Peace Hunter Chapter 468 : Peralatan Dwarf

Novel: Peace Hunter Author: Rizdhan Updated:
Font Size
15px

Setelah suara nona Maiden nghilang, suasana di ruangan itu pun njadi hening. Tetapi keheningan yang terjadi di ruangan itu hanya sesaat, tidak lama kemudian nona Laviena pun mulai berbicara untuk cah keheningan di ruangan tersebut.

"Sepertinya nona Maiden sudah ngakhiri komunikasinya. Aku tidak nyangka kalau beliau akan nolak untuk rekrut Rid Archie. Yah seperti kata beliau tadi, rekrut Rid Archie sepertinya akan mbuang cukup banyak waktu walaupun aku sendiri yang pergi untuk rekrutnya. skipun aku belum pernah rasakan kekuatan Rid Archie secara langsung, tetapi jika berdasarkan informasi sebelumnya dimana Rid Archie bisa ngatasi Duke yang njadi dalang utama dalam insiden penyerangan di kerajaan ini sedangkan nona Ratu yang rupakan penyihir terkuat di kerajaan ini saja tidak bisa, maka bisa aku asumsikan kalau ngalahkannya dan rekrutnya secara paksa akan sedikit sulit,"

"Maka dari itu nona Maiden yang sudah ndengar percakapan di ruangan ini sebelumnya nolak untuk rekrut Rid Archie karena beliau tahu akan makan waktu lama untuk rekrutnya. Apalagi beliau ingin kita lekas kembali ke Holy Kingdom setelah tugas yang diberikan oleh beliau di kerajaan ini telah diselesaikan. Dan juga beliau bilang kalau beliau akan mberikan tugas baru kepadaku setelah aku kembali ke Holy Kingdom. Sepertinya aku tidak diberikan waktu untuk istirahat sedikitpun," ucap nona Laviena dengan ekspresi yang sedikit ngeluh.

Sentara itu, setelah nona Laviena selesai berbicara, kini giliran Remia yang berbicara.

"Daripada itu, nona, kenapa bisa ada suara nona Maiden di ruangan ini? Lalu beliau juga sebelumnya bilang kalau beliau telah ndengar seluruh percakapan yang terjadi di ruangan ini, apa jangan-jangan anda nggunakan ’alat itu’?," tanya Remia

"Iya, itu benar. Aku nggunakan ’alat itu’, itu karena nona Maiden yang rintahkanku untuk ngaktifkan ’alat itu’," ucap nona Laviena.

"Nona Maiden yang rintahkan anda lakukan itu?," tanya Remia.

"Iya. Semalam ketika kita beristirahat di gereja Sancta Lux yang ada di kota dekat pelabuhan tempat kita berlabuh, nona Maiden tiba-tiba nghubungiku. Beliau bilang kalau beliau ingin ndengarkan secara langsung diskusi yang terjadi antara kita dengan para pemimpin kerajaan ini," ucap nona Laviena.

"Begitu ya. Lalu sejak kapan anda ngaktifkan alat itu?," tanya Remia.

"Sejak kita mau masuk ke ruangan ini. Aku ngaktifkan ’alat itu’ lalu naruh ’alat itu’ di saku pakaianku. Sebelumnya ketika kita sedang berdiskusi di ruangan ini lalu kita nyinggung nona Maiden, aku beberapa kali lihat dan mperhatikan saku pakaianku, apa kamu tidak nyadarinya?," tanya nona Laviena.

"Saya mang beberapa kali lihat anda yang sedang lihat ke arah saku pakaian anda, namun saya pikir anda lakukan itu tanpa alasan tertentu" ucap Remia.

"Aku lakukan itu bukan tanpa alasan, karena setiap kita nyinggung nona Maiden, pasti nona Maiden ndengar perkataan kita lewat ’alat’ yang ada di saku pakaianku. Makanya aku selalu lihat ke arah saku pakaianku setiap kita nyinggung beliau," ucap nona Laviena.

"Begitu ya, jadi itu alasannya," ucap Remia.

Sentara itu, Ratu Kayana yang kebetulan ndengar pembicaraan antara nona Laviena dan Remia terlihat tertarik dengan pembicaraan reka. Ratu Kayana pun mulai berbicara dengan reka.

