"Semoga beruntung, Haban."
"...Sampai jumpa nanti, Mura."
Mata Haban dipenuhi perasaan yang masih terpendam. reka tampak seperti pasangan yang narik. Jika ada waktu, Leah ingin bertanya kepada reka bagaimana reka bertemu dan nikah.
***
Setelah istirahat dan makan malam, Leah nuju ke aula untuk nemui Morga. Begitu masuki aula, ia nyadari bahwa dayang-dayangnya tampaknya tidak nyukai Morga. Ia tidak tahu ngapa, tetapi skipun reka selalu berusaha dekat dengan Leah, saat ia berbicara dengan Morga, reka lebih suka njauh. ninggalkan reka di pintu, ia ndekati sang penyihir.
Aula itu lebih kacau daripada kunjungan terakhirnya. Pola sihir di lantai lebih besar, dan di salah satu sudut aula berbagai benda terkumpul. Di tempat yang tadinya hanya ada satu tungku besar, kini ada delapan tungku yang ngelilingi pola sihir itu. Tungku-tungku itu dipenuhi ranting dan daun, dan ngeluarkan aroma tembakau yang sering dihisap Ishakan.
Jika ada perbedaan lain, perbedaannya adalah bahwa terakhir kali ada banyak penyihir yang hadir, tetapi kali ini hanya ada Morga. Berdiri sendirian di tengah aula, dia natap peta konstelasi zodiak dengan saksama.
"Aries dan Leo..." gumamnya dengan ekspresi serius. "Tidak, Scorpio..."
Dia berkonsentrasi penuh, dia tidak ndongak sampai Leah berada tepat di depannya.
"Kau sudah datang." Dia nyapanya dengan penuh kegembiraan. "Semua orang terkesima selama sidang militer."
Reviews
All reviews (0)