"Maaf ngganggu pembicaraan anda, nona komandan. Barusan saya ndengar kalau suara nona Holy Maiden keluar dari suatu alat yang ada di saku pakaian anda. Apa itu berarti nona Holy Maiden aslinya mang tidak ada disini?," tanya Ratu Kayana.

"Ya, itu benar, nona Ratu. Ketika berbicara tadi, nona Maiden sedang berada di Holy Kingdom. Beliau berbicara dari sana lewat alat yang ada di saku pakaian saya. Begitupun juga ketika beliau ndengar seluruh percakapan yang terjadi di ruangan ini," ucap nona Laviena.

"Begitu ya. Awalnya kami terkejut ketika ndengar suara nona Holy Maiden, karena yang ada hanyalah suara beliau saja, sentara wujudnya tidak ada. Jika sebelum nona Holy Maiden berbicara muncul sebuah cahaya dari saku pakaian anda, maka setidaknya kami tahu kalau beliau berbicara dengan nggunakan kristal komunikasi. Tetapi saat beliau berbicara, tidak ada tanda-tanda kalau beliau berbicara dengan nggunakan kristal komunikasi. Maka dari itu kami terkejut ketika ndengar suara beliau yang tiba-tiba muncul," ucap Ratu Kayana.

"Saya paham kalau kalian terkejut setelah ndengar suara nona Maiden yang tiba-tiba muncul. Saya pun juga terkejut karena beliau tiba-tiba berbicara, padahal awalnya beliau bilang kalau beliau hanya mau ndengarkan saja," ucap nona Laviena.

Setelah nona Laviena selesai berbicara, Ratu Kayana pun berbicara kembali.

"Ngomong-ngomong, nona komandan, alat yang ada di saku anda yang digunakan nona Maiden untuk berbicara itu alat apa? Apa alat itu sejenis dengan kristal komunikasi?," tanya Ratu Kayana.

"Ya, alat yang ada di saku pakaian saya sejenis dengan kristal komunikasi. Bisa dibilang alat ini rupakan versi upgrade dari kristal komunikasi," ucap nona Laviena.

Ratu Kayana sedikit terkejut setelah ndengar perkataan nona Laviena.

"Versi upgrade dari kristal komunikasi?," tanya Ratu Kayana.

"Anda tahu kan kalau kristal komunikasi biasanya ngeluarkan cahaya terang ketika ada seseorang yang ingin nghubungi si pemilik kristal komunikasi. Bahkan ketika si pemilik kristal komunikasi njawab panggilan dari orang yang nghubunginya, cahaya terang itu masih muncul dari kristal komunikasi skipun tidak seterang saat sebelum panggilannya dijawab,"

"Berbeda dengan kristal komunikasi, alat yang ada di saku pakaian saya ini tidak ngeluarkan sinar terang ketika ada yang ingin nghubungi saya yang rupakan pemilik alat ini. Karena tidak ngeluarkan sinar terang, alat ini pun juga tidak bersinar ketika saya njawab panggilan dari orang yang nghubungi saya," ucap nona Laviena.

"Jika alat yang ada di saku pakaian anda tidak bersinar terang ketika ada yang nghubungi anda, bagaimana anda bisa ngetahui kalau ada orang yang ingin nghubungi anda lewat alat itu?," tanya Ratu Kayana.

"Jika alat ini berada di dekat tubuh, seperti di saku pakaian saya saat ini, alat ini akan ngeluarkan Mana yang bisa dirasakan oleh pemilik alat ini. Jika alat ini ngeluarkan Mana, maka bisa dipastikan ada seseorang yang sedang nghubungi lewat alat ini,"

"Namun Mana yang keluar dari alat ini tidak bisa dirasakan apabila alat ini berada jauh dari tubuh pemiliknya. Seperti contohnya ketika say naruh alat ini di tempat anda berada, sentara saya tetap berdiri disini, saya tidak bisa rasakan Mana dari alat ini apabila ada seseorang yang ingin nghubungi. Jadi alat ini benar-benar harus berada di dekat tubuh pemiliknya agar Mana yang keluar dari alat ini bisa dirasakan,"

"Bisa dibilang hal ini rupakan kelemahan dari alat ini karena alat ini harus selalu berada di dekat tubuh pemiliknya agar jika ada seseorang yang ingin nghubungi lewat alat ini, pemiliknya bisa ngetahuinya,"

"ski begitu, keunggulan alat ini cukup banyak. Dibandingkan kristal komunikasi yang harus diletakkan di dekat mulut agar suara kita dapat terdengar oleh orang yang nghubungi kita, alat ini mpunyai jangkauan yang cukup jauh dari kristal komunikasi agar suara kita dapat terdengar. Sebagai contoh, alat ini sejak tadi saya letakkan di saku pakaian saya, tetapi tadi nona Maiden bilang kalau beliau bahkan telah ndengar seluruh percakapan yang terjadi di ruangan ini. Ini njadi bukti kalau alat ini tidak perlu berada dekat dengan mulut agar suara kita terdengar saat berbicara

"Selain itu, alat ini juga bisa ngatur volu suara yang ingin didengarkan. Jika kita sedang nghubungi seseorang secara diam-diam, kita bisa nurunkan volu suara orang yang sedang kita hubungi agar tidak terdengar oleh orang lain," ucap nona Laviena.

Sentara itu, nona Karina yang juga sedang ndengar perkataan nona Laviena terlihat sedang mikirkan sesuatu.

"Alat yang dibicarakan oleh nona komandan itu terdengar mirip dengan alat perekam yang aku punya yang dulu aku pinjamkan kepada Rid yang pada akhirnya berhasil nguak kejahatan tuan Duke Jas dan tuan Duke Darwin. Jadi bisa dibilang alat itu mungkin rupakan versi kristal komunikasi dari alat perekam itu,"

"Alat perekam yang aku punya rupakan alat ciptaan para Dwarf, apa mungkin alat yang digunakan oleh nona komandan itu juga diciptakan oleh reka? Tetapi aku tidak pernah ndengar kalau reka mbuat alat seperti itu, apa itu rupakan alat baru?," pikir nona Karina.

Setelah ndengar perkataan nona Laviena, Ratu Kayana pun kembali berbicara.

"Begitu ya. Alat yang anda gunakan kelihatannya benar-benar hebat. Alat itu bisa digunakan untuk berkomunikasi secara diam-diam karena alat itu tidak ngeluarkan sinar terang sedikitpun ketika digunakan. Bahkan alat itu juga bisa ngatur volu suara orang yang sedang kita hubungi," ucap Ratu Kayana.

"Iya, alat ini benar-benar hebat. Seperti yang diharapkan dari ras Dwarf, reka sangat ahli mbuat sesuatu yang ncengangkan," ucap nona Laviena sambil noleh ke arah Alexis.

Alexis yang kebetulan juga sedang lihat nona Laviena yang tiba-tiba noleh ke arahnya pun langsung nanggapinya.

"mbuat berbagai macam sesuatu yang ncengangkan mang rupakan kebanggaan dari ras kami," ucap Alexis.

Nona Laviena hanya diam saja sambil sedikit tersenyum ke arah Alexis. Setelah itu, nona Laviena kembali noleh ke arah Ratu Kayana.

"Jadi alat yang anda gunakan itu rupakan alat buatan ras Dwarf? Tidak ngherankan kalau alat itu rupakan alat yang hebat. Apa anda mbeli alat itu langsung dari kerajaan Dwarf?," tanya Ratu Kayana.

"Tidak, saya tidak mbelinya sendiri, lainkan Holy Kingdom sendirilah yang mbeli sejumlah alat ini dari kerajaan Dwarf. Bisa dibilang alat ini rupakan salah satu produk yang dibeli Holy Kingdom dari kerajaan Dwarf," ucap nona Laviena.

"Begitu ya," ucap Ratu Kayana.

Setelah ndengar perkataan Ratu Kayana, nona Laviena pun ngatakan sesuatu kepada Ratu Kayana.

"Sepertinya anda tertarik untuk mbeli alat ini, nona Ratu. Karena sejak tadi anda terus nanyakan tentang alat ini. Namun sayangnya sepertinya anda tidak bisa mbeli alat ini dalam waktu dekat karena dari yang saya dengar, alat ini rupakan alat yang baru dibuat, jadi jumlahnya tidak banyak. Alat ini mungkin tidak akan sembarangan diperjualkan ke kerajaan lain atau ke orang lain karena jumlah alat ini belum lah banyak. Alasan Holy Kingdom bisa mbeli alat ini lebih dulu karena hubungan Holy Kingdom dengan kerajaan Dwarf sangatlah baik. Itu karena Holy Kingdom sering lakukan pembelian barang ke kerajaan Dwarf," ucap nona Laviena.

"Begitu ya, sayang sekali. Padahal saya berniat ingin mbeli beberapa alat itu dari kerajaan Dwarf," ucap Ratu Kayana.

"Anda harus nunggu sampai jumlah alat itu njadi banyak terlebih dahulu atau mungkin anda bisa langsung sannya terlebih dahulu jika anda atau kerajaan anda miliki hubungan yang baik dengan kerajaan Dwarf. Jika anda miliki hubungan baik dengan reka, pesanan anda akan diprioritaskan dan anda akan ndapatkan alat itu lebih cepat dari yang lainnya," ucap nona Laviena.

"Begitu ya, terima kasih atas sarannya, nona komandan," ucap Ratu Kayana.

"Iya, sama-sama, nona Ratu,"

"Ah, sepertinya saya telah berbicara terlalu banyak, saya sampai lupa kalau saya harus segera kembali ke Holy Kingdom karena tugas yang diberikan oleh nona Maiden sudah selesai. Tetapi sebelum itu, nona Ratu, tentang insiden pembunuhan kedua High Priest di kerajaan ini, anda maunya bagaimana? Saya tidak keberatan apabila anda mberitakan tentang saya yang telah mbunuh 2 orang High Priest, asalkan anda tidak mberitakan tentang Rid Archie yang mbunuh High Priest itu," ucap nona Laviena.

Ratu Kayana pun terdiam sesaat setelah ndengar perkataan nona Laviena. Tidak lama kemudian, dia pun mulai berbicara kembali.

"Saya mutuskan untuk tidak mberitakan pembunuhan High Priest baik yang dilakukan oleh anda maupun Rid Archie. skipun anda bilang kalau anda tidak keberatan apabila saya mberitakan tentang anda yang mbunuh High Priest, tetapi jika anda yang rupakan salah satu komandan Holy Knights muncul di surat kabar yang beredar di kerajaan ini, semua orang yang ada di kerajaan ini tentunya akan heboh. Saya tidak mau mbuat orang-orang di kerajaan ini njadi heboh, apalagi kerajaan ini belum pulih total setelah terjadinya insiden penyerangan," ucap Ratu Kayana.

"Ya sudah jika anda maunya seperti itu. Kalau begitu keperluan saya disini sudah selesai. Saya akan segera pergi dari sini. Tetapi sebelum itu....," ucap nona Laviena.

Setelah ngatakan itu, nona Laviena lalu lihat ke arah kristal komunikasi yang masih dia pegang di tangannya. Kristal komunikasi itu masih ngeluarkan cahaya yang cukup terang.

"....Rid Archie, aku tahu kalau kamu masih ndengarkan," ucap nona Laviena.

Kristal komunikasi yang dipegang oleh nona Laviena hanya diam saja tanpa ngeluarkan suara sedikitpun. ski begitu, nona Laviena terus lanjutkan perkataannya.

"Sayang sekali kita batal untuk bertarung, Rid Archie. Ini karena nona Maiden mintaku untuk segera kembali ke Holy Kingdom. Padahal aku sudah cukup antusias untuk bertarung denganmu sekaligus bertemu denganmu secara langsung. Aku benar-benar penasaran dengan dirimu karena aku yakin kalau kamu itu kuat, kamu bahkan tidak rasa takut ketika berbicara denganku,"

"Namun ski kita gagal untuk bertemu kali ini, tetapi aku yakin kalau kita akan bertemu lagi suatu saat nanti. Jika kita bertemu lagi suatu saat nanti, aku pasti akan nantangmu untuk bertarung lagi. Aku akan ngalahkanmu lalu rekrutmu untuk njadi anak buahku," ucap nona Laviena.

Setelah ngatakan itu, nona Laviena lalu nggenggam kristal komunikasi yang dipegangnya itu hingga pecah dan hancur berkeping-keping. Pecahan kristal komunikasi itu pun langsung berjatuhan ke lantai. Cahaya yang keluar dari kristal komunikasi itu pun langsung redup setelah kristal komunikasi itu hancur.

Ketika nona Laviena sedang nggenggam kristal komunikasi itu hingga hancur, orang-orang yang ada di ruangan itu rasakan kalau tekanan udara di ruangan itu tiba-tiba njadi berat. Orang-orang itu pun langsung gangi leher reka karena reka kembali rasa kesulitan bernafas.

"Tekanan aura lagi?!," pikir Duchess Arlet.

Tetapi kesulitan bernafas yang reka rasakan hanya sebentar saja karena tekanan udara di ruangan itu yang sebelumnya njadi berat secara perlahan mulai kembali normal. Setelah tekanan udara di ruangan itu kembali njadi normal, semua orang yang ada di ruangan itu pun berhenti gangi leher reka. ski begitu beberapa di antara reka masih terkejut karena munculnya tekanan aura yang hanya sebentar itu.

Lalu, setelah nghancurkan kristal komunikasi yang dipegangnya, nona Laviena lalu njatuhkan pecahan-pecahan kristal komunikasi yang ada di masih ada di tangannya itu ke lantai. Setelah itu, nona Laviena pun mulai berbicara kembali.

"Keperluan saya di tempat ini sudah selesai. Kalau begitu, saya izin untuk pamit dulu, nona Ratu," ucap nona Laviena.

Ratu Kayana terlihat masih sedikit terkejut karena dia juga rasakan tekanan aura yang sebelumnya tiba-tiba muncul. ski begitu, Ratu Kayana tetap nanggapi perkataan nona Laviena.

"....Iya, hati-hati di jalan, nona komandan," ucap Ratu Kayana.

"Terima kasih, nona Ratu. Kalau begitu saya pergi dulu," ucap nona Laviena.

Nona Laviena lalu berbalik badan dan secara perlahan mulai langkah pergi untuk ninggalkan ruangan itu. Tetapi baru beberapa langkah nona Laviena berjalan, nona Laviena tiba-tiba kembali berbicara.

"Ah benar juga, soal semua orang yang tergeletak di istana ini akibat terkena kekuatan saya, kalian tidak perlu khawatir. reka akan bangun kembali sekitar 5 atau 10 nit lagi. Jadi kalian tunggu saja sampai reka semua bangun," ucap nona Laviena.

Nona Laviena ngatakan itu tanpa berbalik badan dan lihat ke arah Ratu Kayana dan yang lainnya. Ratu Kayana dan yang lainnya pun hanya diam saja tanpa nanggapi perkataan nona Laviena.

Lalu setelah nona Laviena ngatakan itu, nona Laviena pun kembali lanjutkan langkahnya untuk pergi ninggalkan ruangan itu. Remia, Willa dan Alexis pun juga ikut langkah untuk pergi ninggalkan ruangan itu. reka bertiga kini berjalan di belakang nona Laviena.

Nona Laviena dan yang lainnya pun kini sudah mau ndekati pintu keluar ruangan itu. Ketika nona Laviena dan yang lainnya sedang berjalan ndekati pintu keluar ruangan itu, nona Laviena tiba-tiba berbicara kembali.

"Alexis, perintahkan para Priest itu untuk mbawa jasad Theodor. Sekaligus perintahkan para Priest yang ada di istana ini untuk kembali," ucap nona Laviena kepada Alexis.

"Baik," ucap Alexis.

Setelah ngatakan itu, Alexis lalu noleh ke arah para Priest yang sebelumnya ikut bersama High Priest Theodor untuk datang ke ruangan itu. Beberapa dari reka terlihat masih tergeletak tidak sadarkan diri karena terkena efek dari tekanan aura yang dikeluarkan oleh nona Laviena sebelumnya. Sentara reka yang masih tersadar terlihat sedang ngurus beberapa Priest yang masih tergeletak dan beberapa sisanya sedang ngurus jasad High Priest Theodor.

"Kalian semua, segeralah kembali ke gereja. Bawa rekan-rekan kalian yang tergeletak dan juga jasad Theodor," ucap Alexis.

Para Priest yang sebelumnya sibuk dengan urusan reka masing-masing pun langsung noleh ke arah Alexis setelah Alexis selesai berbicara.

"Baik, tuan Holy Priest," ucap para Priest itu.

Setelah itu, para Priest itu pun langsung ngangkat atau ngendong rekan-rekan reka yang tergeletak dan juga jasad High Priest Theodor. Setelah itu, reka langsung bergerak pergi nyusul nona Laviena dan yang lainnya yang saat ini sudah berada di pintu keluar ruangan itu. Nona Laviena dan yang lainnya yang sudah berada di pintu keluar ruangan itu pun terus lanjutkan langkah reka untuk pergi dari sana. Tidak lama kemudian, nona Laviena dan yang lainnya beserta para Priest itu pun telah pergi ninggalkan ruangan itu.

-

Sentara itu, di halaman depan kediaman Duke Louis, tempat Rid berada.

Ketika aku sebelumnya sedang ndengarkan perkataan salah satu komandan Holy Knights yang bernama Laviena, tiba-tiba kristal komunikasi yang aku pegang terputus. Itu karena cahaya yang bersinar cukup terang yang biasanya muncul ketika sedang nggunakan kristal komunikasi tiba-tiba nghilang.

"Kristal komunikasinya terputus. Sepertinya komandan Holy Knights itu sendiri yang mutuskan untuk ngakhiri komunikasi ini," pikirku.

Setelah itu, aku pun terdiam sambil terus mikirkan apa yang terjadi sebelumnya.

"Aku sedikit tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan dari kristal komunikasi tadi. Aku ndengar kalau High Priest Theodor telah dibunuh oleh komandan Holy Knights itu. Selain itu, aku tidak nyangka kalau pemimpin tertinggi Holy Kingdom yang juga rupakan pemimpin Holy Knights dan juga gereja Sancta Lux akan muncul. reka tadi nyebutnya dengan nama ’nona Holy Maiden’. Itu berarti pemimpin Holy Kingdom rupakan seorang wanita," pikirku.

Aku terus mikirkan apa yang sebelumnya aku dengar dari kristal komunikasi. Namun ketika aku sedang mikirkan hal itu, tiba-tiba ada seseorang yang lukku dari belakang. Aku pun sedikit terkejut ketika ngetahui hal itu. Aku sontak langsung noleh ke belakang untuk lihat siapa yang lukku.

Ketika aku noleh, aku lihat kalau Irene lah yang sedang lukku.

"Irene, kenapa kamu tiba-tiba lukku?," tanyaku.

Irene tidak njawab pertanyaanku sama sekali setelah aku nanyakan hal itu. ski Irene tidak njawab, Irene masih terus lukku.

"Irene?," tanyaku.

Karena Irene tidak njawab pertanyaanku, aku pun mutuskan hanya diam saja sambil terus lihatnya yang sedang lukku. Ketika aku lihat Irene, aku nyadari kalau Irene terlihat pucat. Irene juga kelihatan lemas, terlihat dari caranya narik nafas dengan pelan-pelan. Setelah nyadari hal itu, aku pun kembali bertanya kepada Irene.

"Apa yang terjadi, Irene? Kenapa kamu kelihatan lemas?," tanyaku.

Setelah aku nanyakan itu, Irene tetap tidak njawab pertanyaanku seperti sebelumnya.

"Irene?," tanyaku lagi.

Irene masih tetap tidak njawab pertanyaanku. Tetapi tidak lama kemudian, Irene pun mulai berbicara.

"Rid....," ucap Irene.

Irene berbicara dengan pelan dan terdengar seperti terbata-bata, persis seperti orang yang sedang lemas.

"Apa yang terjadi kepadamu, Irene?," tanyaku.

"Awalnya aku...ingin rahasiakan.....hal ini, tetapi...sepertinya aku.....harus mberitahumu.....tentang sesuatu...yang tidak.....bisa kamu.....kendalikan," ucap Irene.

Aku sedikit bingung dengan apa yang dikatakan oleh Irene.

"Sesuatu yang tidak bisa aku kendalikan? Apa maksudmu, Irene?," tanyaku.

"Lihat.....sekelilingmu, Rid," ucap Irene.

"Sekelilingku?," tanyaku.

Setelah itu, aku lalu lihat ke sekelilingku seperti yang dikatakan oleh Irene. Setelah aku lihat ke sekelilingku, aku pun langsung terkejut. Itu karena aku lihat semua orang yang ada di halaman depan kediaman Duke Louis telah tergeletak dan tidak sadarkan diri. Bahkan nona Elsie, Leandra, Lily dan juga senior Nadine juga tergeletak dan tidak sadarkan diri.

"Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa reka semua tidak sadarkan diri?," tanyaku.

"reka tidak.....sadarkan diri...karena perbuatanmu, Rid," ucap Irene.

"Perbuatanku?," ucapku yang masih terkejut.

-Bersambung

You are reading Peace Hunter Chapter 468 : Peralatan Dwarf on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Elven Invasion cover
Similar genre

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.